Barty Ikuti Jejak Legenda Goolagong

Penulis: Despian Nurhidayat Pada: Selasa, 25 Jun 2019, 05:30 WIB Olahraga
Barty Ikuti Jejak Legenda Goolagong

Paul ELLIS / AFP
Petenis Australia Ashleigh Barty berpose dengan trofi juara turnamen Birmingham Classic 2019.

PUBLIK Australia kian membicarakan bersinarnya petenis Ashleigh Barty. Dua pekan lalu, petenis berusia 23 tahun tersebut secara mengejutkan meraih gelar juara grand slam Prancis Terbuka 2019.

Saat itu, Barty yang menjadi unggulan kedelapan menumbangkan petenis Republik Ceko Marketa Vondrouova dengan skor  6–1 dan 6–3. Dengan kemenangan tersebut, Barty meraih gelar perdana turnamen grand slam lapang­an  tanah liat.

Hanya selang dua pekan, Barty kembali diperbincangkan setelah meraih gelar turnamen lapangan rumput Birmingham Classic 2019 di Birmingham, Inggris,  Minggu (23/6).

Di babak final Birmingham Classic atau Nature Valley Classic, Barty yang pernah menjuarai turnamen grand slam Wimbledon Junior 2011 mengalahkan Julia Gorges dari Jerman dengan skor 6-3 dan 7-5.  

Dengan kemenangan dua gelar berturut-turut, rangking petenis dari ‘Negeri Kanguru’ itu langsung melesat menjadi petenis nomor satu dunia sekaligus menggeser Naomi Osaka dari Jepang.  

Barty yang menembus rangking satu dunia telah menjadi petenis putri Australia pertama sejak legenda tenis putri Australia Evonne Goolagong sejak 1976.

Barty tidak menduga  

Saat menerima trofi juara Birmingham Classic 2019, Barty tampak sedikit canggung. “Saya tak bisa mengatakan apa pun saat ini,” ucap Barty sambil memegang trofi.  

Dalam perjalanan karier tenisnya, Barty bukan dari keluarga atlet. Namun, ia mulai menekuni tenis dan cabang olahraga kriket sejak kecil.

Pada usia 15 tahun, prestasi tenis Barty terus menanjak. Pada 2011, dia mengikuti turnamen grand slam Prancis Junior. Akan tetapi, langkah Barty terhenti di babak kedua.

Barty mencoba untuk mengikuti grand slam Wimbledon Junior 2011. Tanpa diduga di turnamen grand slam lapangan rumput  remaja, dia meraih trofi juara.

Sayangnya, perjalanan karier Barty meredup. Pada akhir 2014, seiring prestasi yang terus merosot, dia pun kembali menekuni olahraga kriket. Dua tahun kemudian atau tepatnya 2014, dia kembali menekuni cabang tenis.

“Ini seperti angin puyuh dalam beberapa pekan terakhir buat saya, sekaligus tahun yang penuh perubahan, tetapi untuk dapat mengikuti jejak kaki Evonne ialah hal luar biasa,” papar Barty.

“Saya selalu memimpikan ini (menjadi petenis nomor satu dunia) sejak saat saya masih kecil, tetapi ini akhirnya menjadi kenyataan,” jelas Barty yang juga diunggulkan untuk merebut turnamen grand slam lapangan rumput Wimbledon 2019.

Sementara itu, turnamen grand slam Wimbledon 2019 telah dimulai pekan depan atau mulai Senin (1/7) mendatang.

Di sektor putri, juara bertahan Wimbledon 2018, Angelique Kerber dari Jerman, masih diunggulkan. Namun, petenis rangking lima dunia tersebut gagal meraih gelar turnamen lapangan rumput Mallorca Terbuka 2019. Kerber dikalahkan Belinda Bencic dari Swiss dengan skor 6-2, 7-6 (7/2), dan 6-4 di babak semifinal. (AFP/R-3) 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More