Senin 24 Juni 2019, 06:40 WIB

Dokter Spesialis Ditugaskan ke Daerah

Indriyani Astuti | Humaniora
Dokter Spesialis Ditugaskan ke Daerah

Thinkstock
Ilustrasi

 

PEMERINTAH akan kembali mengirim dokter-dokter spesialis ke daerah mulai Agustus 2019. Program itu bersifat sukarela, tidak lagi diwajibkan. Untuk menarik minat dokter, tahun ini pemerintah menawarkan insentif Rp24 juta-Rp30 juta per bulan, serta fasilitas rumah tinggal dan kendaraan dengan masa penugasan maksimal dua tahun.

“Besarnya insentif tergantung daerah. Untuk penempatan di daerah terpencil, insentifnya lebih besar,” ujar Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (BPPSDMK), Usman Sumantri, Minggu (23/6).

Besaran insentif itu, lanjut Usman, akan ditingkatkan lagi pada 2020. Kementerian Kesehatan mengusulkan peningkatan insentif sebesar 10%-15% dari tahun ini. “Kita tunggu persetujuan Kementerian Keuangan,” imbuhnya.

Sebelumnya, terang Usman, Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 31/2019 tentang Pendayagunaan Dokter Spesialis telah ditandatangani Presiden Joko Widodo pada awal Juni lalu. Perpres tersebut menjadi dasar program pengiriman dokter spesialis ke daerah-daerah, seperti yang pernah dilakukan pemerintah melalui program Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS).

Program WKDS dimulai pada 2017, sejak keluarnya Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2017 tentang Wajib Kerja Dokter Spesialis. Setelah berjalan satu tahun, program WKDS dipermasalahkan karena dianggap memberatkan para lulusan dokter spesialis. Program itu pun dihentikan setelah keluarnya putusan Mahkamah Agung Nomor 25 P/HUM/2018 pada 12 Desember 2018 karena dinilai memaksa para dokter spesialis untuk bertugas di daerah.

Kementerian Kesehatan mencatat kebutuhan dokter spesialis di daerah sebanyak 5.382 dokter. Saat WKDS diberlakukan, sebanyak 1.213 dokter spesialis ikut. Mereka tersebar di 474 rumah sakit di 392 kabupaten/kota.

Menurut Usman, untuk tahun ini, tadinya pemerintah menargetkan ada 1.000 dokter spesialis yang bersedia bertugas di daerah yang kekurangan­ tenaga dokter spesialis. Namun, karena adanya kasus penghentian program WKDS, target itu dikurangi menjadi 800 dokter.

Lengkapi fasilitas
Terpisah, Perkumpulan Dokter Indonesia Bersatu (PDIB) menyatakan mendukung program­ pengiriman dokter spesialis itu. Insentif yang ditawarkan pemerintah pun dinilai sudah memadai. Namun, pemerintah diminta untuk memperhatikan ketersediaan­ fasilitas medis yang dibutuhkan dokter spesialis di daerah.

“Misalnya, sudah ada dokter spesialis kandungan dan kebidanan, tapi tidak ada kamar operasi atau alat kesehatannya rusak. Kan sulit,” cetus Ketua PDIB dr Jamesallan Rarung SpOG, Minggu (23/6).

James menyampaikan, saat penilaian oleh tim verifikasi, daerah yang membutuhkan dokter spesialis mungkin memenuhi persyaratan, tetapi setelah program berjalan ditemukan ketidaksesuaian seperti fasilitas medis yang tidak memadai.

“Hal-hal seperti itu perlu diperhatikan. (Kalau kendala itu terjadi) Kementerian Kesehatan harus memindahkan peserta ke tempat yang memenuhi syarat” tukasnya. (H-2)

 

Baca Juga

Dok Instagram @armandmaulana04

Armand Maulana Hibur Tenaga Medis

👤MI 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 04:10 WIB
PENYANYI Armand Maulana, 49, telah menjalankan beragam aksi sosial selama pandemi...
MI/Fathurrozak

Anggia Kharisma Banyak Bersyukur

👤MI 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 03:55 WIB
PERAYAAN Idul Fitri tahun ini tidak sama dengan tahuntahun...
Dok. Instagram @ditakarang

Dita Karang Debut di Industri K-Pop

👤Ihfa Firdausya 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 03:35 WIB
NAMA Dita Karang, 23, menjadi perbincangan penggemar K-pop di Indonesia. Dita, gadis asal Yogyakarta, baru saja melakukan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya