Kamis 20 Juni 2019, 06:00 WIB

Patrick Shanahan Mundur Iran Sasar Jaringan CIA

Tesa Oktiana Surbakti tesa@mediaindonesia.com | Internasional
 Patrick Shanahan Mundur Iran Sasar Jaringan CIA

AFP
Menteri Pertahanan Patrick Shanahan berbicara kepada wartawan di Pentagon di Washington, DC

 

PRESIDEN Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kehilangan calon pemimpin Kementerian Pertahanan. Suatu kondisi yang menambah volatilitas dalam perselisihan dengan Iran, mengingat negeri kaya minyak mengklaim telah membongkar jaringan Badan Intelijen Pusat (CIA).

Sejumlah kekuatan asing mengawasi situasi di Timur Tengah, dengan meningkatnya kekhawatiran atas ketegangan antara AS dan Iran, yang saling melemparkan peringatan.

Dalam komentar terbarunya, Trump mengatakan kepada majalah Time bahwa pihaknya menganggap ledakan pada dua kapal tanker minyak yang disinyalir perbuatan Iran, relatif berskala kecil.

Akan tetapi, kebijakan Trump terlempar ke dalam ketidakpastian lebih lanjut. Ditambah dengan pengunduran diri calon Menteri Pertahanan AS, Patrick Shanahan, secara tiba-tiba. Melalui akun Twitter-nya, Trump mengumumkan Shanahan berhenti karena ingin menghabiskan waktu bersama keluarnya. Selain itu, mantan petinggi Boeing itu melihat proses pencalonannya di Kongres AS terhambat selama berbulan-bulan.

Trump menunjuk Menteri Angkatan Darat, Mark Esper, sebagai pilihan barunya. Esper akan mulai bekerja pada 24 Juni. Pergolakan membiarkan Pentagon tanpa pemimpin permanen sejak pengunduran diri James Mattis, sosok yang sangat di-segani, pada akhir tahun lalu.

Terlepas dari komentar Trump yang dilaporkan Trump, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, mengingatkan Iran bahwa negeri Paman Sam serius menghadang agresi Iran.

Sekitar 1.000 tentara tambahan diperintahkan bersiaga pada Senin waktu setempat, di samping sejumlah pasukan angkatan udara dan angkatan laut yang sudah dikirim sebelumnya.

"Pengerahan itu harus meyakinkan pemerintah Iran bahwa kami serius, serta mencegah mereka melakukan agresi lanjutan di kawasan tersebut," tegas Pompeo pada Selasa waktu setempat.

Bongkar jaringan mata-mata

Di Teheran, para pejabat mengklaim telah membongkar jaringan mata-mata AS. Pengumuman Iran muncul sehari setelah menyatakan cadangan uranium domestik akan melampaui batas per 27 Juni. Besarannya disebut melampaui kesepakatan nuklir 2015, yang ditinggalkan secara sepihak oleh pemerintahan Trump pada Mei 2018.

Sejak saat itu, ketegangan antara Teheran dan Washington terus meningkat. AS memperkuat kehadiran militernya di kawasan, serta menerapkan kembali sanksi dan memasukkan Pengawal Revolusi elite Iran dalam daftar hitam organisasi teroris.

"Mengikuti petunjuk terkait CIA, belum lama ini kami menemukan orang Amerika yang baru saja direkrut dan membongkar sebuah jaringan baru," bunyi laporan kantor berita Iran, Irna, merujuk pernyataan pejabat kementerian intelijen.

Beberapa anggota yang diduga jaringan CIA, lanjut laporan tersebut, telah ditangkap dan diserahkan kepada pengadilan.

Sementara itu, yang lainnya masih menjalani penyelidikan tambahan. Sumber tersebut tidak merinci berapa banyak agen yang ditangkap, atau apakah mereka hanya beroperasi di Iran.

Juru bicara Presiden Rusia Vladimir Putin, yakni Dimitry Peskov, mendesak semua pihak untuk menahan diri.

Adapun Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, memperingatkan AS dan Iran untuk tidak membuka kotak Pandora.

Dia pun meminta AS untuk mengubah tindakan menekan yang begitu ekstrem. Wang Yi juga mendesak Iran tidak meninggalkan perjanjian nuklir dengan mudah. (AFP/I-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More