Penggunaan PLTS Atap makin Diminati

Penulis: (Pra/E-1) Pada: Kamis, 20 Jun 2019, 22:00 WIB Ekonomi
Penggunaan PLTS Atap makin Diminati

MI/Rendy Ferdiansyah
: Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Hybrid pertama di Sumatera

KESADARAN  penggunaan energi surya sebagai energi alternatif terus meningkat.

Belasan perusahaan secara nyata telah mendukung Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap (GNSSA) dengan memasang sistem pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap. Penggunaan pembangkit  ramah lingkungan itu menghemat kebutuhan energi untuk operasional perusahaan.

Dengan cara itu, mereka juga berperan mengurangi konsumsi bahan bakar fosil yang belakangan ini berkontribusi besar terhadap defisit neraca perdagangan.

“Kita akan mengalami krisis energi dalam 30 tahun ke depan. Ancaman itu nyata jika kita terus mengeksploitasi energi fosil. Maka dari itu, sebagai alternatif, kita harus mulai mengembangkan energi dari sumber daya alam terbarukan,” ujar Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Andhika Prastawa di Jakarta, kemarin.

Xurya, perusahaan rintisan (startup) lokal yang fokus pada pengembangan pembangkit listrik ramah lingkungan, mengungkapkan, pengoperasian PLTS atap secara tepat akan menghasilkan  penghematan 30% dalam operasional bisnis.

“Mereka akan bisa merasakan langsung efisiensi pada bulan pertama karena sudah mampu menghasilkan energi untuk listrik sendiri,” ujar pendiri Xurya Eka Himawan.

Vice President of Corporate Communication Tokopedia Nuraini Razak mengatakan, sebagai perusahaan teknologi, pihaknya sangat mendukung penggunaan energi alternatif yang inovatif.

Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan penurunan subsidi listrik di 2020.

Dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR, Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan subsidi listrik di 2020 diusulkan sebesar Rp58,62 triliun, turun dari 2019 sebesar Rp59,32 triliun. (Pra/E-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More