Keluarga, Ruang Imajinasi Pertama Anak

Penulis: Galih Agus Saputra Pada: Jumat, 21 Jun 2019, 03:00 WIB Opini
Keluarga, Ruang Imajinasi Pertama Anak

Thinkstock
Ilustrasi

SEDERET film telah ia sutradarai dan sejumlah buku juga telah ia luncurkan. Bahkan, pria bernama Richard Oh, 59, itu juga merupakan salah satu penggagas ajang penghargaan karya sastra ternama di Tanah Air, Khatulistiwa Literary Award (KLA).  

KLA yang digagas pria kelahiran Tebingtinggi, Sumatra Utara, itu dibentuknya sejak 2001. Namun pada 2014, KLA berganti nama menjadi Kusala Sastra Khatulistiwa. Para penerima penghargaan itu, antara lain Goenawan Mohamad, Seno Gumira Ajidarma, Leila S Chudori, dan Ayu Utami.

Kecintaan Richard pada dunia sastra dimulai sejak usia dini. Baginya, keluarga merupakan lingkungan yang amat penting untuk mendukung proses tumbuh kembang seorang anak dalam dunia buku dan sastra.

"Selama ini banyak orang bertanya kepada saya bagaimana cara membuat anak agar mau membaca buku. Lalu, saya tanya balik ke mereka apakah sebagai orangtua di rumah mereka membaca atau tidak? Kalau mereka tidak membaca, bagaimana mungkin anak mereka suka membaca buku?” tuturnya saat ditemui di perpustakaan sekaligus kafenya, The Reading Room, Kemang, Jakarta, Rabu (19/6).

Menurutnya, apabila lingkungan rumah atau keluarga menyediakan begitu banyak buku atau bahan bacaan, dengan sendirinya akan memantik rasa keingintahuan anak terhadap barang cetakan yang ada di hadapannya. Dengan membaca buku, kemudian imajinasi anak dapat dipacu sehingga mereka memiliki kesiapan menghadapi proses kreatif, sekaligus persoalan di luar rumah.

"Dari kebiasaan membaca, anak-anak akan memilik sesuatu yang berbeda dari yang lain. Ia lebih kreatif dan ketika melihat sesuatu mereka tidak melihatnya secara harafiah saja, tetapi bisa membayangkan sesuatu di baliknya, yakni hal-hal yang mungkin bisa diolah atau dieksplorasi lebih dalam," ujar Richard.

Kebiasaan membaca, lanjutnya, juga akan sangat membantu mengatasi persoalan literasi di Indonesia. Apalagi, minat baca penduduk di Indonesia sangat rendah, yakni di urutan ke 62 dari 70 negara. Kondisi tersebut diketahui dari hasil survey Programme for International Student Assessment (PISA) yang berpusat di Paris, Prancis, terkait dengan minat baca penduduk di seluruh dunia.

Survei lainnya, yang diterbitkan Central Connecticut State University (CSSU), Inggris, pada Maret 2016, bahkan lebih mengejutkan. Minat baca penduduk Indonesia berada di urutan 59 dari 61 negara yang disurvei CSSU. Indonesia hanya lebih unggul dari Botswana yang berada di posisi paling bawah.

Film dan iklan
Pria berkacamata itu melanjutkan, membaca memiliki dampak yang sangat baik dalam menangkal informasi yang tidak benar. Dengan memiliki pengetahuan dari membaca, orang tidak akan mudah menggerakkan jari untuk merespons informasi yang tertentu.  

Katanya, zaman sekarang banyak orang yang sangat mudah menggerakkan jari untuk merespons informasi yang belum tentu benar lantaran tidak mau mencari informasi lebih dalam atas informasi yang diterimanya, atau tidak mau berimajinasi dengan lebih baik. Akibat hal tersebut, mereka tersesat atau termakan kabar yang keliru.

"Padahal, untuk menghadapi hal semacam itu, orang harus dipersiapkan sejak usia dini melalui kebiasaan membaca sehingga punya kemampuan menelaah hal-hal di depanya," imbuhnya.

Richard yang telah puluhan tahun menekuni dunia penulisan kreatif juga memperkaya pengetahuannya dengan belajar filsafat. Ia juga sempat berkecimpung di dunia periklanan sebagai direktur kreatif. Kalau ditelusuri lebih jauh, Richard mengatakan bahwa minatnya memang tidak pernah jauh dari persoalan sosial-humaniora dan kreativitas.

Kala berkecimpung di dunia periklanan, Richard mengaku juga belajar banyak hal, seperti bagaimana cara memadukan media tulis dengan media visual. Hal tersebut turut mendorongnya melebarkan sayap ke dunia perfilman. Baginya, perfilman memiliki aspek yang sangat kompleks karena dari medium tulis, gambar, hingga musik bercampur menjadi satu. (H-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More