Kamis 13 Juni 2019, 01:40 WIB

Kiprah Dakwah Santri Era Milenial

Bayu Anggoro | Humaniora
Kiprah Dakwah Santri Era Milenial

MI/Anggoro
Aktivis dakwah yang juga youtuber asal bandung Dodi Hidayatullah

 

AKTING layaknya pemain sinetron berseri dan merekam lagu bak penyanyi profesional kini banyak dilakukan pengguna media sosial, termasuk aktivis dakwah Islam. Selain untuk menyalurkan hobi dan bakat, mereka melakukannya demi menyebarkan pesan positif kepada sesama muslim.

Bersama sekitar empat orang timnya, Dodi Hidayatullah aktif menciptakan parodi bertemakan islami yang menghiasi akun Youtube dan Instagram miliknya. Selain menyusun naskah cerita yang akan diperankannya, gagasan pun muncul untuk meng-cover lagu-lagu milik musisi ternama yang sedang populer.

Saban bulan, pemiliki akun Youtube Dodi Hidayatullah dan Instagram @dodihidayatullah ini mampu mengunggah 2-3 video hasil karyanya. "Lalu ada yang menyarankan agar saya serius untuk menggarap ini," kata Dodi saat dijumpai Media Indonesia di Bandung, baru-baru ini.

Hingga pada akhirnya, pria yang pernah mengenyam pendidikan pesantren dari tingkat SMP ini memilih mengembangkan dakwah melalui media sosial agar bisa menjangkau lebih banyak orang. Setidaknya, saat ini Dodi memiliki ratusan ribu penggemar setia, baik di Youtube (257 ribu subscriber) dan Instagram (127 ribu pengikut).

"Dakwah itu wajib bagi setiap muslim, bukan hanya tugas ustaz, kiai, atau ajengan," kata pria kelahiran 'Kota Kembang' tersebut.

Berawal dari situlah, ayah dua orang anak itu semakin tertantang untuk mewarnai akun media sosialnya dengan konten-konten positif bertemakan agamais. Selain mengunggah parodi islami di akun Instagram-nya, Dodi pun aktif mengirim murotal Alquran dan cover lagu-lagu di akun Youtube-nya.

Dengan menyebarkan konten positif, dia tidak ingin menjadi penyebab dari rusaknya moral dan mental generasi muda. "Allah memberi potensi ke setiap manusia. Ada yang jadi dokter, penyanyi, dan pembuat konten positif. Saya memilih ini," kata Dodi seraya menyebut kelak di akhirat dirinya ingin bisa mempertanggungjawabkan setiap perilakunya di dunia.

Dalam membuat konten positif, baik untuk Youtube maupun Instagram, Dodi tidak terlepas dari bantuan tim dan sejumlah rekannya. Mereka saling melengkapi agar setiap episode video unggahannya bisa tersaji dengan baik. Untuk membuat satu parodi di Instagram, dia tidak jarang meminta bantuan temannya agar membuatkan naskah cerita.

"Atau kalau mau buat lagu, cover, saya order ke teman saya yang bisa. Untuk video editing, dikerjakan tim karena alat-alatnya sudah saya siapkan," ujarnya.

Proses pembuatannya memakan waktu yang berbeda-beda, tergantung jenis video konten positif tersebut. Untuk tipe premium, seperti video klip lagu islami yang diciptakannya, dia rela menghabiskan waktu hingga berminggu-minggu. "Memikirkan segala macam dari A sampai Z-nya. Bahkan kita sampai sewa alat tambahan, lalu modelnya juga harus ada," kata dia.

Untuk tipe yang standar, menurut dia, prosesnya bisa tuntas hanya dalam waktu sehari. Terlebih, jenis ini tidak memerlukan tempat, model, dan perlatan khusus sehingga pemilihan tempatnya pun bisa dilakukan di mana saja.
"Apalagi kita juga ada target kan minimal sekian video setiap bulannya," kata dia. Terlebih, menurutnya, diperlukan kecepatan dalam meng-cover lagu yang sedang populer di masyarakat. "Karena kita menyesuaikan dengan apa yang sedang trending. Jadi, jangan sampai kehabisan momen," jelasnya seraya menyebut untuk tipe ini pembuatan videonya bisa tuntas hanya dalam waktu 2 hari.

Bahkan, menurut dia proses pembuatan video parodinya bisa tuntas dalam hitungan jam. "Dalam sehari bisa bikin 4-5 episode konten ringan, humor," tutur pria yang tahun lalu berkesempatan menjadi petugas haji delegasi Indonesia ke ‘Tanah Suci’.

Ekspansi
Untuk mengasah kualitas dakwah media sosial, Dodi mengaku sering bertukar pikiran dengan sesama pemilik akun media sosial yang serupa. Bahkan menurut dia, para aktivis dakwah di dunia maya ini sering mengadakan pertemuan rutin.

"Karena saya di Bandung, jadi sementara ini dengan yang di Bandung lagi," katanya. Selain memperluas dakwah Islam, Dodi mengaku, konten digitalnya itu pun bisa menafkahi timnya yang terbagi ke beberapa bagian.

Bahkan, berkat cara ini, dia bisa mengembangkan lini usahanya ke bidang lain, seperti jasa pengeditan video hingga penyewaan alat-alat multimedia. Sebagai penyanyi nasyid dan selawat, tawaran manggungnya pun semakin banyak seiring aktivitasnya di media sosial tersebut.

Namun, saat ditanya berapa nominal rupiah yang dikantonginya dalam setiap bulan dari video-video unggahannya itu, dia tidak menjawab lugas. Hanya, menurut dia, setiap video karyanya itu menghasilkan nilai yang berbeda-beda.

"Fluktuatif, tergantung viewer kalau di Youtube," katanya. Untuk Youtuber yang memiliki 257 ribu subscribe seperti dia, menurutnya rata-rata bisa mencapai Rp7 juta dalam setiap bulannya.
"Kalau di IG (Instagram) jarang pendapatan. Saya jarang buka endorse, kecuali yang dekat. Jadi di Instagram terbatas," pungkas Dodi. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More