Kompetisi

Penulis: Ratno Lukito Direktur Riset dan Publikasi Yayasan Sukma Pada: Senin, 17 Jun 2019, 06:40 WIB Opini
Kompetisi

DOK PRIBADI
Ratno Lukito Direktur Riset dan Publikasi Yayasan Sukma

“YOU have competition every day because you set such high standards for yourself that you have to go out every day and live up to that.” (Michael Jordan)

Barangkali tidak ada lagi orang yang tidak mengenal kata ini. Kompetisi memang begitu menggejala dalam seluruh relung kehidupan kita. Sedari TK hingga perguruan tinggi kita semua selalu didorong berkompetisi, jika tidak ingin tersingkir dari kehidupan ini. Survival of the fittest, hanya mereka yang memenangi kompetisi yang bakal mampu bertahan dalam kehidupan ini.
   
Coba perhatikan kata-kata Michael Jordan di atas. Setiap hari kita menghadapi kompetisi. Sebab, dengan kompetisi itu kita mampu menjadi manusia berkualitas, mampu menghadapi segala tantangan kehidupan. Kompetisi menjadi ajaran kehidupan, yang tanpanya ras manusia di muka bumi ini mungkin akan segera punah.
   
Ajaran seperti inilah yang terus dicekokkan dalam kehidupan. Dari sejak awal proses konsepsi, bakal manusia pun sudah diharuskan menjadi pemenang dari kompetisinya dengan ribuan sel sperma lainnya yang berebut membuahi sel telur. Jika ingin tetap hidup, manusia juga harus mampu melawan segala bentuk penyakit yang bakal menggerogoti usianya.
   
 Di arena kehidupan publik, kompetisi pun menjadi ukuran seseorang sukses atau gagal. Kegagalan hanya akan berakibat buruk pada kehidupannya, yakni termarginalkan, tereliminasi, atau bahkan terbunuh. Karena itulah, setiap individu harus mampu berkompetisi. Harus menang dan menaklukkan orang lain. Entah itu dalam maknanya yang hakiki, seperti dalam kasus peperangan atau dalam arti majazi, kompetisi dalam arti luas di kehidupan sehari-hari.
     
Walhasil, kehidupan ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang kuat dan menang. Bukan untuk mereka yang lemah dan kalah dalam mengarungi kompetisi global. untuk itulah, pendidikan modern didesain sedemikian rupa menciptakan robot hidup yang mampu menjadi manusia super-human calon pemenang persaingan. Sains dan segala perbincangan dalam ilmu pengetahuan menggambarkan ini semua.  

Pendidikan kompetitif
Jika kita memahami pendidikan sebagai sarana memampukan manusia mengarungi kehidupan ini, ia menjadi conditio sine qua non. Di situlah muncul ajaran mass education atau education for all. Tidak boleh ada yang terlewatkan dari program pendidikan itu. Bahkan, pendidikan menjadi ukuran seberapa jauh kemajuan atau ketertinggalan suatu bangsa dideskripsikan.
    
Berbagai indeks dan ukuran diciptakan untuk memberikan gambaran yang merefleksikan secara verbatim kondisi pendidikan suatu negara tertentu. Utamanya di negara-negara dunia ketiga, gerakan mengejar ketertinggalannya dari negara-negara Barat telah melahirkan suatu pemahaman yang umum bahwa pendidikan yang berhasil selalu berbanding lurus dengan meningkatnya kemampuan kompetitif dari peserta didik.
   
Dengan kata lain, kelulusan selalu diukur dengan nilai kuantitatif tinggi, yang diwujudkan dalam bentuk angka atau huruf. Rapot atau laporan akhir yang menggambarkan prestasi peserta didik pada suatu semester tertentu selalu saja digambarkan dalam bentuk angka (1-10) atau huruf (biasanya A-F), yang secara simplifikatif dianggap mewakili kondisi kemampuan dari peserta didik.      
     
Karena itu, sistem pendidikan di sekolah-sekolah kita tak ubahnya arena pertandingan bagi semua peserta untuk lolos dalam pertarungannya dengan sesama peserta didik lainnya. Wujud nyata dari dramatisasi proses survival of the fittest. Yang berhasil menjadi juara ialah pahlawan dalam miniatur proses kompetisi alam itu, dan mereka yang gagal ialah yang bakal menjadi pecundang. Menunggu giliran untuk tersingkir dari pergaulan kehidupan.
    
