Selasa 18 Juni 2019, 17:15 WIB

Pendaftaran SMA di Depok Ricuh

Kisar Rajaguguk | Megapolitan
Pendaftaran SMA di Depok Ricuh

ANTARA/Yulius Satria Wijaya/wsj.
Pendaftaran PPDB SMA di Depok

 

PENERIMAAN siswa baru di 17 sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah Kejuruan (SMK) di Kota Depok ricuh. Kericuhan dipicu banyak orang tua tidak mendapatkan formulir pendaftaran meski sudah antre sejak subuh, Selasa (18/6).

Salah satu yang menyulut kemarahan orang tua calon siswa, karena panitia perserta didik baru (PPDB) tingkat SMA dan SMK membatasi jumlah pendaftar dan minimnya upaya komunikasi sejak awal pengambilan formulir pendaftaran.

Baca juga: Polisi Tewas Terlindas Truk Tronton saat Berangkat Kerja

Puncak kekecewaan orang tua ini berlanjut dengan dorong-dorong dan teriak-teriak di loket pengambilan formulir yang disediakan pihak penyelenggara. Para orang tua menuntut solusi agar panitia PPDB bersikap transparan.

Di SMA Negeri 1 Kota Depok Jalan Nusantara Raya Nomor 317, Kelurahan Depok Jaya, Kecamatan Pancoranmas pada hari pertama dan kedua Selasa (18/6) pengambilan formulir pendaftaran dibatasi hanya untuk 330 orang. Sedangkan, orang tua yang mengatre jumlahnya 1.000-an. Pendaftaran dibuka kembali Rabu (19/6).

Pembatasan dilakukan hari ini untuk mengatasi jumlah pendaftar yang membludak. "Kita batasi untuk hari ini, sampai 330 pendaftar. Besok rencananya kita buka lagi sampai pukul 15.00 WIB. Kalau tidak ditahan seperti ini, antrian bisa mengular," kata Kepala SMAN 1 Depok, Supyana, Selasa (18/6).

Dia menuturkan ada beberapa jalur kriteria dalam sistem PPDB tingkat SMA dan SMK yaitu zonasi murni, afirmasi, kombinasi, prestasi, pemindahan orang tua.

"Zonasi murni itu memperhitungkan jarak dari rumah ke sekolah ini sekitar 55%, afirmasi juga sama namun untuk siswa tidak mampu sebanyak 20%, kemudian kombinasi memperhitungkan jarak dan nilai siswa sekitar 15%. Sisanya untuk perpindahan dan prestasi sebanyak 5%. Memang untuk jalur prestasi agak lama karena harus memverifikasi dokumen pengajuan siswa," ungkapnya.

Di kesempatan terpisah, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Jawa Barat Dadang Ruhiyat menjelaskan kericuhan tersebut dipicu oleh beberapa faktor. Salah satunya, isu mengenai siapa yang mendaftar pertama itu yang bisa masuk seleksi calon siswa baru di sekolah tersebut.

"Ini anggapan yang salah, seluruh mekanisme PPDB dijalankan sesuai aturan terutama untuk sistem zonasi," katanya meluruskan.

Faktor lain adalah adanya anggapan bahwa SMA Negeri 1 Kota Depok adalah salah satu sekolah favorit di Kota Depok. Sehingga banyak orang tua calon siswa berdatangan mendaftar. Pendaftar pun datang di waktu yang sama pada hari pertama.

"Seharusnya, mereka mengerti untuk mendaftar saja bisa lewat online atau website PPDB. Itu bisa diakses dan sosialisasi kepada masyarakat serta uji coba penerapan sistem PPDB juga sudah dilakukan di seluruh sekolah di Jabar," imbuh Dadang.

Baca juga: Baru 20 Hektar Kebutuhan Lahan TPA Dibebaskan

Dijelaskan olehnya, saat ini jumlah daya ditampung SMAN di Jawa barat ada 30.858 siswa sedangkan SMKN, 10.548 siswa. Masing-masing rombongan belajar (Rombel) di setiap kelas yang ada di SMA dan SMK negeri ada 36 siswa.

"SMA negeri si Kota Depok sampai saat ini ada 13 SMA Negeri dan 4 SMK Negeri," kilahnya (OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More