Jumat 21 Juni 2019, 13:00 WIB

Kebijakan Denda Grab Berpotensi Langgar UU Perlindungan Konsumen

Dero Iqbal Mahendra | Ekonomi
Kebijakan Denda Grab Berpotensi Langgar UU Perlindungan Konsumen

AFP/GOH CHAI HIN
Seorang penumpang naik ke motor ojek daring Grab.

 

BADAN Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) menilai langkah Grab menerapkan denda bagi pembatalan pesanan berpotensi melanggar Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UU No.8/1999).

Wakil Ketua BPKN Rolas Sitinjak mengungkapkan argumentasi penerapan kebijakan tersebut tidak menghapus kemungkinan kerugian bagi konsumen. Terdapat kesalahan argumentasi yang dilakukan Grab dalam kebijakan denda bagi pelanggan tersebut.

Rolas menilai lahirnya kebijakan denda itu berakar pada kelemahan sistem Grab.

“Namun itu seperti dilimpahkan kepada konsumen,” ujar Rolas dalam keterangan pers, Jumat (21/6).

Rolas memahami Grab ingin mengikis kemunculan pesanan fiktif, di mana terdapat pelanggan iseng yang memesan namun seketika membatalkan pesanan.

Baca juga: Grab Gandeng Pegadaian Beri Kemudahan Mitra Pengemudi

Padahal, di lapangan, kerap kali kejadian itu berawal dari ulah mitra pengemudi ataupun kelemahan sistem Grab.

“Seringkali ada permintaan dari mitra pengemudi membatalkan pesanan kepada konsumen, agar tidak ada pemotongan deposit. Atau pun persaingan antarmitra pengemudi untuk mengerjai sesama rekan sehingga ada yang curang membuat pesanan fiktif,” kata Rolas.

Hal tersebut merupakan pangkal soal yang terletak pada kelemahan sistem Grab, bukan malah dilimpahkan kepada denda konsumen.

“Jadi seharusnya ada inovasi dalam sistem yang bisa menghapus pesanan fiktif bukan malah penerapan denda,” tegas Rolas.

Dia mengutarakan terlepas dari banyaknya pesanan fiktif, kerap kali pelanggan membatalkan karena kekecewaan terhadap kinerja mitra pengemudi.

“Terlalu lama, tidak bergerak ke tempat penjemputan. Atau tidak merespon komunikasi pelanggan. Jadi tidak sepenuhnya pembatalan pesanan kesalahan pelanggan,” ungkapnya.

Rolas mengingatkan kebijakan yang dilakukan Grab tersebut berpotensi melanggar UU Perlindungan Konsumen.

Terdapat beberapa ketentuan seperti penjelasan detil dan aturan yang jelas bisa dipahami konsumen yang merupakan tanggungjawab pelaku usaha.

“Kalau selama ini konsumen tidak mengerti mengapa harus didenda atau saldo OVO berkurang karena pembatalan, dengan ketentuan tertentu yang detail, maka Grab bisa melanggar UU Konsumen. Selain itu, dalam logika kebijakan Grab, sepenuhnya konsumen dikorbankan,” tegas Rolas.

Advokat sekaligus Ketua Komunitas Konsumen Indonesia David Tobing pun mengungkapkan pendapat senada.

Menurutnya, denda akibat pembatalan pemesanan pelanggan transportasi daring disebabkan banyak hal sehingga tidak melulu merupakan kesalahan pelanggan.

“Ini yang seharusnya dipahami operator Grab,” tukas David.

Di sisi lain, dia menyimpulkan persoalan pembatalan pesanan oleh konsumen adalah bagian risiko usaha aplikator.

Selama ini, lanjut David, aplikator hanya menyediakan jasa pemesanan bukan sebagaimana operator transportasi yang mengeluarkan biaya operasional murni, seperti mitra pengemudi di lapangan.

“Perbaikannya itu di internal, bukan membebani konsumen lagi,” ungkapnya. (OL-2)

Baca Juga

Antara

Resmi, BEI Hapus Saham Arpeni dari Lantai Bursa

👤Raja Suhud 🕔Senin 06 April 2020, 10:05 WIB
APOL  resmi tercatat di BEI sejak 22 Juni 2005 dengan melepas  500 juta saham dengan harga Rp 625 per...
Antara/Mohammad Ayudha

Ekonom Sarankan Perluasan Pemberian Insentif

👤M Ilham Ramadhan 🕔Senin 06 April 2020, 09:40 WIB
Usaha memberikan bantuan kepada yang karyawan yang terkena PHK juga perlu dilakukan oleh pemerintah daerah agar dampaknya bisa lebih...
Dok. Kementan

Stok Kebutuhan Pokok Aman Kementan Awasi Distribusi

👤Media Indonesia 🕔Senin 06 April 2020, 09:30 WIB
KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) memastikan sebelas bahan pokok untuk kebutuhan bulan puasa dan lebaran 2020 dalam kondisi aman dan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya