Herpes Genitalis, Infeksi yang belum Tersembuhkan

Penulis: Indriyani Astuti Pada: Rabu, 19 Jun 2019, 00:00 WIB Humaniora
Herpes Genitalis, Infeksi yang belum Tersembuhkan

Grafis seno
Ilustrasi

HERPES genitalis memang tidak berbahaya dan tidak menyebabkan kematian. Namun, penyakit itu bersifat kronis dan dapat menimbulkan gangguan selama bertahun-tahun. Pasalnya, hingga saat ini belum ada obat yang mampu mematikan virus herpes genitalis.

Dokter spesialis kulit dan kelamin dari Klinik Pramudia, Jakarta,  dr Wresti Indriatmi SpKK (K), menjelaskan herpes genitalis merupakan penyakit infeksi menular seksual yang disebabkan virus herpes simplex (HSV) tipe 1 dan 2. Umumnya, virus tipe 1 ditularkan melalui oral ke oral, sedangkan virus tipe 2 melalui aktivitas seksual.

"Namun, dengan semakin berkembangnya bentuk aktivitas seksual, terkadang ditemukan HSV tipe 1 di area genital," ujar Wresti dalam seminar media bertajuk Tanggap Herpes Genital, Kenali Penularan Penyakitnya, Waspadai Penularannya!, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Perjalanan penyakit itu, imbuhnya, dibagi menjadi tiga tahapan. Pertama, dimulai dari munculnya gejala seperti timbulnya lesi di area genital atau sariawan pada daerah mulut. Umumnya pada fase primer atau pascaterinfeksi, sambungnya, gejala yang dialami pasien cukup berat karena lesi atau luka sakit dan bernanah.

Selanjutnya, pasien herpes akan mengalami episode kambuhan, yaitu saat virus masuk dalam tubuh dan menimbulkan gejala mengganggu saat antibodi menurun. Wresti menyampaikan, ada pula orang yang tertular virus herpes, tetapi tidak langsung menunjukkan adanya gejala (asimptomatik), padahal di dalam tubuhnya telah ada virus itu.

"Gejalanya lebih ringan. Ada juga herpes atopik atau gejala tidak khas. Terlihat dari lesinya, kadang bentuknya hanya bercak-bercak merah yang kambuhan," imbuhnya.

Ia menekankan bahwa penyakit itu tidak bisa disembuhkan dan sering kambuh. Virus herpes tipe 2 lebih sering kambuh daripada tipe 1. Hingga saat ini, belum ada obat yang bisa mematikan virus herpes. Obat-obat, kata Wresti, 'hanya' bertujuan mengurangi frekuensi kekambuhan dan meringankan gejalanya, termasuk mengurangi rasa sakit pasien. Kekambuhan, ujarnya, bisa dipicu stres, kelelahan, atau saat daya tahan tubuh menurun.

"Karena itu, pengobatan sifatnya episodik atau diberikan setiap kali pasien kambuh," terangnya.

Bagi pasien yang mengalami kekambuhan yang terlampau sering atau setidaknya enam kali kambuh selama setahun, pengobatan yang disarankan ialah terapi supresi, yakni pasien harus minum obat selama satu tahun.

Bahayakan bayi
Meski penyakit ini sifatnya kronis, lanjut Wresti, pada orang dewasa virus herpes tidak menyebabkan kematian atau kanker seperti human papiloma virus (HPV). Namun, virus herpes berbahaya untuk bayi dalam kandungan apabila seorang ibu pertama kali tertular virus herpes saat hamil.

"Virus akan beredar dalam darah dan masuk dalam plasenta bayi sehingga bisa menyebabkan bayi tertular, atau penularan terjadi saat bayi lahir," tuturnya.

Apabila ada ibu hamil yang mempunyai penyakit herpes, Wresti menyarankan untuk mengonsultasikan ke dokter kandungan agar bisa diberi pengobatan dan merencanakan kelahiran dengan bedah caesar karena proses kelahiran normal berpotensi menularkan virus dari ibu ke bayi.

Pada kesempatan sama, dokter spesialis kulit dr Anthony Handoko SpKK, yang juga CEO Klinik Pramudia, menambahkan, pada pasien yang menunjukkan gejala yang khas, pemeriksaan fisik oleh dokter spesialis kulit dan kelamin sudah cukup untuk dapat mendiagnosis herpes genitalis. Akan tetapi, pemeriksaan laboratorium dapat membantu untuk mengonfirmasi penyakit itu terutama pada pasien yang tidak langsung menunjukkan gejala.
"Biaya pemeriksaan laboratorium ini cukup mahal, sekitar Rp1,7 juta," ungkapnya.

Menurutnya, karena penyakit tersebut dapat menimbulkan beban psikologis dan finansial bagi pasien, pencegahan sangat penting dilakukan. Pencegahan dari infeksi virus herpes simpleks dapat dilakukan dengan setia pada pasangan, tidak berganti-ganti pasangan seksual, dan penggunaan kondom.

"Masyarakat sebaiknya mengenali gejalanya dan segera berkonsultasi ke dokter apabila mengalami gejala herpes genitalis agar mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat," pungkas Anthony. (H-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More