Rabu 12 Juni 2019, 19:45 WIB

Warga di Pesisir Pangkalpinang Diduga Diserang Wabah Ulat Bulu

Rendy Ferdiansyah | Nusantara
Warga di Pesisir Pangkalpinang Diduga Diserang Wabah Ulat Bulu

MI/Rendy Ferdiansyah
Ulat bulu yang menyerang warga pesisir di Pangkalpinang

 

RATUSAN warga di empat rukun tetangga (Rt) di Pangkalarang, Kelurahan Ketapang, Pangkalpinang, mengalami gatal-gatal dan benjolan merah yang diduga tedampak dari ulat bulu.

Wabah ulat bulu tersebut diduga menyerang warga di RT 5,6,7 dan 8. Peristiwa itu baru heboh setelah dua bulan berlalu.

"Sebenarnya sudah sebelum lebaran saya kena 3 ulat bulu di badan saat sedang mengecat kapal," kata seorang nelayan Rahmad di Pangkalarang, Rabu (12/6).

Selang sehari, badannya gatal-gatal dan timbul bentol seperti jerawat berwarna merah.

Petugas Kesehatan Puskesmas Pangkalbalam M Heri mengatakan kasus wabah yang diduga ulat bulu ini sebenarnya sudah lama, tapi baru heboh sekarang karena semua warga mengeluh gatal-gatal dan terdapat benjolan berwarna merah di kulit.

"Untuk membantu masyarakat kita langsung buka posko dan diserbu warga," ujar Heri.

Sejak posko dibuka, menurutnya, ada 236 warga dari 4 RT yang berobat dengan keluhan sama yakni gatal-gatal di sekujur tubuh dengan benjolan berwarna merah.

"Memang ada yang terdampak ulat bulu, tapi kita belum bisa memastikan apakah gejala itu karena ulat bulu atau bukan karena perlu uji sampel oleh dinas pertanian," imbuhnya.

Heri memastikan semua obat baik itu salep maupun obat dalam dibagikan secara gratis.

"Karena banyak yang berobat, obat kita kemarin habis dan hari ini baru didatangkan lagi," ungkap dia.

"Ini baru dugaan, masyarakat yang terdampak gatal-gatal itu karena terkontaminasi dengan orang yang pernah kena ulat bulu, kalau dari udara tidak mungkin," terangnya.

Ia pun menyarankan warga berobat ke puskesmas.

Baca juga: Hari Pertama Kerja, Samsat Pangkalpinang Diserbu Wajib Pajak

Dinas Pertanian Provinsi Babel Djuaidi mengatakan timnya sudah turun ke lokasi untuk melakukan penyemprotan.

"Kita sudah lakukan penyemprotan dan mengambil sampel ulat bulu untuk diteliti lebih lanjut," kata Djuaidi.

Ia menambahkan ulat bulu yang diduga menyerang warga ini memang habitatnya berada di pohon bakau. Karena habitat terancam, hewan tersebut bermigrasi ke permukiman warga.

Kendati demikian, pihaknya belum bisa memastikan apakah ratusan warga yang mengalami gatal tersebut karena ulat bulu atau bukan. Pihaknya akan meneliti, karena bisa saja gatal disebabkan sanitasi daerah pesisir yang kurang baik.

"Kita akan ambil sampel air sungainya untuk mengetahui apakah tercemar limbah tambang, mengingat di sungai dekat rumah warga ada aktivitas
tambang pasir timah," ucap Djuiadi.

Ia pun menegaskan hama ulat bulu bukan disebabkan oleh perubahan iklim, tetapi ketersediaan makanan yang kurang akibat habitat terganggu.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More