Selasa 25 Juni 2019, 05:30 WIB

Alunan Romantisme Schumann di Ibu Kota

Tosiani | Weekend
Alunan Romantisme Schumann di Ibu Kota

MI/Tosiani
Pertunjukan karya komposer Robert Schumann oleh Jakarta City Philharmonic, Rabu (19/6)

Ratusan pengunjung di lantai satu, dua dan tiga Gedung Teater Ismail Marzuki (TIM) Cikini, Jakarta terdiam saat orkestra kebanggaan Ibu Kota, Jakarta City Philharmonic (JCP), memainkan Indonesia Raya, pada Rabu (19/6) malam. Lagu kebangsaan tersebut sekaligus membuka konser JCP edisi#21 yang mengambil tema Schummaniade.

Schummaniade mengacu pada salah satu komposer Eropa Barat terpenting era romantik, yakni Robert Schumann. Akhiran iade berasal dari istilah Schubertiade, bermakna perkumpulan penggemar musik Franz Schubert. Dengan demikian Schumanniade berarti pementasan karya-karya Schumann.

Dalam konser tersebut, Budi Utomo Prabowo tampil sebagai Conductor atau pengaba, dan Pianist Harimada Kusuma pada, well, piano.

Sebelum konser digelar, penonton terlebih dulu diajak menyimak sekilas kehidupan komposer klasik Robert Schumann dan istrinya, Clara, yang juga seorang pianis. Kisah mereka disampaikan lewat perbincangan musikolog Aditya Setyadi dengan pemandu sesi preconcert, Eric Awuy.

Sebelum masuk pada musik Robert Schumann, orkes kota memainkan lagu-lagu dari komposer nasional, Mochtar Embut. Satu demi satu, lagu-lagunya Seperti Getuk Lindri, The Spired Roof House (Rumah Gadang), Mount Merapi, dan Mr. Prawira's Familly.
Memasuki acara inti, mengalun musik Robert Schummann, Konserto Piano dalam a minor Op. 54 oleh pianis Harimada Kusumo. Diawali dengan hentakan oleh timpani dan strings, JCP kemudian memainkan bagian pertama dari konserto piano satu-satunya oleh Schummann tersebut, Allegro Affettuoso.

Bagian pertama yang berlangsung kurang lebih 14 menit tersebut kemudian disusul bagian dua dan tiga dari konserto, Intermezzo: Andantino grazioso, serta Allegro Vivace. Konserto ini menuntut teknik permainan piano yang tinggi. Seluruhnya tunduk pada kerangka tema dan kejelasan struktural baku. Konserto dibuka dengan introduksi dramatik bagaikan jeram. Tema pertama, yang oleh Musikolog Michael Rodman disebut 'padat akan marwah', menjadi kerangka utama materi melodi, menelurkan tema-tema yang saling menjalin, penuh kontemplasi, layaknya eskapisme dari kemasygulan hati.

Selayaknya pertunjukan musik klasik, selama orkestra bermain, suasana gedung terasa hening. Sebagian besar audiens duduk dengan posisi membungkuk dengan mata menyimak pada orkestra yang tengah beraksi di panggung, sebagian lainnya duduk dengan kedua tangan bersidekap. Banyak pula yang kompak menyimak musik dengan posisi berpangku tangan.

Suasana tersebut berlangsung kurang lebih setengah jam, sebelum akhirnya tepuk tangan menggema di seluruh ruangan usai konserto yang menggambarkan semangat kegembiraan sepasang sejoli itu tuntas, sekaligus mengakhiri babak pertama konser.

Pada babak kedua setelah rehat, JCP menampilkan komposisi dari Adi Morag, Octabones untuk Dua Marimba, yang diaransemen ulang oleh Alfin Satria dan Algi Dilanuar. Setelahnya, barulah komposisi Robert Schumann kembali dimainkan. Kali ini, giliran Simfoni kedua dalam C mayor Op. 61. Simfoni dengan empat bagian itu dibuka dengan alunan instrumen brass dalam tempo perlahan, sebelum musik kemudian menjadi kian intens dan dramatik.

Konser JCP#21 merupakan kali ketiga sebagai rangkaian konser orkes Kota JCP 2019 yang berlangsung mulai April hingga November tahun ini. "Ada delapan edisi JCP, akan digelar tiap bulan di Teater Jakarta yang menampung 1.200 penonton," ujar Ketua Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Anto Hoed, dalam kesempatan tersebut.

Menurutnya, JCP dianggap merupakan program yang mampu menjawab kebutuhan kultural sebuah metropolitan modern yang tidak hanya memberikan sajian musik yang menarik, namun juga edukatif dan informatif. JCP merupakan proyek bersama Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), Pemda DKI Jakarta, dan DKJ.

"Dalam rekam jejak dua tahun, JCP telah membuktikan diri sebagai orkes simfoni yang mampu menampilkan permainan bagus dan memperoleh simpati dari banyak penonton setia pada setiap konsernya," ujar Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang juga hadir dalam konser.

Anies berharap, selain menjadi orkes simfoni terbaik di Indonesia, JCP juga dapat menjadi bagian dari agenda pariwisata Ibu Kota. Juga menjadi simbol Jakarta sebagai metropolitan yang mempunyai tingkat peradaban baik, sekaligus kebanggaan warga Jakarta dan sekitarnya. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More