Sabtu 15 Juni 2019, 19:28 WIB

Denyut Kehidupan Pulau D Berlangsung Malam Hari

Rifaldi Putra irianto | Megapolitan
Denyut Kehidupan Pulau D Berlangsung Malam Hari

MI/FERDIAN ANANDA MAJNI
Suasana di kawasan food court Pulau D

 

KAWASAN Pantai Maju (Pulau D), di Pulau reklamasi pantai Jakarta mulai memperlihatkan aktivitasnya pada malam hari, berbeda pada pagi dan siang hari pulau hasil reklamasi ini sepi bak pulau mati.

Dalam pantauan pada pukul 19.00 WIB, Sabtu, (15/6) kerumunan warga terlihat di area Food Street, pusat makanan di kawasan pantai maju tersebut menyediakan berbagai macam hidangan kuliner. Mulai dari Bakmi Jogja, hingga Chinese Food tersedia disana.

Pengunjung dari arah Pantai Indah Kapuk terlihat terus berdatangan, separuh jalan tepat di depan area Food Street disulap menjadi lahan parkir pengunjung.

Beberapa pengunjung terlihat berdatangan membawa keluarga, maupun krabat. meja dan kursi dengan desain minimalis bermaterial Kayu dan besi mulai diisi oleh para pemburu kuliner.

Seorang pengunjung, Hendri, 40, mengaku baru pertamakali berkunjung bersama dengan keluarga, ia mengunjungi karena penasaran dengan food street dikawasan pantai maju ini.

"Ini pertama kali kesini, tau ini dari temen tempat baru pengen coba, karena suka kuliner juga ya kuliner hunter lah, " katanya saat ditemui di Food Street Pantai Maju, Jakarta, Sabtu, (15/6).

Ia juga mengatakan berkunjung kesini ingin menjajal salah satu kedai daging grill, yang menurut informasi yang ia dapat memiliki cita rasa yang enak.

"Kemarin sih ada yang bilang beberapa ada yang oke, katanya sih yang kedai daging grill enak, " jelasnya.

Baca juga: Pengamat: IMB Bangunan Pulau Reklamasi Menyalahi Aturan

Suasana area sepanjang lebih kurang 200 meter ini terlihat semakin malam semakin semarak, lampu-lampu kecil yang bergelantungan semakin memperindah penampakan area tersebut.

Harum masakan khas dari tiap kedai, Iringan musik serta semilir angin semakin membuat para pengunjung merasa nymana dan betah untuk berlama-lama.

Sementara itu, Nana, 41, yang merupakan pengunjung asal Grogol, Jakarta Barat mengaku tertarik melihat food street ini karena terlihat nyaman dan santai.

"Untuk tempat sih oke yah, cukup menarik keliatanya sih cozy, banyak lampu-lampu jadi orang tertarik untuk datang, " ucapnya.

Ia yang membawa serta anaknya kesini mengaku senang dengan jalan yang sepi sehingga anaknya dapat bersepeda dikawasan tersebut.

"Itu anak saya lagi jalan-jalan naik sepeda, jalananya juga sepi jadi cukup aman lah untuk anak saya bersepeda, " tuturnya.

Terlihat pula para petuga kebersihan, tengah berkeliling untuk membereskan sisa makanan di meja-meja makan.

Sementara itu, Bella, 20, sudah sering datang ketempat ini untuk berkuliner bersama teman-temannya.

"Makanannya disini enak-enak, makanya sering kesini. Suasnanya sudah beda, begitu naik jembatan sudah terasa ekslusif. Kalau tempat lain pinggir jalan begini kan bising, kalau ini enggak, " Tuturnya.

Adapun area Food Street ini akan terus menemani malam para pengunjung hingga pukul 24.00 WIB

Tak jauh dari area Food Street pengunjung dapat menikmati susana malam di Jembatan yang menghubungkan antara daratan Ibu Kota denga Pantai Maju, berswa foto menjadi pilihan yang paling sering dilakukan para pengunjung saat berkunjung di jembatan tersebut.

Sebelumnya, Kawasan Pantai Maju, di pulau reklamasi pantai Jakarta kembali menjadi perbincangan, seiring dengan dikeluarkanya Izin Mendirikan Bangunan (IMB) oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI meski Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Rancangan Zonasi Wilayah Pesisir dan pulau-pulau kecil (RZWP3K) belum rampung.

Adapun alasan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menerbitkan IMB untuk kawasan tersebut adalah Pergub 206/2016 yang merupakan landasan hukum bagi pengembang untuk membangun.

" Bila saya mencabut Pergub itu, agar bangunan rumah tersebut kehilangan dasar hukumnya, lalu membongkar bagunan tersebut maka yang hilang bukan saja bangunannya tapi kepastian atas hukum juga jadi hilang, " kata Anies dalam keterangan tertulis, Kamis (13/6).

Ia juga menyebutkan, bila penerbitan itu tidak dilakukan dan pemerintah melakukan pembongkaran, dunia usahaakan kehilangan kepercayaan pada peraturan gubernur dan hukum.

"Bayangkan jika sebuah kegiatan usaha yang telah dikerjakan sesuai dengan peraturan yang berlaku pada saat itu bisa divonis jadi kesalahan, bahkan dikenai sanksi dan dibongkar karena perubahan kebijakan di masa berikutnya. Bila itu dilakukan, masyarakat, khususnya dunia usaha, akan kehilangan kepercayaan pada peraturan gubernur dan hukum. Efeknya peraturan Gubernur yang dikeluarkan sekarang bisa tidak lagi dipercaya, karena pernah ada preseden seperti itu," Jelasnya. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More