Persoalan Gaji, Tabu atau Transpraran?

Penulis: Suryani Wandari Putri Pada: Selasa, 11 Jun 2019, 17:00 WIB Weekend
Persoalan Gaji, Tabu atau Transpraran?

Antara
Ilustrasi keterbukaan gaji seseorang pegawai.

Ketika mendapat sebuah pertanyaan perihal gaji, apakah Anda selalu menjawab dengan jujur dalam angka pasti? Atau, malah menghindarinya dengan kalimat alasan terlebih dahulu?

Ya, perbincangan mengenai gaji, di banyak masyarakat, termasuk di Indonesia, masih dirasa tabu untuk diumbar. Namun, belakangan ini di media sosial twitter, sebagian warganet ramai-ramai pamer gaji.

Hal ini diawali dengan cuitan @distyjulian beberapa hari lalu yang penasaran tentang gaji yang layak untuk hidup di Jakarta. 'Jadi penasaran, menurut netizen, gaji yang layak buat hidup di Jakarta (rentang umur mid 20 - mid 30) itu di figur berapa ya?' unggahnya pada 9 Juni lalu.
 
Sontak saja, itupun langsung dibanjiri beragam komentar. Beberapa di antaranya bahkan tak segan memberi tahu gaji setiap bulannya yang kemudian dirinci pembagian uang seperti bayar kost, makan dan sebagainya.

'Aku 23 th, baru kerja 2 tahun, hidup di jkt dg gaji di bawah 6jt, sering jalan2, sering makan enak, kosan super enak, make up+skin care+fashion pasti tiap bulan, tiap bulan isi gopay+ovo+link aja, msh bisa ngasih orang tua dan sanguin keponakan, msh bisa nabung pula,' balas akun @lalaladhi.

'Single : 10-15jt/per bulan, Married : 20-35jt/per bulan. Single dengan tanggungan orang tua dan adik : 25-45jt/per bulan. Karena yg single blm tentu gak ada taggungan,' kata @mpokgaga dalam komentarnya.

Bahkan Ika Natassa, bankir sekaligus penulis beberapa novel terkenal seperti Critical Eleven dan Antologi Rasa, turut membeberkan pendapatan pokok dan sejumlah pos pengeluarannya. '10 juta per bulan itu utk: kos 1.5jt (AC), transport 100rb/hari kerja = 2.5jt, makan 120rb/hari = 3.6 jt, HP: 500rb, hangout wiken + nonton = 250rb/wiken = 1jt, shopping sikit2 = 500rb. Total 9,6jt, ada 400rb buat nabung,' tulis Ika.

Cuitan Ika ini pun mendapat banyak respons, seperti warganet yang nyinyir gaji besar namun hanya dapat nabung Rp400 ribu saja, atau tidak adanya pos zakat, atau jatah untuk orang tua. Namun, Ika menjelaskan bahwa ia masih memiliki pendapatan lain berupa THR dan bonus tahunan dari kantornya.

Tidak sedikit pula warganet yang bersikap netral, seperti akun @kurniajayanto, 'Baca semua thread mengenai gaji dll. Always remember : "Comparison is the thief of joy." Unless you know you deserved more salary, willing to asked for it and ready to justify your increase.'

Kata-kata bijak juga disampaikan fotografer dan influencer Edward Suhadi dalam akunnya @edwardsuhadi. 'Jangan melihat pekerjaan kamu *hanya* sebatas slip gaji. Ini kesalahan fatal menurut saya dalam memilih pekerjaan (karena hal2 baik lain bisa jadi tidak keliatan), dan juga dalam menjalankan pekerjaan, karena nature manusia suka membandingkan akan membuat kamu sengsara.'

 

Perbandingan

Berdasarkan riset Glassdoor, membahas gaji merupakan hal tabu di tempat kerja. Sebagian besar responden (42%) merasa nyaman membahas gaji mereka dengan rekan kerja mereka. Sisanya (51%) merasa lebih baik menyimpan sendiri urusan pergajian.

Namun, di Finlandia, topik ini bukan rahasia lagi. Tepatnya di 'National Jealousy Day’ pada 1 November, orang-orang dapat mengakses data pendapatan warga Finlandia sehingga terlihat  pengusaha teknologi  mana yang telah menjual perusahaannya? Selebriti Instagram mana yang bangkrut? Pensiunan eksekutif mana yang keluar dari kewajiban pajaknya dan lainnya.

Dilansir dari seattletimes, di antara negara-negara Nordik, Finlandia  telah mengubah rilis data pajak pribadi untuk mematuhi undang-undang transparansi pemerintah yang kemudian menjadi ritual perbandingan publik. Meskipun beberapa orang mengeluh tradisi itu melanggar privasi, sisanya menilai transparansi itu membantu negara melawan ketidaksetaraan di seluruh Eropa.

"Ini latihan psikologis, ini menciptakan ilusi transparansi sehingga kita semua merasa senang dengan diri kita sendiri 'Orang Amerika tidak akan pernah bisa melakukannya. Jerman tidak akan pernah bisa melakukannya. Kami orang yang jujur, orang baik. ' Ini semacam tempat penyucian Lutheran,” kata Roman Schatz, 58, seorang penulis.

Meski begitu, beberapa peneliti tidak setuju atas transparansi gaji. Seperti University of California dan sebuah studi di Norwegia  menyimpulkan ketika orang bisa dengan mudah mempelajari pendapatan rekan kerja dan tetangga, kebahagiaan menjadi berkorelasi dengan lebih erat dengan pendapatan. Mereka yang berpenghasilan lebih sedikit melaporkan tingkat kebahagiaan yang lebih rendah.

Tentu saja transparansi ada banyak kegunaan lain, seperti data pajak penghasilan. Seperti Tuomas Rimpilainen, seorang jurnalis, mengatakan dia kadang-kadang mencari gaji dari para pesaing profesionalnya sebelum meminta kenaikan gaji kepada bosnya. (M-3)

Baca juga : Delapan Kegiatan Wajib Usai Berlibur

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More