Jumat 21 Juni 2019, 04:40 WIB

AS-Eropa Tekan Rusia soal Kasus Pesawat MH17

mediaindonesia | Internasional
 AS-Eropa Tekan Rusia soal Kasus Pesawat MH17

(Photo by Alexander KHUDOTEPLY / AFP)
pada 09 September 2014 menunjukkan bagian dari Malaysia Airlines Penerbangan MH17 di lokasi kecelakaan di di desa Hrabove (Grabovo),

 

PEMIMPIN-PEMIMPIN Uni Eropa kemarin ikut angkat bicara terkait kasus jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 dengan menuntut Rusia agar mau bekerja sama dengan pengadilan Belanda yang akan menuntut para pelaku penembakan pesawat tersebut.

Sebelumnya, tim penyelidik internasional telah mendakwa tiga orang Rusia, yaitu Igor Girkin, Sergei Dubinsky, dan Oleg Pulatov, serta seorang warga Ukraina bernama Leonid Kharchenko sebagai pembunuh pada kasus yang terjadi pada 2014 itu.

Pesawat itu jatuh setelah ditembak dengan sebuah rudal di sebelah timur Ukraina yang dikuasai pemberontak pro-Rusia. Ketika itu pesawat sedang terbang dari Amsterdam, Belanda, menuju Kuala Lumpur, Malaysia.

Jatuhnya pesawat MH17 telah menyebabkan 298 orang tewas. Sidang di pengadilan Belanda, walau mungkin berupa pengadilan in absentia, direncanakan berlangsung pada Maret 2020. Jaksa menyebut keempat orang itu dianggap bertanggung jawab membawa masuk rudal milik militer Rusia dari Rusia ke Ukraina meskipun 'bukan mereka sendiri yang langsung melakukan penembakan'. Keputusan ini disambut gembira oleh para keluarga korban MH17.

Rusia dan Ukraina hingga kini belum menyerahkan keempat orang itu, yang semuanya memiliki hubungan dengan militer dan intelijen, ke pengadilan internasional. Rusia juga tidak mengakui 'tuntutan yang tidak berdasar' tersebut.

Dalam pertemuan di Brussels, Belgia, para pemimpin Uni Eropa akan membuat pernyataan yang mendukung dakwaan kriminal dalam kasus ini.

"Uni Eropa mendukung sepenuhnya upaya terciptanya keadilan bagi korban dan keluarga mereka," demikian salah satu rencana kesimpulan pertemuan itu.

Komitmen Uni Eropa itu muncul setelah sebelumnya Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, mendesak Rusia agar menyerahkan para pelaku ke pengadilan.

Di sisi lain, Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, meminta kasus ini ditangani dengan transparan tanpa unsur politik. "Sejak awal kami tidak suka karena kasus ini menjadi permainan politik untuk menuduh Rusia. Kami perlu bukti kesalahan. Sejauh ini tidak ada bukti, baru berupa omongan saja," ujar Mahathir. (AFP/Yan/X-11)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More