Jokowi Ajak Tuntaskan Konflik Rohingya

Penulis: Rudy Polycarpus Laporan dari Bangkok Pada: Senin, 24 Jun 2019, 07:50 WIB Internasional
Jokowi Ajak Tuntaskan Konflik Rohingya

ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Presiden Joko Widodo bersama Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah, PM Malaysia Mahathir Mohamad dan Presiden Filipina Rodrigo Duterte.

PRESIDEN Jokowi kembali meng-angkat isu Rakhine State dalam pertemuan retreat KTT Ke-34 ASEAN di Hotel Athenee, Bangkok, ­Thailand, kemarin. Dia mengajak para pemimpin ASEAN tidak menutup mata atas penderitaan etnik Rohingya di Myanmar.

“Saya ingin bicara sebagai satu keluarga, berterus terang, untuk kebaikan kita semua,” kata Presiden Jokowi memulai pandangannya dalam pertemuan tersebut.

Ia mengingatkan bahwa pemimpin ASEAN telah memberikan mandat kepada AHA Centre untuk melakukan needs assessment guna membantu Myanmar mempersiapkan repatriasi yang sukarela, aman, dan bermartabat. Mandat itu sudah dijalankan melalui pelaksanaan preliminary needs assessment (PNA) tim ke Rakhine State. Tim pun telah menyampaikan laporan dari pelaksanaan mandat itu.

Dengan adanya laporan PNA, Jokowi menyampaikan pandangannya. Pertama, rekomendasi laporan PNA harus ditindaklanjuti. “Saya berharap bahwa high level committee dapat segera membuat plan of action dengan timeframe yang jelas. Tindak lanjut ­rekomendasi akan membantu terciptanya kemajuan dalam persiapan repatriasi.”

Kedua, tutur Jokowi, isu ­keamanan menjadi kunci bagi pelaksanaan repatriasi. “Kita semua prihatin terhadap situasi keamanan di Rakhine State yang belum membaik,” tandasnya.

Indonesia berharap pemerintah dan otoritas Myanmar dapat terus secara maksimal mengupayakan pemulihan keamanan untuk memungkinkan terjadinya repatriasi. Presiden Jokowi juga menyarankan ASEAN dapat membantu membangun komunikasi dengan ­Bangladesh dan pengungsi di Cox’s Bazar.

Lebih lanjut Presiden menyampaikan bahwa komunikasi yang baik antara Myanmar, Bangladesh, dan para pengungsi menjadi bagian penting bagi kesuksesan persiapan repatriasi. “Tentunya dengan tetap menghormati proses komunikasi bilateral Myanmar-Bangladesh.”

Selain masalah Rohingya, ­Presiden Jokowi menekankan pen­tingnya ASEAN memiliki wawasan (outlook) mengenai Indo-Pasifik di tengah situasi ketidakpastian global. Menurut Menlu RI Retno Marsudi, ­wawasan itu mencerminkan ­sentralitas dan kekuatan ASEAN dalam menghormati perdamaian, budaya dialog, dan memperkukuh kerja sama.

 “Indonesia menyampaikan terima kasih atas dukungan dari negara-negara anggota ASEAN di dalam bersama-sama mengembangkan konsep outlook ASEAN Indo-Pasi­fik,” terang Menteri Retno.

 “Alhamdulillah ASEAN telah menyetujui outlook Indo-Pasifik yang diinisiasi Indonesia,” imbuhnya. (Ant/X-8)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More