Rabu 12 Juni 2019, 06:00 WIB

Trump kembali Ancam Tiongkok

Denny Parsaulian Sinaga denny@mediaindonesia.com | Internasional
 Trump kembali Ancam Tiongkok

AFP
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump

 

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menaikkan lagi tarif terhadap produk-produk Tiongkok senilai US$300 miliar yang masuk ke AS jika pemimpin Tiongkok, Xi Jinping, tidak mau berunding dengannya dalam pertemuan G20 di Jepang akhir bulan ini.

"Saya pikir dia akan datang dan kami dijadwalkan mengadakan pertemuan," kata Trump dalam wawancara telepon dengan jaringan televisi CNBC, Senin (10/6) waktu AS.

Ketika ditanya apakah jika Xi tidak menemuinya di KTT, maka akan menyebabkan kenaikan tarif pada ekspor Tiongkok senilai US$300 miliar ke Amerika Serikat, Trump menjawab, "Ya itu akan."

Trump menyatakan bahwa dia memiliki hubungan yang hebat dengan Xi meskipun ada peningkatan ketegangan perdagangan antara kedua negara mereka.

"Saya pikir dia akan hadir di sana. Kami dijadwalkan untuk berbicara. Hal-hal menarik akan terjadi. Kami akan lihat apa yang terjadi," kata pemimpin AS itu.

Belum ada indikasi Xi Jinping ingin menghindari Trump pada pertemuan puncak para pemimpin G-20 di Osaka pada 28-29 Juni. Pada pertemuan itu, AS dan Tiongkok diperkirakan akan membahas perang dagang yang berkecamuk di antara mereka.

Ada harapan bahwa pertemuan tatap muka antara Trump dan Xi dapat meredakan ketegangan perdagangan, seperti halnya ketika mereka bertemu di sela-sela G-20 di Argentina pada November dan menyetujui gencatan senjata perang dagang.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Geng Shuang kemarin mengatakan bahwa Beijing telah mencatat harapan AS baru-baru ini tentang pertemuan antara dua pemimpin.

"Sikap kami terhadap perang dagang sudah tegas dan jelas: Tiongkok tidak menginginkan perang dagang, tetapi kami tidak takut melawannya," katanya.

"Jika AS bersedia bernegosiasi dengan pijakan yang sama, pintu kami terbuka. Jika AS bersikeras untuk meningkatkan friksi perdagangan, kami akan merespons dengan tegas dan menjaganya sampai akhir," tegasnya.

Negosiasi antara Tiongkok dan Amerika Serikat mengenai kesepakatan perdagangan terhenti sejak pembicaraan mandek pada awal Mei. Tak lama setelah itu, pemerintahan Trump menaikkan tarif menjadi 25% pada barang ekspor Tiongkok senilai US$200 miliar. Beijing merespons dengan menaikkan tarif ekspor untuk produk AS senilai US$60 miliar dan meningkatkan propaganda anti-Amerika. Pada 30 Mei, pemerintah Tiongkok menuduh AS melakukan 'terorisme ekonomi'.

Imigran ilegal

Tidak hanya Tiongkok, Donald Trump juga telah mengulangi ancam-annya soal tarif terhadap produk Meksiko yang masuk AS terkait dengan imigran ilegal dari Meksiko.

Dalam serangkaian pernyataannya di Twitter, Trump menyinggung ketentuan yang masih rahasia dalam kesepakatan yang menurutnya perlu persetujuan Kongres Meksiko.

"Jika karena alasan apa pun persetujuan tidak tercapai, tarif akan dipulihkan kembali!" ujar Trump.

AS dihadapkan dengan kedatangan imigran asal Amerika Tengah yang melarikan diri dari kemiskinan dan kekerasan geng. Akibatnya, Trump telah mengumumkan keadaan darurat nasional dan berupaya membangun tembok perbatasan yang dijanjikannya dengan Meksiko. Trump juga telah lebih dari satu kali mengancam untuk menutup perbatasan sebelum menaikkan tarif.

Meksiko mengatakan telah setuju untuk membahas salah satu tuntutan utama Trump yaitu soal pengurusan permohonan suaka oleh Meksiko sendiri dan bukannya diurusi Amerika Serikat. Selain itu Meksiko setuju untuk meningkatkan patroli di perbatasan kedua negara untuk mencegah datangnya imigran ilegal. (AFP/X-11)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More