Kamis 20 Juni 2019, 14:00 WIB

Pelaku Usaha Mulai Lirik PLTS Atap

Andhika Prasetyo | Ekonomi
Pelaku Usaha Mulai Lirik PLTS Atap

MI/Andhika Prasetyo
Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonsia (AESI) Andhika Prastawa (kedua dari kanan) sedang memaparkan pentingnya PLTS Atap.

 

BELASAN perusahaan secara nyata telah mendukung Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap (GNSSA) dengan memasang sistem pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap.

Penggunaan pembangkit listrik yang ramah lingkungan itu mulai diterapkan guna menghemat kebutuhan energi untuk operasional perusahaan.

Dengan cara itu, mereka juga berperan mengurangi konsumsi bahan bakar fosil yang belakangan ini berkontribusi besar terhadap defisit neraca perdagangan.

Berdasarkan riset Pusat Pengkajian Industri Proses dan Energi, Indonesia telah menjadi net importir minyak bumi sejak 2004 dan akan menjadi net importir gas alam pada 2028 serta batu bara pada 2038 mendatang.

"Kita akan mengalami krisis energi dalam 30 tahun ke depan. Ancaman itu nyata jika kita terus mengeksploitasi energi fosil. Maka dari itu, sebagai alternatif, kita harus mulai mengembangkan energi dari sumber daya alam terbarukan," ujar Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonsia (AESI) Andhika Prastawa di Jakarta, Kamis (20/6).

Baca juga: Kurangi Ketergantungan PLN, Ponpes di Kediri Bangun PLTS Mandiri

Dalam hal ini, energi surya dianggap sebagai yang paling kompetitif. Energi tersebut memiliki potensi paling besar dibandingkan energi baru dan terbarukan lainnya yakni mencapai 200 ribu megawatt per tahun.

Sementara, kapasitas terpasang baru sebesar 90 megawatt, masih sangat jauh di bawah potensi yang ada.

"Akan sangat mubazir jika kita tidak manfaatkan ini secara maksimal," ucapnya.

Xurya, perusahaan rintis (startup) lokal yang fokus pada pengembangan pembangkit listrik ramah lingkungan, mengungkapkan, dengan mengoperasikan PLTS atap secara tepat, penghematan yang bisa dilakukan dalam operasional bisnis bisa mencapai 30%.

"Mereka akan bisa merasakan langsung efisiensi pada bulan pertama karena sudah mampu menghasilkan energi untuk listri sendiri," ujar pendiri Xurya Eka Himawan.

Adapun, Vice President of Corporate Communication Tokopedia Nuraini Razak mengatakan, sebagai perusahaan teknologi, pihaknya sangat mendukung penggunaan energi alternatif yang inovatif.

"Dengan mendukung inisiatif ini, kami harap dapat menjadi satu langkah maju bagi pengembangan energi terbarukan di Tanah Air sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam hal penghematan energi fosil," tuturnya.

Hingga saat ini, tercatat ada 14 perusahaan yakni Bika Living, PT Bukit Jaya Semesta, Ciputra World 2 Jakarta, Dermaster, Grand Hyatt, PT Himawan Putra, Indonesia Utama Mineral, PT Mandala Multivest Capital, Plaza Indonesia Realty, PT Mega Manunggal Property, PT Monde Mahkota Biskuit, PT Mulia Bosco Sejahtera, Tokopedia dan Wisma 77 yang telah menggunakan jasa Xurya dalam pemasangan panel surya di lokasi kerja masing-masing. (OL-2)

Baca Juga

MI/Ramdani

Kemenhub: Pengendalian Transportasi Hari Pertama Lebaran Kondusif

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Minggu 24 Mei 2020, 19:07 WIB
Pengawasan menyasar semua arus keluar dan masuk wilayah Jabodetabek, termasuk jalur darat, laut dan...
Antara/Muhammad Iqbal

70% Pesawat Grounded, Garuda Lakukan Prolong Inspection

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Minggu 24 Mei 2020, 14:32 WIB
Prolong inspection bertujuan menjaga kelayakan pesawat, karena rute berkurang akibat pandemi...
MI/PIUS ERLANGGA

Sri Mulyani: Tidak Ada Kesehatan, Tidak Ada Ekonomi

👤M Ilham Ramadhan Avisena 🕔Minggu 24 Mei 2020, 13:00 WIB
"Itu sebabnya, pada saat terjadi pandemi, langkah pertama pemerintah adalah mengunci terlebih dahulu dana Rp75 triliun khusus untuk...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya