Minggu 23 Juni 2019, 15:15 WIB

Petani Tengger Waspadai Fenomena Embun Upas

Bagus Suryo | Nusantara
Petani Tengger Waspadai Fenomena Embun Upas

MI/Bagus Suryo
Daun-daun di sekitar jalur pendakian Gunung Semeru, Ranupani , Lumajang, Jawa Timur sudah dipenuhi embun upas sejak 16 Juni 2019.

 

PETANI di lereng Gunung Bromo dan Gunung Semeru mulai mewaspadai fenomena embun upas, yang berdampak serius merusak tanaman pertanian. Embun upas merupakan embun pagi hari yang membeku akibat suhu dingin yang ekstrem. Warga Tengger di lereng gunung setempat menyebut embun itu sebagai bayu pas atau embun salju.

Petani kentang di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Kartono kepada Media Indonesia, Minggu (23/6), mengatakan tanaman kentang yang baru tanam bila terkena embun upas rentan mengalami kerusakan. Tanaman kentang bisa diselamatkan melalui perawatan yang lebih serius dengan menyiramkan air.

"Biasanya tidak bisa dirawat kalau kena salju (bayu pas). Kalau punya air harus disiram sebelum matahari terbit," kata tokoh masyarakat Desa Ngadas tersebut.

Namun, persoalannya, air agak sulit didapatkan terutama untuk pertanian tadah hujan yang berlokasi di dasar jurang. Itu sebabnya sebagian petani setempat hanya bisa pasrah dengan fenomena alam yang terjadi saban tahun tersebut.

Kartono mengungkapkan petani belum melaporkan adanya kejadian kerusakan tanaman hingga gagal panen, tapi mereka berusaha mewaspadai dampak dari fenomena tersebut. Sebab munculnya fenomena embun upas saat tanaman kentang siap panen.

"Alhamdulillah, walau cuaca tambah dingin dan ada bayu pas, masih normal seperti biasa. Tanaman tinggal panen, hanya sebagian kecil saja yang masih perlu perawatan," ujarnya.

Sejauh ini, lanjutnya, pertanian hortikultura masih aman. Di Desa Ngadas, tanaman yang rentan rusak terutama di dasar jurang. Sedangkan tanaman kentang di lereng perbukitan umumnya masih aman. Hingga kini belum ada laporan warga secara massal yang mengalami gangguan kesehatan akibat fenomena itu. Pasalnya semua rumah warga Tengger memiliki dapur yang dilengkapi tungku tradisional untuk memasak juga berfungsi sebagai penghangat ruangan.

"Untuk sementara di Ngadas masih aman. Biasanya tanaman kentang yang kena bayu pas sekitar 2% dari total lahan sekitar 385 hektare. Tapi yang kena itu biasanya di dasar jurang, kalau di lereng masih aman," imbuhnya.

baca juga: Ribuan Jaringan Gas Rumah Tangga di Blora Mangkrak

Fenomena embun upas muncul sejak 16 Juni 2019 di kawasan Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Cuaca dingin ekstrem itu belum berdampak menurunkan jumlah kunjungan wisata di daerah setempat.

Menurut Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Pelaporan dan Humas TNBTS Syarif Hidayat, suhu udara saat pagi sampai sore 2 derajat celcius hingga 12 derajat celcius. Sedangkan pada malam hari bisa nol derajat celcius. Cuaca dingin ekstrem tersebut membekukan dedaunan, rumput dan tanaman pertanian di kawasan Gunung Bromo dan Ranupani, Gunung Semeru.(OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More