Kamis 13 Juni 2019, 19:10 WIB

Menkes Minta Kemenkominfo Blokir Iklan Rokok di Internet

Indriyani Astuti | Humaniora
Menkes Minta Kemenkominfo Blokir Iklan Rokok di Internet

ANTARA
Menteri Kesehatan RI Nila F Moeloek

 

MENTERI Kesehatan Nila F Moeloek berharap Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) menindaklanjuti surat permintaan terkait larangan iklan rokok di internet.

Dalam surat yang ditujukan kepada Menkominfo pada 10 Juni 2019, disampaikan bahwa Kemenkes berharap agar Kemenkominfo berkenan untuk meiakukan pemblokiran iklan rokok di internet untuk menurunkan prevalensi merokok khususnya pada anak-anak dan remaja.

"Atas kontribusi positif dan kerja sama Saudara dalam mendukung pembangunan kesehatan masyarakat Indonesia yang lebih baik, kami ucapkan terima kasih," tulis Menkes dalam surat tersebut.

Menkes menjelaskan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, menunjukkan bahwa terjadi peningkatan prevalensi perokok anak dan remaja usia 10-18 tahun dari 7,2% pada 2013, menjadi 9,1% pada 2018.

Hal itu terjadi antara lain karena tingginya paparan iklan rokok di berbagai media termasuk media teknologi infomasi. Sebanyak 3 dari 4 remaja mengetahui iklan rokok di media online/daring (Stikom LSPR,2018). Iklan rokok banyak ditemui oleh remaja pada kanal media sosial seperti YouTube, berbagai website, Instagram, serta gim daring.


Baca juga: YLKI: Iklan Rokok di Internet Layak Diblokir


"Kita sudah bermain data. Usia 15-18 tahun, anak laki 20% sudah merokok bahkan usia yang di bawahnya. Mereka merokok karena melihat orang tahunya atau dari iklan. Media sosial yang canggih sekarang, membuat mereka belajar dari ketidaksengajaan. Membuka komputer, gawai dan iklan rokok sangat mempengaruhi," terang Menkes seusai menghadiri pengukuhan Profesor Riset Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) di Kantor Kementerian Kesehatan pada Kamis (13/6).

Kandungan yang ada pada rokok seperti nikotin, imbuh Menkes, bisa menjadi pemicu munculnya penyakit tidak menular pada kemudian hari. Seorang yang mencoba merokok, akan teradiksi sehingga sulit menghentikan kebiasan tersebut. Rokok, kata Menkes, dapat menyebabkan penyakit katastropik yang membebani pembiayaan kesehatan nasional.

Di sisi lain, Menkes mengungkapkan prevalensi perokok pemula (10-18 tahun) di Indonesia kian memprihatikan. Pemerintah berupaya menurunkan target prevalensi perokok pemula menjadi 5% justru malah naik dari 7,2% pada 2013 menjadi 9,1% pada 2018 (Riskesdas 2018).

"Saya berharap Menteri Kominfo segera melakukannya. Untuk melindungi generasi kita dari bahaya rokok," ucapnya.

Selain rokok, Menkes juga mendorong supaya informasi tidak benar (hoaks) mengenai kesehatan juga menjadi perhatian Kemenkominfo agar dapat dilakukan penapisan. (OL-1)

Baca Juga

BMKG

BMKG : Aktivitas Gempa di Lebak dan Sukabumi Meningkat

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Selasa 07 Juli 2020, 23:30 WIB
Gempa yang dirasakan di kedua wilayah itu pada Selasa, 7 Juli 2020 dipastikan tidak saling menjalar dan...
MI/ Bary F

Kebun Raya Bogor kembali Dibuka untuk Umum

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Selasa 07 Juli 2020, 23:20 WIB
Dia berharap, pengunjung dapat mengikuti protokol kunjungan yang berlaku di Kebun Raya untuk bersama-sama membantu mencegah penyebaran...
Dok. Pribadi

Kemensos Gandeng Perguruan Tinggi dalam Salurkan Bansos Presiden

👤Syarief Oebaidillah 🕔Selasa 07 Juli 2020, 23:13 WIB
Paket bansos itu berisi 10 kg beras, 2 liter minyak goreng, sarden, saus, dan mie instan. Bansos akan disalurkan ke warga terdampak...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya