Jumat 14 Juni 2019, 13:10 WIB

Sambil Tersenyum, Pelaku Teror Christchurch Mengaku tak Bersalah

Marcheilla Ariesta | Internasional
Sambil Tersenyum, Pelaku Teror Christchurch Mengaku tak Bersalah

AFP
Pelaku penembakan dua masjid di Selandia Baru, Brenton Tarrant.

 

BRENTON Tarrant mengaku tidak bersalah atas penembakan yang dilakukannya di dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru, yang menewaskan 50 orang. Dia tersenyum kala pengacaranya memasukkan permohonan tidak bersalah atas tuduhan pembunuhan dan terorisme.
 
Pengacara Tarrant mengatakan kepada Pengadilan Tinggi Christchurch bahwa kliennya memohon tidak bersalah atas semua tuduhan. Hal ini memicu kemarahan dari para korban dan kerabat mereka yang tewas dalam serangan 15 Maret lalu.

Baca juga: Kapal Tanker Diserang di Teluk Oman

Anggota supremasi kulit putih itu muncul di pengadilan melalui tautan audio-visul dari penjara dengan keamanan maksimum di Auckland. Sikapnya yang tersenyum tersebut membuat orang-orang geram. "Itu (sikapnya) hanya menunjukkan dia binatang," kata Mustafa Boztas, salah seorang korban yang terluka di paha, dilansir dari AFP, Jumat (14/6). "Saya merasa sedih bahwa seseorang bisa begitu tidak manusiawi dna mengambil nyawa orang yang tak bersalah begitu saja," imbuh dia.
 
Abdul Aziz, yang menghadapi pria bersenjata itu di masjid Lindwood dan mengusirnya dari tempat itu mengatakan ingin melihat wajah Tarrant. "Dia tertawa di sana ( pengadilan), dan dia pikir dia sangat tangguh. Tetapi dia pengecut ketika menghadapi saya dan dia lari," kata Aziz.
 
"Dia tidak cukup jantan untuk berdiri saat itu dan (sekarang) dia berdiri di sana dan tertawa. Masukkan saya selama 15 menit ke dalam selnya dan kita lihat apakah dia masih bisa tertawa lagi," sambungnya geram.
 
Pada 15 Maret lalu, Tarrant menembaki masjid Al Noor yang penuh sesak oleh jemaah yang tengah salat Jumat. Dia kemudian melakukan perjalanan melintasi kota untuk melanjutkan aksinya di masjid Lindwood.
 
Pria 28 tahun itu melakukan siaran langsung kala membunuh para korbannya. Dari hasil pemeriksaan mentalnya, pria Australia itu layak diadili. "Tidak ada masalah yang timbul sehubungan dengan kesehatan terdakwa untuk tak diadili. Dia bisa diadili," kata Hakim Cameron Mander dalam sebuah pernyataan. "Ini upaya untuk membawa kasus-kasus kriminal yang serius ke pengadilan dalam waktu satu tahun penangkapan. Skala dan kompleksitas dari kasus ini menantang kami," imbuhnya.
 
Sementara itu, Didar Hossain, kerabat korban, kecewa dengan sistem peradilan yang butuh waktu lama menangani kasus ini. Dia mendesak kasus ini selesai dalam enam bulan  "Itu tidak akan baik bagi kita. Kita tidak bahagia," pungkasnya. (Medcom.id/OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More