Sabtu 15 Juni 2019, 01:50 WIB

Untuk Sawah yang Tahan Garam

MI | Humaniora
Untuk Sawah yang Tahan Garam

DOK. YAYASAN ESA KHATULISTIWA
Tim Institut Teknologi Sepuluh Nopember dan Yayasan Eka Khatulistiwa menguji salinitas terhadap beberapa varietas padi di Pamekasan

 

TINGGAL di wilayah pesisir di Pamekasan, Jawa Timur, tepatnya di Desa Buddagan, membuat Yogie Anggita Baskara terbuka mata akan dampak perubahan iklim. Salah satunya ialah intrusi dan kenaikan muka air laut.

Sementara itu, kenaikan muka air laut mengancam garis pantai dan intrusi air laut mengancam sumber air tawar. Di masa mendatang, dampaknya bisa lebih luas karena hunian hingga areal persawahan akan semakin menyempit.

Berbagai permasalahan lingkungan akibat perubahan iklim ini pula yang membuat Yogie yang merupakan mahasiswa pascasarjana Institut Teknologi Surabaya (ITS) bergabung dalam penelitian salinitas (kadar garam terlarut dalam air) lahan yang dilakukan Laboratorium Ekologi ITS dan Yayasan Eka Khatulistiwa.

"Karena saya dari keluarga tani. Pernah tanam juga bareng keluarga dulu, waktu SMP-SMA itu pernah. Cuma kalau pembahasan lebih detail tentang cekaman salinitas itu baru tahun lalu," ujar Yogie kepada Media Indonesia, beberapa waktu lalu.

Peneliti Laboratorium Ekologi Departemen Biologi ITS, Mukhammad Muryono, mengungkapkan jika kenaikan muka dan intrusi air laut semakin terlihat di banyak daerah peisisir di Tanah AIr.

"Kemudian setelah adanya kenaikan permukaan air laut, fenomena salinitas ini tidak hanya di garis pantai, tapi juga sudah mulai masuk ke konteks yang seharusnya tidak salin (tidak asin), tidak payau," jelas Muryono.

Lebih lanjut ia jelaskan, jika dampak permasalahan salinitas terhadap ketahanan pangan akan tidak terhindarkan.

"Persoalannya kita enggak bisa lari dari salinitas itu. Jadi, mau enggak mau kita bikin tanaman juga bisa beradaptasi di sana," tambah Muryono.

Menurutnya, permasalahan tersebut telah terjadi di Mongging, Pademawu, Pamekasan. Intrusi air laut menjadi momok yang tidak terhindarkan. Akibat intrusi air laut, air dari sumur hanya digunakan untuk mencuci dan minum ternak. Selebihnya, masyarakat mengandalkan air dari jaringan PDAM untuk konsumsi.

"Karakteristik sumur warga di sekitar sana sudah terkena intrusi air laut. Jadi masuknya kadar garam dari arus laut, tapi lewat bawah tanah. Itu masuk ke sumur-sumur warga. Di Monging, di sekitar sawah, sumur-sumurnya itu enggak bisa untuk minum karena payau, sedangkan untuk konsumsi air, mereka rata-rata PDAM," tambah Yogie.

Terkait dengan pertanian, ia mengungkapkan, jika petani mengakali air sawah yang kini payau dengan cara pencucian dengan air irigasi. Meskipun cara itu juga tidak sepenuhnya efektif, mengingat jadwal irigasi yang hanya dua kali seminggu, yakni Senin dan Kamis. Selain itu, mereka juga menghadapi kondisi lain, yaitu tanah yang terus menyerap air.

"Solusi saat ini yang dari masyarakat lokal ya pencucian. Sebatas itu. Bisa pencucian irigasi atau menggunakan pompa langsung," terang Yogie.

Beberapa lahan juga mereka mengandalkan tadah hujan. Namun karena kadar salin cukup tinggi, tanaman sering gagal panen karena mereka tidak memungkinkan melakukan pencucian.

Lewat penelitian itu, tim ITS mencoba mencari solusi dengan uji coba di satu petak lahan 20 meter x 30 meter. Terdapat empat varietas yang diuji tanam, yakni Pokali, SL-478, Imparampat, dan IR29. Dua di antaranya punya ketahanan salinitas, yakni Pokali dan SL-478.

Salinitas lahan terbagi menjadi tiga kategori, yakni rendah 2-8 dS/m, menengah 8-15 dS/m, dan tinggi >15 dS/m, sedangkan di Mongging masih berada dalam kategori sedang.

"Untuk lahan kami saat ini masuk lebih rendah dari Surabaya. Lahan yang kami gunakan masih agak jauh dari pantai," ujar Yogie.

Padi di lahan salin memang tidak bisa sembarangan. Harus ada perawatan ekstra, dari ameliorasi tanah atau perbaikan kesuburan tanah, penanaman, pemupukan, pemberantasan hama, hingga pengairan.

Ameliorasi pada lahan salin bisa dilakukan dengan menambah bahan amelioran, seperti kapur dengan jumlah 2-5 ton/ha. Lahan juga harus dilakukan pengukuran salinitas dengan electrical conductively meter (EC meter) untuk mengetahui tingkat salinitas tanah dan menentukan benih padi yang sesuai.

Untuk pasokan air, disarankan mengganti air irigasi secara berkala untuk menghindari kadar salinitas meningkat akibat penguapan. Air yang menguap akan meninggalkan garam dalam tanah. Selain itu, juga disarankan meminimalkan kandungan salinitas tanah yang berasal dari air irigasi. Lebih disarankan membuat bak penampung air hujan atau dari sumber air tawar yang lain.

Pemupukan juga diusahakan tidak memakai pupuk yang mengandung unsur garam. Saat tanaman tumbuh, pengukuran mikro tetap dilakukan, meliputi suhu, keasaman, salinitas, dan kelembaban.

Saat ini usia padi 95 hari dihitung dari hari setelah semai (HSS). Beberapa di antaranya tumbuh cepat dengan kategori pertumbuhan baik, seperti Pokali yang sudah mengisi bulir padi hampir 100%. Diperkirakan akhir Juni atau awal Juli sudah bisa panen. Selanjutnya jenis SL dan IR. Sementara itu, Imparampat masih awal berbunga, baru keluar malai. Hasilnya, tanaman padi di Mongging sudah bisa memukau masyarakat sekitar. (Zuq/M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More