Anak-Anak Nonton Sex Live Dapat Pendampingan

Penulis: Kristiadi Pada: Kamis, 20 Jun 2019, 12:33 WIB Nusantara
Anak-Anak Nonton Sex Live Dapat Pendampingan

MI/Kristiadi
Sejumlah tokoh masyarakat dan agama mendatangi Kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah Kabupaten Tasikmalaya, Kamis (20/6).

SEJUMLAH tokoh masyarakat dan tokoh agama Desa Kadipaten, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat mendatangi Kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID)  di Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis (20/6). Kedatangan mereka untuk meminta bantuan pendampingan terhadap anak-anak di bawah umur yang telah dirusak oleh pasangan suami istri yang melakukan adegan seks bisa ditonton bebas.  

Pasangan suami istri berinisial EK, 25 dan LI, 24 menggelar adegan seks yang bisa dilihat anak-anak, dengan membayar Rp5000 ditambah kopi, rokok dan mi instan.

"Kami meminta bantuan KPAID untuk mendampingi anak-anak untuk memulihkan fsikisnya sekaligus melaporkan pelaku yang telah meracuni anak-anak di kampung dengan adegan seks live ini. Ada enam anak yang menonton adegan seksl live ini. Mereka sengaja mempertontonkan kepada anak sekolah dasar," kata Miftah Farid, tokoh agama Kecamatan Kadipaten.

Kasus ini terjadi saat Ramadan, dan pengakuan itu terungkap setelah anak-anak ini menceritakan telah menonton adegan seks secara langsung di dalam kamar kepada orangtua masing-masing. Pasangan suami istri itu kini menjadi tersangka. "Anak-anak harus membayar Rp5000 dan menyetor rokok, kopi hingga mi instan," tambahnya.

Ketua Komisi KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto mengakui kasus itu bisa berefek buruk terhadap anak-anak. Sebab keenam anak ini berusaha mempraktekkan adegan mesum yang yang pernah dilihat mereka terhadap balita, masih tetangganya," kata Ato.

baca juga: Sambut HUT DKI, Besok, Tiket Masuk Ancol Gratis

Namun upaya keenam anak ini berhasil dicegah. KPAID Kabupaten Tasikmalaya bersama Tim Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak akan terus memulihkan gangguan psikologis keenam anak tersebut.

"Kami akan memberikan trauma healing pada enam orang korban anak di bawah umur, agar tindakan yang dilakukannya tersebut itu bisa membantu untuk mengurangi hingga menghilangkan gangguan psikologis. Terutama yang sedang dialaminya dan tentunya itu jalan alternatif supaya mereka bisa cepat sembuh," lanjut Ato. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More