Selasa 25 Juni 2019, 00:00 WIB

Ginatri S Noer Tekankan Pentingnya Edukasi Seks

Rizky Noor Alam | Hiburan
Ginatri S Noer Tekankan Pentingnya Edukasi Seks

MI/AGUNG
Ginatri S Noer

 

PENULIS skenario kelahiran Balikpapan, Kalimantan Timur, Ginatri S Noer, 33, coba mengingatkan pentingnya edukasi seks pada remaja dalam film terbarunya berjudul Dua Garis Biru. Ia mengaku telah memiliki ide cerita itu sejak sembilan tahun lalu.

Film Dua Garis Biru menceritakan bagaimana kisah percintaan Bima dan Dara yang masih duduk di bangku SMA hingga Dara hamil. Keduanya pun harus menjadi orangtua di usianya yang masih belia di usia 17 tahun.

"Saya tidak pernah mengalami, orang-orang di lingkup keluarga inti juga tidak ada yang mengalami.

Tapi ketika ada di ring dua, seperti sepupu, teman, segala macam, sudah ada yang mengalami. Itukan seperti cerita semua orang, tapi tidak ada yang pernah ngomongin," ungkap Gina saat berkunjung ke Kantor Media Indonesia di Jakarta, kemarin.

Ada beberapa alasan mengapa akhirnya ia mengangkat tema itu. Sejak kecil, Ginatri sudah banyak mendengar kisah-kisah pilu para pelaku kehamilan di luar nikah yang melanda kalangan remaja. Ginatri bahkan sempat menelusuri mengapa saat itu kondom mudah sekali didapat saat dirinya SMA.

Fakta banyaknya juga daerah-daerah yang nilai-nilai keagamaannya kuat, tapi angka kehamilan remajanya justru tinggi, juga menjadi salah satu pertanyaan lulusan Broadcasting dan Mass Communication Universitas Indonesia itu. Menurutnya, fenomena itu terjadi karena masalah-masalah yang muncul cenderung didiamkan. "Tidak benar-benar dibicarakan kenapa pendidikan seks itu penting," imbuhnya.

Padahal, lanjut Ginatri, tidak semua pelaku kehamilan di luar nikah itu dapat menyelesaikannya dengan baik, begitu juga dengan orangtuanya. Kasus hamil di luar nikah ikut menciptakan lingkaran kemiskinan, munculnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), anak-anak broken home karena ketidaksiapan orangtuanya. Tak jarang, pelaku kehamilan di luar nikah bahkan memilih kematian sebagai jawaban dari masalahnya.

"Menurut saya itu semua bisa dihentikan, ada usaha-usaha preventif yang bisa dilakukan jika pemerintah dan masyarakat mau membuka fakta-fakta yang ada," cetus peraih Piala Citra untuk Penulis Skenario Film Terbaik versi Festival Film Indonesia (FFI) 2013 lewat film Habibie & Ainun itu.

Ruang diskusi
Karena dianggap tidak mendidik, petisi pelarangan penayangan film Dua Garis Biru pun muncul. Namun, Ginatri tak patah arang. Ia berharap segala kontroversi itu juga membuka ruang diskusi yang lebih dalam soal pendidikan seks, kehidupan remaja, dan kedewasaan orangtua.

Ia berharap, kontroversi yang terjadi di masyarakat berubah. "Yang menarik adalah saya tidak menyangka sebagai film maker, kalau melihat kolom komentar di Youtube trailer film ini, itu sudah terjadi diskusi mengenai pendidikan seks. Kalau ada peneliti mau melihat bagaimana cerminan pendidikan seks di Indonesia, maka dalam kolom komentar dapat dilihat sebagai sampel yang menarik," cetusnya.

Menurutnya, generasi sekarang, terutama Generasi Z ialah generasi yang berani menyuarakan pemikiran mereka, termasuk pendidikan seks. Informasi itu pun minim sekali diberikan orangtua mereka maupun pemerintah.

"Anak-anak zaman sekarang sudah tahu itu, tapi mereka tidak diberi tahu bagaimana cara mengelolanya. Bukan cuma sekadar hal berhubungan seks, tapi pendidikan seks ini juga tentang bagaimana memahami batasan diri kita sehingga kita punya relasi yang baik pada saat nanti berpacaran, menikah, dan memiliki anak," pungkasnya

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More