Kamis 13 Juni 2019, 08:20 WIB

Penerbangan Pengaruhi Kesehatan Jemaah Haji

mediaindonesia | Humaniora
 Penerbangan Pengaruhi Kesehatan Jemaah Haji

(ANTARA/Aditya Ramadhan)
Menteri Kesehatan Nila Moeloek memberikan keterangan pada wartawan usai menghadiri acara Seminar Pelayanan Kesehatan Haji

 

KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) melibatkan kedokteran penerbangan dalam menentukan layak atau tidaknya jemaah haji untuk berangkat ke tanah suci pada musin haji tahun ini. Perjalanan ke Arab Saudi yang harus ditempuh dengan penerbangan selama 9 hingga 12 jam akan memengaruhi kondisi kesehatan dan memperberat keadaan jemaah yang sudah punya riwayat sakit sebelumnya.

Menkes Nila F Moeloek mengatakan, hal tersebut dilakukan sebagai pelayanan kesehatan haji seiring meningkatnya jumlah jemaah haji risiko tinggi. Penambahan kuota jemaah haji pada 2019 sebanyak 10 ribu jemaah sehingga total menjadi 231 ribu, ujarnya, harus didukung dengan kesiapan tenaga kesehatan.

"Selama penerbangan, kondisi lingkungan udara berbeda dengan kondisi lingkungan daratan. Bertambahnya ketinggian dan berkurangnya kadar oksigen dapat menyebabkan sakit atau rasa tidak nyaman pada tubuh jemaah selama perjalanan," kata Menkes pada Seminar Pelayanan Kesehatan Haji di Jakarta, kemarin.

Ia menyebutkan, gangguan kesehatan yang muncul saat penerbangan, antara lain masalah pernapasan, dehidrasi, jet lag, dan mabuk udara. Untuk meningkatkan intervensi dalam pelayanan dan pengendalian faktor risiko kesehatan, diperlukan pengetahuan bagi para petugas kesehatan haji terkait dengan pengaruh kondisi penerbangan terhadap kesehataan jemah haji.

Data Pusat Kesehatan Haji Kemenkes mencatat, pada 2018 sebanyak 2.366 jemaah haji mengalami sakit saat tiba di Arab Saudi. Beberapa di antara mereka dirujuk ke rumah sakit.

Demikian pula pada masa pemulangan, faktor kondisi lingkungan di pesawat menjadi pertimbangan pemulangan jemaah haji sakit. Hal itu terlihat pada 2018 yang tercatat 54 jemaah haji masih harus tinggal di rumah sakit di Arab Saudi pascaoperasional karena kondisi kesehatan mereka yang belum laik terbang.

"Saya berharap pelayanan kesehatan penerbangan haji tahun ini dapat berjalan lebih baik. Para petugas Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) diharapkan mampu memberikan pelayanan kesehatan yang optimal sebelum keberangkatan, selama penerbangan, saat di Arab Saudi, maupun setelah kembali ke Tanah Air," ucapnya.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes Eka Jusup Singka mengatakan, jumlah tenaga kesehatan haji Indonesia yang bertugas saat ini sebanyak 1.521 orang dan 306 Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) bidang kesehatan. Dengan adanya penambahan 10 ribu kuota haji, dibutuhkan tambahan personel. Dalam tim juga dilibatkan tiga dokter penerbangan.

Ia juga mengungkapkan, lebih dari 50% jemaah haji Indonesia masuk dalam kategori risiko tinggi. Mereka sudah berusia di atas 60 tahun dan mempunyai minimal satu riwayat penyakit.

Menurutnya, tren penyakit yang diderita para jemaah haji berisiko tinggi hampir sama dari tahun ke tahun. Mereka umumnya menderita sakit jantung, hipertensi, dan gangguan paru-paru. (Ind/H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More