Harapan Baru dari Setetes Darah

Penulis: Rizky Noor Alam rizkynoor@mediaindonesia.com Pada: Minggu, 16 Jun 2019, 03:10 WIB WAWANCARA
Harapan Baru dari Setetes Darah

MI/PIUS ERLANGGA
Pengurus Pusat Palang Merah Indonesia (PMI) Bidang Donor Darah, Linda Lukitari Waseso

TANGGAL 14 Juni diperingati sebagai Hari Donor Darah Sedunia. Para pendonor darah memiliki peran penting menyelamatkan orang lain dari darah yang didonorkan.

Namun, rumor kesterilan peralatan donor yang digunakan, momok potensi penularan penyakit kerap beredar di masyarakat membayangi aksi kemanusiaan yang mulia itu.

Bagaimana sebenarnya kesadaran masyarakat Indonesia akan donor darah saat ini? Inovasi apa saja yang dilakukan untuk menggaet minat pendonor? Berikut petikan wawancara eksklusif Media Indonesia dengan Pengurus Pusat Palang Merah Indonesia (PMI) Bidang Donor Darah, Linda Lukitari Waseso, di kantornya, Rabu (12/6).

Tanggal 14 Juni kemarin ialah Hari Donor Darah Sedunia. Sejauh ini bagaimana kesadaran masyarakat Indonesia terkait dengan donor darah?

Dengan kepemimpinan Pak Jusuf Kalla selama 2 periode ini sangat meningkat. Kalau dulu mungkin masih terdengar kekurangan di sana-sini, tapi antusiasme atau partisipasi para pendonor itu cukup tinggi. Sekarang kita punya moto 'donor darah adalah gaya hidup' karena kami punya unit donor darah di mal-mal. Kalau tidak donor itu tidak keren karena sudah menjadi suatu lifestyle. Kalau dulu usia pendonor itu rata-rata di usia 35 tahun, 40 tahun, 50 tahun. Sekarang sudah lebih muda, di usia 20-30 tahun sudah rutin mendonorkan darah sehingga ada perubahan pola dan antusiasnya kepada yang lebih muda.

Bagaimana kesiapan fasilitas donor darah PMI?

Saat ini PMI mempunyai unit donor darahnya sebanyak 220 unit yang tersebar hampir di seluruh provinsi. Jadi, ada di 34 provinsi, tapi yang di tingkat provinsi hanya 10 provinsi, sisanya tersebar di tingkat kabupaten/kota.

Bagaimana dengan stok ketersediaan darah di PMI? Mekanisme pengaturannya seperti apa, baik dalam hal pemenuhan stok, distribusi, maupun menjaga keamanan persediaan?

Terkait dengan stok dan pendistribusian, kami ini cukup besar persebarannya. Kami membuat sistem yang namanya regionalisasi, yakni kita membagi ke lima regional yang menjadi jejaring.

Misalnya, regional I mencakup Sumatra, Jawa Timur, itu nanti ada istilahnya konsolidasi dalam hal jejaring distribusi. Contoh stok darah Jabodetabek, kalau Depok kekurangan karena ada sistem jejaring, kita bisa mengirimkan dari Tangerang atau Bekasi. Jadi, informasi ini ada yang disebut dengan SIM (sistem informasi manajemen) donor darah yang bisa real time.

Kenapa kita mengadakan regionalisasi dan konsolidasi yang sifatnya jejaring? Itu demi keamanan darah. Kalau di konsolidasikan, pemeriksaan dan lain-lainnya lebih aman dari infeksi menular oleh karena transfusi darah.

Apa saja kendala PMI untuk memenuhi ketersediaan stok darah selama ini?

Sebenarnya kalau kendala distribusi hampir tidak ada. Kendala bagi kami ialah para pendonor di saat puncak liburan yang jumlahnya kurang. Apalagi, saat ini yang masa selesai puasa, libur panjang, libur Lebaran, Natal, atau Tahun Baru.

Contohnya di bulan puasa, kami tidak mengambil darah pada pagi dan siang hari, tapi kami ambil setelah berbuka puasa dengan datang ke masjid-masjid. Untuk yang nonmuslim biasanya jika sudah mendekati jadwal donor darah, kami mundurkan ke bulan puasa karena tidak puasa.

Kalau distribusi ada kesulitannya di wilayah Indonesia Timur karena transportasi. Namun dengan regionalisasi yang kami buat, misalnya regional V itu di Makassar, bisa mengirim ke Maluku, Maluku Utara, Papua, maupun Papua Barat karena lebih mudah transportasinya. Jadi, rujukan tidak perlu lagi harus ke pusat.

