Kamis 20 Juni 2019, 14:55 WIB

Saksi Ahli KPU: Percuma Merekayasa Situng

M. Ilham Ramadhan Avisena | Politik dan Hukum
Saksi Ahli KPU: Percuma Merekayasa Situng

ANTARA/GALIH PRADIPTA
Saksi ahli dari pihak termohon Marsudi Wahyu Kisworo

 

SAKSI ahli dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai pihak termohon, Marsudi Wahyu Kisworo, mengatakan tidak ada pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden dalam Pilpres 2019 yang dimenangkan melalui sistem hitung (situng).

Hal itu dikatakannya saat ditanyai oleh kuasa hukum KPU, Ali Nurdin. Menurut Marsudi, data yang ditampilkan dalam situng merupakan hasil dari pola acak. Dengan pola acak itu, kata Marsudi, tidak memungkinkan data yang dirilis KPU dapat menguntungkan salah satu paslon.

Baca juga: Caleg PBB Jadi Saksi Prabowo-Sandi, Yusril: Ini Orang Agak Ngeyel

"Kecuali kalau polanya tetap di satu tempat atau di satu provinsi atau satu kota kemudian kita boleh menduga ada upaya-upaya seperti itu," terang Marsudi di Gedung MK, Kamis (20/6).

Mendengar jawaban dari Marsudi, Ali kembali menanyakan terkait dengan pengurangan data yang hanya dilakukan kepada pasangan nomor urut 02 atau secara menyeluruh. Marsudi lantas menegaskan, kedua paslon mendapatkan perlakuan sama, baik dikurangi atau penambahan suara dalam situng.

"Jadi dua-duanya ada yang ditambah dan dua-duanya ada yang dikurangi. Di Aceh misalnya, itu terjadi justru lonjakan pasangan 02, lebih banyak 02, tapi setelah kita lihat beberapa contoh, C1-nya memang banyak yang tidak diisi," imbuhnya.

"Formulir C1 dari Aceh ini kita lihat, di situ jumlah pengguna hak pilih hanya 13. Kan tidak mungkin ini ya, tapi ini terjadi karena form C1-nya seperti itu. Sementara jumlah pemilihnya ada 295, jumlah pengguna hak pilihnya 13, kemudian jumlah surat suara yang terpakai 244. Jadi, ini bukan kesalahan entri dari petugas, tapi memang data dari C1-nya seperti itu," paparnya.

Oleh sebab itu, meski dilakukan penghitungan berjenjang secara manual, data yang ada di situng tidak akan berubah. "Form C1 yang ada di situng akan tetap seperti itu. Karena C1 yang diupload adalah yang betul-betul dari TPS pada waktu selesai pemungutan suara," tukas Marsudi.

Baca juga: Ribuan Warganet Simak Siaran Langsung Sidang MK Via Internet

Ia juga menjelaskan, kecil kemungkinan data yang ada pada situng untuk dijadikan rujukan guna memengaruhi hasil penghitungan berjenjang. Selain C1 yang langsung diupload dan masuk sebagai data situng, penghitungan langsung dilakukan secara terbuka.

"Kalau mau merekayasa, menurut saya sebagai pakar IT, kalau saya mau merekayasa bukan dari situng, yang saya rekayasa perhitungan suara berjenjangnya itu. Itu pun kalau bisa, tapi saya kira akan sangat sulit karena situng tidak ada gunanya mau direkayasa ga ada gunanya juga, percuma saja," pungkasnya. (OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More