Pendidikan menjadi semacam mesin penyaring, yang memisahkan siswa yang secara kuantitatif berkualitas dan tidak. Di sinilah karenanya lembaga-lembaga bimbingan belajar yang melatih siswa menghadapi ujian lulusan menjadi laris manis. Dalam hal ini, lembaga shadow education itu berperan besar melatih peserta didik mempersiapkan kompetisi besar yang menjadi penentu kesuksesan belajarnya pada masa mendatang.
     
Problem utamanya, munculnya absurditas yang blatan dalam proses pendidikan semacam itu. Penilaian terhadap keberhasilan pendidikan hanya dilihat dari aspek kuantitatif siswa, dan menghilangkan sejumlah faktor yang sejatinya lebih menggambarkan perkembangan anak didik.
    
Itulah mengapa pemikiran progresif dalam menilai perkembangan kognitif peserta didik (khususnya siswa dasar dan menengah) yang muncul sejak era 1970-an sangat urgen diperbincangkan di negeri ini.

Pengalaman mancanegara
Beberapa bulan lalu, Kementerian Pendidikan Singapura merilis kebijakan mengubah orientasi belajar siswa dari pendidikan pendekatan kompetisi menjadi nonkompetitif. Menteri Pendidikan Ong Ye Kung menyatakan learning is not a competition. Dengan pendekatan ini, mulai tahun ini Singapura tidak lagi menggunakan pendekatan konvensional yang menilai prestasi belajar siswa dari nilai ujiannya.
    
Apakah seorang siswa akan lulus dengan prestasi juara atau tidak, bukan menjadi ukuran menentukan. Rapor siswa tidak lagi dihiasi nilai-kuantitatif. Posisi rangking siswa jika dibandingkan dengan siswa-siswa lain di kelas pun tidak akan dimunculkan dalam rapor.
    
Karena itu, beberapa kriteria yang sebelumnya ada dalam rapor sekolah akan dihapuskan, yaitu nilai rata-rata kelas, nilai terendah/tertinggi, pemberian warna khusus nilai tidak lulus, hasil kelulusan/kegagalan setiap akhir tahun, dan nilai rata-rata pelajaran. Lalu, nilai total sekolah, L1R5 (Bahasa Inggris plus lima mata pelajaran terkait), L1R4, EMB3 (Bahasa Inggris, matematika, tiga mata pelajaran terbaik), dan EMB1 untuk siswa kelas menengah pertama (https://citinewsroom.com/2018/10/singapore-abolishes-school-exam-rankings).  
    
Langkah serupa sebetulnya sudah diterapkan di Finlandia. Menurut Mr Ong, pendekatan baru ini memungkinkan setiap siswa lebih fokus pada perkembangan studinya secara menyeluruh tanpa harus dibebani kewajiban untuk membandingkan prestasinya dengan siswa lain.
     
Dengan begitu, proses belajar di kelas tidak lagi menggunakan pendekatan kompetitif. Pendidikan tidak dilakukan layaknya sebuah lomba lari, yaitu satu siswa harus mengalahkan siswa lainnya untuk mencapai garis finis. Setiap siswa membawa karakter perkembangan sendiri disesuaikan kekhususan sifat yang dibawa pribadi siswa.
    
Konsekuensi pendekatan nonkompetitif ini, ujian siswa kelas 1 dan 2 SD tidak perlu diselenggarakan. Karena itu, metode penilaian yang lama juga akan dihapuskan. Ujian baru dilakukan untuk siswa di atas kelas 2 tetapi tidak dengan sistem nilai kuantitatif, tetapi dengan metode deskriptif verbal yang memberikan penilaian prestasi dan perkembangan siswa secara kualitatif, tanpa kompetisi antarsiswa. Komunikasi antara sekolah dan orangtua juga akan lebih diintensifkan untuk mendeskripsikan perkembangan siswa secara kontinu.      
    
Dalam satu kesempatan Menteri Ong menjelaskan, menghapuskan indikator penilaian kuantitatif itu dengan satu tujuan utama agar peserta didik tidak lagi memahami bahwa pendidikan itu ialah suatu kompetisi, tetapi lebih sebagai suatu proses pendisiplinan diri agar mereka mampu menghadapi hidup ini dengan lebih baik lagi.
    
Kompetisi rupanya tidak lagi dilihat sebagai sebuah metode terbaik untuk mendidik anak-anak kita supaya lebih bijaksana dalam menghadapi masa depan, yang tentu akan berubah dengan cepat.
     
Sifat individualisme dan egoisme yang merupakan bawaan proses kompetisi perlu diganti pengembangan sikap dan perilaku kerja sama dengan sesama. Yang pada gilirannya memampukan mereka lebih menghargai orang lain dan terampil untuk hidup dalam alam keberbedaan.
    

 


         

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More