Program-program inovatif apa yang terus dilakukan dan dikembangkan PMI untuk menjaring semakin banyaknya pendonor?

Untuk menjaring masyarakat sekarang ini kita berinovasi dengan media sosial. Sekarang bukan hanya kaum milenial yang memiliki media sosial, melainkan kaum senior pun menggunakan media sosial. Media sosial kami itu menginformasikan atau mengajak, misalnya melalui Facebook dan Twitter. Selain menyosialisasikan, juga mengedukasi bagaimana menjadi pendonor yang sukarelawan dan rutin karena itu yang penting.

Jadi, kita mengedukasi (donor sebaiknya) setiap 3 bulan sekali, kenapa? Kalau rutin 3 bulan, kita akan mengetahui keamanan darah. Contohnya kita akan memeriksa darah itu ada empat penyakit, yaitu hepatitis B, hepatitis C, HIV/AIDS, dan sifilis, ini merupakan keamanan darah. Kalau kita donor suka-suka tanpa rutinitas, ini yang dikhawatirkan ada infeksi menular.

Bagaimana dengan program-program PMI, seperti Sedekah Darah maupun donor darah di mal, apakah masih eksis dan bagaimana evaluasinya sejauh ini? Inovasi lainnya?

Kalau untuk di mal, hanya di beberapa tempat dan masih efektif. Kalau Sedekah Darah itu kan bahasa media sosial untuk membuat orang lebih tergugah sebenarnya.

Unit Donor Darah PMI yang saat ini sudah mendapat sertifikasi CPOB (cara pembuatan obat yang benar) dari Badan POM. Sertifikasi itu nantinya untuk plasma, plasma kita ini banyak yang terbuang dan bisa dijadikan obat dengan cara yang disebut fraksionasi plasma. Darah akan dipecah albumin, globulin, faktor 8, dan faktor 9.

Ke depan, PMI itu menjadi penyedia plasma yang akan diberikan ke Biofarma. Nantinya kita kerja sama dengan Biofarma membangun pabrik fraksionasi plasma. Kami sudah punya enam yang tesertifikasi internasional oleh Badan POM. Jadi, plasma kita nantinya di tol manufacturing-kan ke salah satu negara yang sudah mempunyai fraksionasi dan nanti dikembalikan menjadi obat. Satu lagi, kami akan membangun pabrik kantong darah karena selama ini kan impor semua.

Bagaimana cara PMI meluruskan rumor-rumor yang beredar di masyarakat tentang donor darah, misalnya, soal infeksi menular atau soal kesterilan peralatan yang digunakan?

Dari proses kita mau mendonor, kita harus pastikan badan sehat. Kemudian waktu datang akan dianalisis, diperiksa hemogoblinnya berapa, tinggi badan, berat badan, umur, setelah itu ditanya mengenai penyakit-penyakit yang pernah dialami, itu screening pertama.

Kalau lolos diambil darahnya sesuai golongan darahnya. Setelah itu, darah hasil donor tidak langsung diberi begitu saja karena harus diperiksa lagi untuk 4 penyakit (hepatitis B, hepatitis C, HIV/AIDS, sifilis) dan pemeriksaan itu tidak hanya pada Elisa (enzyme linked immunosorbent assay) atau Clia (chemiluminescence immunoassay), tapi juga tinggi lagi, yaitu nucleic acid test, yang mana waktu dari pada virus itu bisa terdeteksi lebih pendek.

Kalau kantong itu tercemar mungkin saja, tapi tidak diberikan kepada pasien yang membutuhkan. Kalau ada yang terinfeksi dan kami ini bukan lembaga yang mendiagnosis, kami akan berikan rujukan untuk diperiksa para klinisi atau dokter yang berhak. Jadi, untuk keamanan darahnya, PMI sudah cukup aman untuk memberikan darahnya kepada yang membutuhkan.

Di Indonesia kebanyakan golongan darahnya resus positif. Bagaimana dengan ketersediaan darah resus negatif?

Memang kalau orang Indonesia untuk resusnya lebih banyak resus positif. Kalau resus negatif tidak perlu khawatir karena kita punya kemitraan yang merupakan kelompok orang-orang yang memiliki resus negatif, nama kelompoknya ialah Kelompok Resus Negatif. Jika ingin bergabung bisa menghubungi www.resusnegatif.com. Jadi, kalau ada WNA yang butuh resus negatif itu tidak perlu khawatir, kita sudah siap untuk itu.

