Minggu 23 Juni 2019, 18:58 WIB

Setelah MRT dan LRT, Pemerintah Siapkan O-Bahn

Andhika Prasetyo | Ekonomi
Setelah MRT dan LRT,  Pemerintah Siapkan O-Bahn

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Kereta Light Rail Transit (LRT) melintas saat uji publik di kawasan Kelapa Gading,

 

PEMERINTAH terus berupaya menghadirkan transportasi umum yang laik, aman dan nyaman bagi masyarakat di ibu kota.

Setelah menghadirkan berbagai macam moda transportasi baru seperti MRT dan LRT, kini pemerintah mengeluarkan gagasan bertajuk O-Bahn, angkutan umum dengan skema perpaduan antara bus rapid transit dengan light rail transit.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi mengatakan, nantinya, O-Bahn akan beroperasi dengan menggunakan dua jalur yakni jalan umum dan jalur khusus seperti rel. Intinya, O-Bahn adalah busway berpemandu yang merupakan bagian dari sistem transit cepat. Transportasi semacam ini telah diterapkan di kawasan timur Adelaide, Australia Selatan.

Namun, lanjut Budi, sebelum wacana tersebut di realisasikan di Indonesia, hal pertama yang akan dilakukan pemerintah ialah mengubah pola pikir dan kebiasaan masyarakat.

"Kami sesang mendorong, mengubah opini masyarakat terhadap angkutan umum bus. Kami akan ciptakan bus yang disukai masyarakat," ujar Budi di Jakarta, Minggu (23/6).

Budi berharap masyarakat bisa mulai terbiasa menggunakan angkutan umum dan meninggalkan kebiasaan mengandalkan kendaraan pribadi. Jika hal itu dilakukan, ia optimistis kemacetan di ibu kota akan terus berkurang.

Sebelumnya, lembaga pengukur tingkat kemacetan asal Inggris yakni TomTom Traffic Index mengeluarkan laporan terkait tingkat kemacetan di dunia.

Di laporan rersebut, disebutkan bahwa tingkat kemacetan di Jakarta turun 8% dari 61% di 2017 menjadi 53% di 2018.

Dengan penurunan itu, Jakarta dinobatkan sebagai kota dengan tingkat penurunan macet paling besar di dunia. (A-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More