Kamis 13 Juni 2019, 11:10 WIB

Laporan terhadap Tempo Ditolak

Ferdian Ananda Majni | Politik dan Hukum
Laporan terhadap Tempo Ditolak

Dok. Youtube
Mayjen (Pur) Chairawan Nusyirwan.

 

LAPORAN mantan Komandan Tim Mawar Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI-AD Mayjen (Pur) Chairawan Nusyirwan terhadap Majalah Tempo edisi 10 Juni 2019 ditolak Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri lantaran menunggu rekomendasi dari Dewan Pers.   

"Barusan kami dari dalam, berdiskusi dan konsultasi, dan alhamdulillah laporan kami belum diterima karena menunggu rekomendasi dari Dewan pers," kata kuasa hukum Chairawan, Hendriansyah, di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, kemarin.  

Karena itu, pihaknya akan menunggu proses yang berjalan di Dewan Pers setelah memasukkan aduan pada Selasa (11/6). Setelah proses di Dewan Pers, pihaknya baru menyusun rencana berikutnya.   

Sementara itu, Dewan Pers berencana memanggil Chairawan dan Majalah Tempo pada Selasa (18/6) untuk pemeriksaan dan klarifikasi dari kedua belah pihak. Berdasarkan UU Pers, hukuman yang diberikan kepada media apabila produk jurnalistiknya terbukti melanggar kode etik ialah sanksi etis, bukan pidana.  

Chairawan pun berencana melaporkan sejumlah akun media sosial yang menuduhnya terlibat dalam kericuhan 21 dan 22 Mei lalu. "Itu lagi kami cari bukti-buktinya. Masih dicari," kata Hendriansyah.   

Chairawan mengaku keberatan dengan penyebutan Tim Mawar oleh Majalah Tempo karena pelaku yang diduga terlibat kericuhan 21-22 Mei lalu hanya perorangan. Oleh karena itu, ia merasa dirugikan sebagai mantan komandan Tim Mawar.

"Tim Mawar kan sudah bubar. Itu kan menyudutkan berarti. Tahun 1999 sudah bubar. Kalaupun ada, itu kan personel, anggota. Tidak mungkin satu orang dibilang tim, atau dua orang disebut tim. Tim itu banyak,"  ujar Chairawan sebelum melaporkan Majalah Tempo ke Bareskrim Polri, kemarin.

Menurut dia, apabila hanya satu atau dua orang mantan personel Tim Mawar, semestinya tidak disebut sebagai tim karena akan menimbulkan duga-an yang berbeda.

Terkait dengan laporan yang sedianya direncanakan dilakukan pada Selasa (11/6), ia megatakan penundaan terjadi lantaran pihaknya menunggu pengungkapan dalang kerusuhan oleh Polri.

Untuk bukti-bukti, ia masih enggan menyebutkan dan baru akan mengungkap setelah laporan diterima Bareskrim.

"Itu kan teknis, jelas sudah saya cerita, tidak ada umpet-umpetan," ujar dia.

Sebelumnya, ia mengklaim tidak terlibat dalam kericuhan 21 dan 22 Mei. "Tidak terlibat. Gini ya, orang yang terlibat harus diperiksa dulu baru ditulis, ini belum diperiksa. Seandainya terlibat pun harus diperiksa dulu, ini kan langsung tulis, gimana?" (Fer/Faj/P-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More