Mariyka, Simbol Perlawanan di Chernobyl

Penulis: Abdillah M Marzuqi Pada: Rabu, 12 Jun 2019, 19:15 WIB Weekend
Mariyka, Simbol Perlawanan di Chernobyl

dok.east2westnews
Mariyka

Ini bukan kisah dalam film pahlawan super. Bukan pula cerita tentang seorang berkekuatan super setelah digigit laba-laba laboratorium, ataupun seorang yang tiba-tiba punya kekuatan super setelah terpapar radiasi.

Mariyka hanya seorang gadis layaknya gadis seumurnya. Tidak ada yang aneh dari dirinya. Ia baik-baik saja, setidaknya dari beberapa foto dirinya.

Namun Mariyka menarik perhatian publik dunia. Pasalnya ia tercatat sebagai satu-satunya anak yang dilahirkan dalam zona eksklusif Chernobyl. Zona eksklusif Chernobyl seluas 2.600 kilometer persegi ini menjadi luka dunia usai ledakan reaktor nuklir pada 26 April 1986. Bencara Chernobyl ini menjadi terparah di dunia karena radiasinya tersebar ke atmosfer di kawasan Uni Soviet bagian barat dan Eropa. Bencana nuklir itu menjadi salah satu dari dua kecelakaan nuklir terburuk sepanjang sejarah selain Fukushima Daiichi.

Penanggulangan bencana itu melibatkan 500.000 orang dan menghabiskan dana sebesar 18 miliar rubel. Ribuan penduduk terpaksa diungsikan. Sejak saat itu, Chernobyl seperti kota mati. Bahkan diprediksi kawasan ini baru bisa dihuni kembali setelah 3.000 tahun.

Selang satu dekade dari bencana itu, lahirlah seorang bayi perempuan pada 1999 bernama Mariyka Sovenko. Sebentar lagi, ia akan merayakan ulang tahunnya yang ke-20. Bahkan Mariyka tengah bersiap masuk ke perguruan tinggi.

Mariyka Sovenko lahir dari pasangan Lydia dan Mikhail di zona terbatas Chernobyl. Meski tumbuh di kawasan yang terpapar radiasi nuklir, ia mengaku baik-baik saja. Padahal Mariyka kecil minum susu dari seekor sapi yang merumput di padang rumput yang terpapar radiasi. Ia juga mengkonsumsi ikan yang berenang di sungai tercemar radiasi.

Mulanya, kelahiran Mariyka ditutupi otoritas Ukraina, tetapi berita menyebar dengan cepat. Kisah itu menimbulkan kontroversi besar, banyak orang menuduh orangtua Mariyka sebagai pembunuh dengan bertahan di Chernobyl.

Lydia menolak untuk pindah dari zona Chernobyl karena tidak disediakan relokasi rumah. Mikhail adalah seorang petugas pemadam kebakaran turut dalam upaya penangguamgan Bencana Chernobyl.

Kala itu, Lydia tidak menyadari kehamilannya sampai dia melahirkan dengan bantuan Mikhail. Suaminya pula yang memotong tali pusar Mariyka sebelum dimandikan.

Lydia masih mengingat jelas ketika ia dianggap sebagai pembunuh karena melahirkan di Chernobyl. Ia juga diperlakukan seperti penjahat karena menolak beranjak dari satu-satunya rumah keluarga di zona itu.

Nalurinya sebagai ibu membuat Lydia berkukuh terus membesarkan Mariyka. Ia mengabaikan peringatan kesehatan pemerintah dan anggapan orang ia membahayakan putrinya. Menanggapi kabar itu, Lydia mengatakan Mariyka adalah anak baik yang benar-benar sehat seperti yang terlihat.

"Dia adalah anak yang baik yang benar-benar sehat sejauh yang bisa kita lihat," ujar Lydia sebperti dilansir dailymail.co.uk.

Saat Mariyka berusia lima tahun, Lydia diterpa rumor tak sedap menggenai kondisi Mariyka. "Jika orang mengira dia adalah mutan, atau memiliki dua kepala, mereka cukup salah," kenang Lydia yang kala itu berusia 40an.

Lydia mengaku membesarkan Mariyka dalam sunyi. Ketika diwawancarai pada 2006, Lydia mengatakan kesepian tanpa teman bermain di zona itu sebab pengunjung tanpa izin khusus dilarang masuk.

"Saya berharap ada satu anak lagi di sini. Saya akan menunjukkan kepadanya di sekitar rumah saya dan desa. Kami bisa bersenang-senang bersama," ujarnya.

Lydia dan Mikhail terus menghadapi tekanan dari pihak berwenang untuk mau direloaksi. Tetapi mereka bersikukuh, sebab rumah itu akan menjadi rumah Mariyka ketika ia tumbuh dewasa.

Mariyka sejak usia 7 tahun harus tinggal di luar Chernobyl dalam jangka waktu tertentu untuk sekolah. Kini ia banyak menghabiskan waktu persiapan studi di lembaga pendidikan tinggi terkemuka di Kiev.

Guna membiayai pendidikanya, ia bekerja di bar. Perempuan yang bercita-cita bekerja di industri perhotelan ini enggan membicarakan masa lalunya. "Saya baik-baik saja, saya bekerja. Saya bisa memenuhi kebutuhan saya sendiri," ucapnya.

Meski sekarang tinggal di luar Chernobyl, ia kerap mengunjungi ibunya yang berusia 66 tahun. Lydia mengaku bangga dengan keberhasilan Mariyka melewati kehidupannya yang unik.

Kesehatan dan kesuksesan Mariyka dianggap Lydia sebagai upaya perlawanan dari Bencana Chernobyl.

"Orang-orang di sini percaya Mariyka adalah simbol kebangkitan Chernobyl, tanda dari Tuhan yang mereka tafsirkan sebagai berkah untuk tinggal di sini. Kehidupan akan kembali ke tempat yang suram ini," ucap Lydia. (M-3)

Baca juga : Meski Kembar, Beda Diet

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More