Senin 17 Juni 2019, 16:00 WIB

Amerika Serikat Tetap Jadi Tujuan Penting Ekspor Indonesia

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Amerika Serikat Tetap Jadi Tujuan Penting Ekspor Indonesia

Mark RALSTON / AFP
Kesibukan Pelabuhan perdagangan di Port of Long Beach, di Los Angeles

 

WALAUPUN terkena imbas dari perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok, AS tetap menjadi tujuan penting dari ekspor Indonesia.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Perdagangan, pada penghujung tahun 2018, AS tetap berada di urutan pertama negara prioritas bagi produk Indonesia.

Baca juga: Lepas 2 Miliar Saham, Bali United Go Public

Pengukuran ini menggunakan empat buah indikator yang mencakup indikator makro ekonomi yang berhubungan dengan daya dorong atau daya tarik untuk ekspor barang dan jasa, indikator perdagangan, indikator hambatan alamiah, dan indikator hambatan tarif maupun non tarif.

Kondisi ini tentu saja dapat membantu meningkatkan perekonomian Indonesia jika dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Pingkan Audrine Kosijungan, mengatakan perang dagang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan potensi ekspor Indonesia ke AS dengan tetap memperhitungkan selisih perdagangan bilateral yang saat ini sudah mencapai US$ 12,6 miliar agar tidak semakin melebar.

Pilihan komoditas ekspor yang tepat dan strategi diplomasi perdagangan Indonesia perlu terus dioptimalkan agar penetrasi produk-produk Indonesia ke pasar AS dapat memperkecil defisit neraca perdagangan yang ada saat ini.

Jika tidak dilakukan dengan hati-hati, peluang ini dapat menjadi bumerang bagi Indonesia karena dikhawatirkan akan menyebabkan AS mencabut mekanisme generalized system of preferences (GSP) terhadap Indonesia.

Terlebih baru-baru ini, Indonesia juga kalah dalam kasus pengenaan trade remedy oleh AS yang berdampak signifikan bagi ekspor produk kertas ke Amerika Serikat.

“Bukan tanpa alasan kita harus fokus mempertahankan penetrasi produk kita ke pasar Amerika Serikat. Setidaknya pada semester pertama tahun 2018, enam dari sepuluh komoditi utamaekspor Indonesia menempatkan mereka sebagai negara tujuan pada posisi teratas – industri tekstil dan produk tekstil (TPT), karet dan produk karet, alas kaki, udang, kakao dan kopi, posisi ketiga untuk komoditi hasil hutan dan posisi kesembilan untuk komoditi sawit dengan total nilai ekspor kedelapan komoditi tersebut mencapai USD 5,5 juta,” jelas Pingkan, melalui rilis yang diterima, Senin (17/6).

Pingkan memaparkan, pemerintah perlu mengoptimalkan strategi perdagangan yang sudah ada. Berdasarkan data WTO di bulan Oktober 2018, jumlah kerja sama perdagangan Indonesia mencapai 288 dengan ragam bentuk seperti bilateral maupun multilateral. Tidak jarang, kerja sama ekonomi yang termuat dalam ini tumpang tindih satu dengan yang lainnya.

Baca juga: ULN Akhir Maret Tumbuh, BI: Faktor Penguatan Nilai Tukar Rupiah

Dengan adanya road map yang jelas, diharapkan pemerintah bisa mengetahui dengan jelas produk/komoditas ekspor mana yang dapat diintensifkan ke negara mitra yang memiliki pasar potensial.

“Dengan adanya road map tersebut, produsen dalam negeri juga bisa memetakan produk/ komoditas apa saja yang dapat diekspor dalam jumlah besar dan ke negara mana. Momentum perang dagang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ekspor Indonesia ke Amerika Serikat,” tandasnya. (OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More