Selasa 11 Juni 2019, 19:03 WIB

Jadi Donatur Rencana Pembunuhan, HM Sudah Ditangkap Sejak 29 Mei

Golda Eksa | Politik dan Hukum
Jadi Donatur Rencana Pembunuhan, HM Sudah Ditangkap Sejak 29 Mei

MI/Ramdani
Konferensi Pers soal rencana pembunuhan 4 tokoh nasional di Jakarta, Selasa (11/6)

 

KEPOLISIAN Republik Indonesia menyebut nama politikus PPP Habil MArati (HM) bersama-sama dengan mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis TNI-AD sebagai dalang rencana pembunuhan 4 tokoh nasional.

Polisi pun telah menangkap mantan pengurus Badan Tim Nasional (BTN) PSSI itu di rumahnya di Pondok Pinang, Jakarta Selatan sejak 29 Mei lalu.

Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKB Ade Ary Syam Indradi mengatakan, HM berperan sebagai donatur untuk rencana aksi pembunuhan tersebut. Ia menyerahkan uang kepada KZ untuk melancarkan rencana tersebut.

Baca juga : KZ dan HM Aktor Utama Skenario Rencana Pembunuhan

"Jadi, uang yang diterima KZ berasal dari HM. Tujuan untuk pembelian senjata api, juga memberikan uang Rp60 juta langsung kepada HK untuk biaya operasional dan juga pembelian senjata api,"  ujar Ade,

Empat tokoh naisonal yang jadi sasaran pembunuhan tersebut antara lain Menkopolhukam Wiranto, Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan, dan Staf Khusus Presiden Bidang Intelijen dan Keamanan Gories Mere. Selain itu juga muncul nama Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya..

Sebelum menangkap HM, polisi juga telah meringkus 6 tersangka selaku eksekutor sekaligus pemilik senjata api yang berencana melancarkan skenario pada aksi massa 22 Mei. Mereka ialah HK alias Iwan, AZ, IR, TJ, AD, dan seorang wanita berinisial AF alias Fifi.

Atas perbuatannya, imbuh dia, seluruh tersangka terbukti melanggar Pasal 1 UU Darurat Tahun 1951 dengan ancaman pidana seumur hidup. Mereka kedapatan memiliki, menguasai, atau menyimpan senjata api ilegal tanpa hak, dan tanpa izin. (Gol)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More