Selasa 11 Juni 2019, 07:05 WIB

Hong Kong Tetap Lanjutkan RUU Ekstradisi

Denny Parsaulian Sinaga | Internasional
Hong Kong Tetap Lanjutkan RUU Ekstradisi

ISAAC LAWRENCE / AFP
Seorang pria memegang poster pemimpin pemerintah Hong Kong, Carrie Lam saat demonstrasi di Hong Kong.

 

PEMIMPIN pemerintah Hong Kong, Carrie Lam, mengatakan tetap ber­tekad untuk mengesahkan RUU Ekstradisi yang kontroversial, meskipun 1 juta orang berbaris menentang bakal undang-undang itu pada Minggu.

Pawai besar, yang membentang sepanjang lebih dari 2 mil, berlangsung damai sampai tengah malam sebelum polisi dan demonstran bentrok setelah ada upaya polisi untuk membubarkan pengunjuk rasa yang tersisa dari sekitar kantor legislatif.

Lam, yang menjadi target utama rapat u­mum tersebut mengatakan ukuran rapat umum itu menunjukkan bahwa kita jelas masih mengkhawatirkan RUU tersebut. Namun, kenyataan bahwa begitu banyak orang yang ambil bagian dalam demonstrasi itu menunjukkan klaim bahwa hak dan kebebasan war­ga Hong Kong, jurnalis, dan lainnya tidak tergerus.

“Saya pikir mereka dengan jelas menunjukkan bahwa hak-hak dan kebebasan ini masih sekuat dulu,” katanya.

Lam menyatakan bahwa penentangan yang meluas terhadap RUU tersebut, oleh ribuan pengacara dan hakim, hanya karena orang tidak memahaminya.
“RUU ini tidak diprakarsai pemerintah Pusat Rakyat. Saya belum menerima instruksi apa pun,” katanya.

Lam menolak untuk menarik RUU ini. “Hong Kong harus bergerak, tidak ada yang ingin Hong Kong menjadi pelarian dari para pelarian­. Kami sedang melakukannya.”

Matthew Cheung Kin-chung, anggota paling senior kedua dari pemerintah Hong Kong mengatakan debat mengenai RUU itu akan dilanjutkan pada Rabu (12/6), dan berharap itu akan rasional juga damai. Seperti dilaporkan South China Morning Post.

“Sekelompok kecil pengunjuk rasa radikal melakukan tindakan radikal dan menyerang polisi hingga mengakibatkan bentrokan,” katanya. “Kami merasa menyesal, tetapi harus mengutuk kekerasan.”

Mengutuk kekerasan

Partai Rakyat Baru, yang dikepalai le­gislator konservatif Regina Ip, mengutuk kekerasan tersebut tetapi mengatakan aksi yang berlangsung tertib dan damai merupakan bentuk pelaksanaan hak-hak dan kebebasan bagi rakyat Hong Kong yang dijamin undang-undang dasar.

Partai Rakyat Baru menegaskan dukungannya untuk RUU itu, tetapi mengingat sejumlah besar menunjukkan keprihatinan kuat mere­­ka, mendesak pemerintah untuk menyerahkan laporan rutin kepada Dewan Legislatif tentang implementasi RUU tersebut.

Media pemerintah Tiongkok menyebut aksi protes di Hong Kong telah didukung kubu oposisi dan sekutu asing. Editorial surat kabar pemerintah, China Daily, menuding warga Hong Kong telah ditipu kubu oposisi dan sekutu asing untuk mendukung kampanye antiekstradisi.  

“Setiap orang yang berpikiran adil akan mendukung RUU (ekstradisi) untuk menutup celah hukum, dan mencegah Hong Kong menjadi surga bagi para penjahat,” ujar China Daily dalam editorialnya, seperti dilansir BBC, Senin (10/6).

RUU ekstradisi dibuat setelah seorang pria Hong Kong berusia 19 tahun diduga membu­­nuh pacarnya yang berusia 20 tahun, saat mereka berlibur bersama di Taiwan pada Februari lalu. Pria itu melarikan diri dari Taiwan dan kembali ke Hong Kong pada tahun lalu.

Pejabat Taiwan meminta bantuan otoritas Hong Kong untuk mengekstradisi pria itu. Namun, pejabat Hong Kong tidak dapat melakukannya karena tidak ada perjanjian ekstradisi dengan Taiwan. (TheGuardian/I-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More