Kamis 13 Juni 2019, 05:20 WIB

Demonstran Siap Berunding

Tesa Oktiana Surbakti tesa@mediaindonesia.com | Internasional
 Demonstran Siap Berunding

AFP
Krisis Politik Sudan

 

PARA pemimpin unjuk rasa di Sudan sepakat untuk mengakhiri gerakan pembangkangan sipil setelah militer Sudan membubarkan unjuk rasa dengan kekerasan. Demonstran juga ingin melanjutkan perundingan dengan para jenderal yang berkuasa di Sudan.

Kesepakatan itu diungkapkan mediator Ethiopia pada Selasa waktu setempat. Meski belum dikonfirmasi para penguasa militer, terobosan muncul ketika seorang diplomat Amerika Serikat yakni asisten Menteri Luar Negeri AS untuk urusan Afrika, Tibor Nagy, siap memulai misi. Tujuan Nagy ialah menekan para jenderal agar menghentikan kekerasan terhadap pengunjuk rasa yang menuntut pemerintahan sipil.

Seorang utusan Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed yakni Mahmoud Drir mengungkapkan para pemimpin pengunjuk rasa sepakat untuk mengakhiri gerakan mereka dan kembali ke meja perundingan.

"Mulai hari ini, Aliansi untuk Kebebasan dan Perubahan sepakat mengakhiri gerakan pembangkangan sipil," tutur Drir yang menjadi penengah di antara kedua belah pihak sejak Abiy Ahmed mengunjungi Khartoum pekan lalu.

"Kedua pihak juga sepakat untuk memulai kembali perundingan sesegera mungkin," lanjutnya.

Sementara itu, Dewan Keamanan PBB meminta seluruh pihak bekerja sama menuju solusi konsensus atas krisis yang berlangsung. Mereka juga menyuarakan dukungan terhadap upaya diplomatik pimpinan Afrika.

Selain itu, terdapat seruan untuk menghentikan serangan yang menyasar warga sipil. Dewan Keamanan PBB kembali menekankan urgensi penegakan hak asasi manusia.

Sejak Presiden Omar al-Bashir digulingkan dari kursi kekuasaannya, Sudan memang mulai dipimpin dewan militer. Sebelum lengser, mantan pemimpin Sudan itu mendapat protes nasional selama berbulan-bulan.

Dalam tiga dekade, Omar al-Bashir menjalankan pemerintahan dengan tangan besi. Setelah Bashir tidak menjabat, para pengunjuk rasa menuntut terbentuknya pemerintahan sipil.

Di wilayah Khartoum, protes dari warga sipil tersebut menyebabkan sebagian besar pertokoan dan bisnis tidak beroperasi. Beberapa perusahaan akhirnya memperpanjang masa penutupan hingga akhir pekan liburan Idul Fitri.

Sejauh ini pasukan RSF milik pemerintah Sudan, yang berkeliling kota dengan truk dan senapan mesin, dituding memainkan peran utama dalam kekerasan terhadap pengunjuk rasa pekan lalu,

"Kami mulai terbiasa hidup dengan senjata karena begitu banyak pasukan yang dilengkapi senjata mengunjungi restoran," tutur seorang warga ketika melihat sekelompok anggota RSF memasuki sebuah restoran.

Situasi normal

Sekarang situasi di Khartoum mulai kembali normal. Koresponden AFP yang berkeliling di wilayah ibu kota itu kemarin menyaksikan di sejumlah stasiun, armada bus terlihat menunggu penumpang. Sementara itu, pertokoan di beberapa distrik mulai beroperasi.

Adapun pasar emas utama di Khartoum masih tutup. Begitu juga dengan sebagian penduduk yang memilih tinggal di rumah mengingat pasukan keamanan masih bersiaga di penjuru ibu kota.

"Saya lebih baik tidak keluar rumah karena khawatir terhadap keberadaan pasukan keamanan yang membawa senjata di sejumlah jalan," tutur Samar Bashir, seorang pegawai perusahaan swasta.

Beberapa warga mengaku tetap bertahan di dalam rumah karena layanan internet belum sepenuhnya pulih sehingga menghambat pekerjaan mereka di kantor. (X-11)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More