Fedi Nuril Lelucon yang Bikin Deg-degan

Penulis: Patna Budi Utami Pada: Senin, 17 Jun 2019, 01:00 WIB Hiburan
Fedi Nuril Lelucon yang Bikin Deg-degan

ANTARA FOTO/Teresia May
Fedi Nuril

AKTOR Fedi Nuril, 36, muncul dalam film Mendadak Kaya. Ia berperan sebagai sosok pelawak, Doyok, yang banyak mengeluarkan lelucon kritis. Teranyata peran tersebut membuat aktor bernama lengkap Fedrian Nuril itu takut membuatnya terjerat Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

"Saya lebih takut karena karakternya Doyok mengkritik pemerintah. Saya takut kalau nanti jokes-nya salah tempat karena sekarang ada Undang-Undang ITE," kata Fedi saat berbincang seusai pemutaran perdana film tersebut di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dalam film tersebut, Doyok memang digambarkan sebagai seorang pemuda yang kritis. Ia selalu mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah, layaknya aktivis, tetapi dengan gaya yang sok tahu.

Bagi Fedi, hal tersebut tidaklah mudah sebab ia takut menyinggung pihak tertentu. "Kata Pandji (Pandji Pragiwaksono) sekarang itu enggak bisa ditebak siapa yang bisa tersinggung. Misalnya, kita ngomong A, tahunya yang tersinggung malah si B. Jadi, hati-hati banget dan deg-degan," jelas aktor yang namanya melambung melalui film Ayat-Ayat Cinta itu.

Fedi juga melakukan beberapa diskusi dengan sutradara Anggy Umbara untuk menentukan jenis lelucon yang bisa digunakan. Bahkan, ada beberapa lelucon yang akhirnya batal dimasukkan ke film. "Kita diskusi dulu sih, ini aman apa enggak," ujar Fedi.

Mendadak Kaya bercerita tentang Doyok, Ali Oncom, dan Otoy yang ingin menjadi orang kaya. Suatu hari, mereka menemukan sebuah koper berisi uang. Ketiganya lantas menjadi kaya raya, tetapi hal-hal tidak terduga juga telah menanti di hadapan mereka.

Selain harus berhati-hati ketika mengungkapkan lelucon, ia juga mengaku harus kerja ekstra dalam memerankan Doyok, antara lain harus menyelami karakter Doyok dan menghubungkan guyonan tersebut dengan konteks zaman sekarang.

Doyok merupakan karakter komik legendaris yang ada di koran Pos Kota. Karena sang pencipta komik sudah meninggal, Fedi harus semakin banyak membaca kembali komik-komiknya.

"Pertama, saya baca ulang terus comic stream-nya karena yang membuat karakter Doyok itu sudah meninggal. Jadi, susah untuk bertanya-tanya detail tentang karakternya. Jadi, saya baca ulang dan joke-nya dicoba lagi disesuaikan dengan zaman sekarang, biar lebih universal penontonnya," katanya.

Improvisasi pun diperlukan untuk membuat film jadi hidup. Dengan seperti itu, lanjut Fedi, orang yang tertawa bukan hanya dari kalangan yang pernah membaca komik Doyok, Otoy, Ali Oncom di koran. "Jadi, enggak orang zadul saja yang ngerti. Anak muda sekarang juga ngerti," katanya.

Dalam proses pendalaman karakter, Fedi pun banyak meminta bantuan lawan mainnya, Pandji Pragiwaksono dan Dwi Sasono. "Tukar pendapat dengan lawan main, apakah saya sudah seperti Doyok atau tidak. Mereka juga nanya pendapat saya," tuturnya.

Gigi palsu
Saat memerankan tokoh ini, Fedi sempat merasa tidak nyaman. Pertama, karena lokasi syutingnya di Jakarta yang udaranya panas. Kedua, karena ia harus menggunakan gigi palsu lantaran karakter Doyok memiliki gigi tonggos.

"Jakarta panas, tapi yang lebih susah lagi giginya. Gigi palsu bikin lidah jadi tidak ada tempat untuk artikulasi yang jelas. Itu harus menggunakan tenaga lebih, sampai lidah pegal. Jadi (dialog) sering diulang karena artikulasi kurang jelas, sedangkan yang diomongin Doyok topiknya agak berat, politik," katanya diiringi tawa.

Meski demikian, pria kelahiran 1 juli 1982, itu mengaku memiliki kemiripan dengan karakter Doyok, terutama soal kesukaan pada sepak bola dan sikap kritis terkait dengan situasi terkini.

"Bisa dibilang saya mengikuti situasi terkini tentang negara, pemerintahan, dan Doyok juga kan suka bola. Namun, saya mengkritik hal-hal yang saya ngerti dan dengan kapasitas saya. Itu yang saya kritisi," tuturnya.

Menurutnya, Doyok sebenarnya ialah sosok orang yang bijak meski tidak bisa menerapkan pada dirinya sendiri. Meski demikian, ada beberapa hal yang bisa dijadikan pelajaran dari tokoh Doyok, Ali Oncom, dan Otoy, salah satunya kritis terhadap sesuatu dan itu sangat relevan dengan kehidupan masyarakat sekarang.

"Kita harus perhatian pada sekeliling kita dari yang kecil lalu ke yang besar. Kita harus kritis terhadap sesuatu yang janggal, kita harus tanya dulu (informasi), jangan ditelan mentah-mentah. Apalagi dengan hoaks seperti sekarang yang selalu berseliweran, sangat related dengan keadaan sekarang," jelasnya. (Medcom.id/Ant/H-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More