Apa sebenarnya manfaat dari donor darah yang harus disadari masyarakat?

Sebagai pendonor, darah itu secara alamiah setiap 3 bulan akan dibuang dengan cara dipecah sumsum tulang belakang dan akan diperbarui. Dari pada dibuang begitu saja lebih baik diambil, dikeluarkan, dan berikan ke orang yang membutuhkan. Jadi, badan kita akan lebih segar.

Misalnya perempuan yang mau diet, kalau diambil 350 mililiter itu dalam penelitian mengurangi kalori kurang lebih 65-95 kilogram. Manfaat lainnya mencegah penyakit jantung, stroke, karena kelebihan zat besi. Donor darah juga otomatis menjadi pemeriksaan kesehatan gratis karena kita diperiksakan 4 penyakit tadi.

Bagi penerima, otomatis terbantu karena bisa membuat hidupnya lebih baik karena sekarang darah itu oleh Badan POM itu merupakan obat, misalnya, mereka yang sakit lever, ginjal mereka membutuhkan albumin, plasma, yang sebenarnya merupakan pecahan-pecahan darah.

Apa saja kriteria mereka yang mendonorkan darahnya pertama kali?

Tidak sulit, badan kita harus sehat. Namun ada kriteria khusus, yaitu usia minimal 17-65 tahun. Kalau perempuan itu hemoglobinnya harus 12 gram per desiliter, kalau kurang terkena anemia, berat badan tidak boleh kurang dari 45 kg. Tekanan darahnya pun harus normal 120/80.

Yang lebih penting lagi, setelah kita donor ialah rutinitas 3 bulan sekali, apabila diingatkan untuk mendonor, sisihkan waktunya sebentar 5-15 menit untuk mendonorkan darahnya.

Lalu kalau melihat kantongnya dulu hanya 250 mililiter, sekarang 450 mililiter. Itu karena kalau hanya 250 mililiter, darah tidak bisa dipecah menjadi komponen darah.

Darah itu dipecah menjadi tiga komponen, yaitu plasma, trombosit, dan ada lagi leukosit. Jadi, kalau kita mendonorkan darah, kita tidak hanya menyelamatkan satu orang, tapi bisa tiga orang dalam satu kantong itu.

Apa apresiasi untuk pendonor rutin?

Kita memberikan apresiasi kalau sudah 10, 25, 50, 75 kali, dan 75 kali itu piagamnya di tandatangani gubernur. Kalau 100 kali, dia akan menerima Satya Lencana Kebaktian Sosial dari presiden, setiap tahunnya itu ada sekitar 850 orang yang diundang presiden menerima Satya Lencana Kebaktian Sosial, sedangkan kalau dari ketua umum PMI biasanya kami tanda dengan cincin emas berlogo PMI.

Apa harapan Anda kepada pemerintah untuk mewujudkan pengaturan donor darah yang lebih baik di masa depan?

Ke depan, keinginan kami ialah dibangun suatu lembaga yang berfungsi sebagai suatu pusat yang menghitung kebutuhan dan ketersediaan darah secara nasional karena darah itu tidak boleh kelebihan ataupun kekurangan.

Sebenarnya, di Permenkes No 83 Tahun 2014 Unit Donor Darah Pusat PMI sudah ditunjuk, tapi sampai saat ini belum ada SK-nya. Sebenarnya, darah itu dihitung WHO ialah 2% dari jumlah penduduk. Jadi, kebutuhan Indonesia secara nasional itu lebih kurang 5,2 juta kantong darah. PMI itu sudah memberikan 92% dari kebutuhan itu, sisanya dipenuhi unit donor darah di rumah sakit yang dikelola pemerintah dan pemerintah daerah. (M-3)

Nama: Linda Lukitari Arimurtiningrum

Tempat, tanggal lahir: Jakarta, 22 Maret 1963

Pendidikan

S-1: Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta

Suami: dr Markus Waseso

Anak

Hebrew Handari Prakoso

Maria Filyssia Priscila

Karier

2014-sekarang: Ketua Bidang Unit Donor Darah Pengurus Pusat PMI

2014-sekarang: Ketua Dewan Pengawas Akademi Bakti Kemanusiaan PMI

2016-sekarang: Komisaris PT Sari Husada Bhakti Priscilla Medical Center

2009-sekarang: Direktur RSIA Panti Nugraha Jakarta

VIDEO TERKAIT:

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More