Rabu 12 Juni 2019, 07:00 WIB

Polusi Udara Terus Ancam Kesehatan

Dhika Kusuma Winata dhikamediaindonesia.com | Humaniora
 Polusi Udara Terus Ancam Kesehatan

ist
ilustrasi polusi udara

 

POLUSI udara menjadi salah satu ancaman terbesar terhadap kesehatan manusia. Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), sedikitnya 7 juta orang meninggal dunia setiap tahun akibat paparan polusi udara.

Kondisi tersebut mendorong United Nations Environment Program (UNEP) melakukan global untuk mengatasi polusi udara dengan mengusung tema perlawanan terhadap polusi udara dengan kampanye Beat Air Pollution pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Rabu (5/6) lalu.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengatakan, peringatan WHO tersebut menjadi momentum mendorong peningkatan kualitas udara di Tanah Air.

"Di seluruh dunia tercatat bahwa 9 dari 10 orang terpapar polusi udara yang berasal dari kendaraan bermotor, industri, pertanian, dan pembakaran sampah. Momentum Hari Lingkungan bisa menjadi dorongan semua pihak untuk mengendalikan polusi udara yang sangat berkaitan dengan upaya untuk menata bumi kita menjadi lebih hijau," kata Menteri Siti di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, secara umum kualitas udara di Tanah Air relatif membaik. Berdasarkan indeks kualitas udara (IKU), kualitas udara secara nasional periode 2015-2018 masih dalam kategori sangat baik.

Sepanjang Januari-Juni 2019, KLHK juga mencatat baku mutu rata-rata harian kualitas udara untuk particulate matter atau PM 2,5 ialah 28 mikrogram per meter kubik. Angka itu masih di bawah ambang batas nasional sebesar 65 mikrogram per meter kubik.

Salah satu faktor pendorong masih relatif baiknya kualitas udara secara nasional, kata Menteri Siti, ialah berkurangnya kebakaran lahan dan hutan secara signifikan. Pada 2018 terjadi penurunan titik panas sekitar 82% (3.915 titik) bila dibandingkan dengan 2015 dengan 21.929 titik panas.

Meski begitu, imbuhnya, sejumlah daerah perlu tetap mewaspadai pencemaran udara akibat aktivitas penduduk yang masif, khususnya dari sektor transportasi. "Pencemaran udara akibat kendaraan bermotor masih perlu menjadi perhatian bersama untuk DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah, sedangkan pada wilayah Pontianak, Jambi, Palangkaraya, Padang, dan Palembang terdapat waktu-waktu tertentu udara tidak sehat karena kebakaran hutan dan lahan," ujarnya.

Ia mengatakan, salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas udara, pemerintah daerah dapat menerapkan kota hijau dengan membangun sistem transportasi massal. Upaya pengendalian polusi udara juga perlu diimbangi dengan gerakan menanam pohon untuk menambah kapasitas reduksi polusi udara. KLHK tahun ini menargetkan penanaman pohon seluas 207 ribu hektare.

Revisi PP

Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK MR Karliansyah menyatakan, sumber pencemaran udara dari sektor transportasi bisa mencapai 70%. Pihaknya kini mendorong perbaikan regulasi untuk mengurangi emisi dari sektor transportasi melalui revisi Peraturan Pemerintah (PP) No 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

"Dalam rancangan perubahan PP No 41/1991 akan diwajibkan uji emisi bagi kendaraan pribadi. Itu akan menjadi syarat untuk perpanjangan surat tanda nomor kendaraan (STNK). Selama ini uji emisi hanya diberlakukan pada transportasi umum dan belum menyentuh kendaraan pribadi roda dua maupun empat," ucapnya. (H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More