Senin 10 Juni 2019, 07:50 WIB

Memaknai Kemenangan dalam Keberagaman

Abdul Muta'ali Direktur Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam UI, Ketua Program Studi Kajian Ilmu Kepolisian Sekolah Kajian Stratejik dan Global UI | Kolom Pakar
Memaknai Kemenangan dalam Keberagaman

MI/Seno
Ilustrasi MI

HARI ini ialah hari besar yang dimuliakan Allah SWT. Hari yang mana kita bertakbir sebagai perwujudan rasa syukur kepada zat yang Mahabesar, Allahu Akbar walillahilhamd. Seluruh makhluk Allah SWT; di langit dan di bumi, daratan dan lautan seantero jagat raya, bukan hanya bangsa manusia dari Sabang sampai Sorbone, dari Maroko sampai Merauke, semenjak magrib sampai selesainya salat id yang sedang kita laksanakan ini, mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil; Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd.

Hanya Allah yang Mahabesar yang berkuasa atas apa pun. Allahu Akbar, Allah Mahabesar, yang akbar hanya Allah. Allahu Akbar sebagai bacaan rukun pertama dalam salat tidak kurang 85 kali kita lantunkan setiap harinya di luar salat sunah dan kalimat azan. Bahkan, salat kita tidak sah jika bacaan pembukanya bukan Allahu Akbar. Begitu pun hari ini, bacaan rukun salat tersebut merupakan kalimat yang amat dicintai Allah SWT. Ini artinya Allah sedang mengajarkan kepada kita tauhid ketawaduan. Kita bisa menyelesaikan puasa selama Ramadan, bersedekah, berzakat, berinfak, berbagi dengan yang lain, salat tarawih, qiyamullail, khatam Alquran, bukan karena kita orang alim atau ahli ibadah. Kita diberi kekayaan dan jabatan yang bagus, bukan karena kita orang pintar atau hebat. Kita bisa seperti ini karena akbarnya Allah SWT.

Bagaimana kita mengaku besar, padahal Rasulullah SAW seperti yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam sahihnya pada hadis pertama bab 'salat id' meriwayatkan dari Abul Yaman, dari Syu’aib dari Zuhri, dari Salim bin Abdillah dari Abdullah bin Umar ia berkata, "Ayahku Umar memaksakan diri menabung karena ingin sekali memberi hadiah Lebaran kepada Rasulullah. Sehari sebelum Lebaran Idul Fitri ia membelikan jubah yang terbuat dari sutra istabraq. Umar pun langsung datang menemui Rasulullah SAW hendak menghadiahkan baju tersebut. 'Wahai Rasul, pakailah baju ini untuk salat id esok hari agar engkau tampak kelihatan gagah,' pinta Umar. Rasulullah saw menjawab, 'terima kasih Umar. Pakaian ini terlalu bagus bagiku. Aku malu kepada Allah SWT untuk memakainya, padahal sangat dimungkinkan banyak di antara umatku dalam kefakiran. Ini pakaian bagi orang yang tidak memiliki akhlak. Ambillah dan jual kembali untuk kebutuhanmu kaum muslimin yang membutuhkan."

 

Meraih kemuliaan

Rasulullah SAW dalam khotbah Idul Fitrinya seperti yang diriwayatkan Sa’ad bin Aus Al Anshari dari ayahnya, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda pada hari ini, hari Idul Fitri, para malaikat berdiri di sudut-sudut jalan sambil menyeru kepada kaum muslimin, 'Wahai kaum muslmin, berangkatlah pagi-pagi untuk meraih kemuliaan Tuhanmu. Haraplah kebaikan, niscaya Allah lipat gandakan karena ketika kalian diperintah qiyamullail, kalian dirikan. Kalian diperintah puasa di siang hari Ramadan, kalian laksanakan. Kalian taat kepada Tuhan kalian. Karena itulah, kalian berhak mendapatkan anugerah. Jika kalian telah selesai melaksanakan salat id, dari arah langit terdengar seruan, 'sesungguhnya Tuhan kalian telah mengampuni dosa kalian. Pulanglah kalian ke rumah-rumah kalian dengan riang gembira karena hari ini ialah hari anugerah kemenangan, sebagaimana ia dinamakan di langit sebagai hari kemenangan."

Mendengar khutbah Rasulullah SAW ini dan sampai salat telah selesai, Imam Ali Radhiyallahu Anhu tak bisa menahan sedih yang teramat dalam. Ia menangis seakan-akan memikul beban rasa malu yang begitu berat. Ketika para sahabat sudah kembali meninggalkan lapangan salat id, Ali rupanya masih tetap dalam posisinya. Salah seorang sahabat datang menghampiri Ali bin Abi Thalib. "Wahai menantu Rasulullah, apa yang membuatmu begitu bersedih? Bukankah Rasulullah SAW telah mengatakan kepada kita, hari ini merupakan hari kemenangan?" jawab Ali. "Kemenangan bagi yang menang. Apakah aku termasuk orang-orang yang menang? Aku malu dengan kualitas puasaku, qiyamullail-ku dan ibadahku." Mendengar jawaban Ali seperti itu, akhirnya sahabat itu pun menangis pula.

Allahu Akbar. Pantaskah kita angkuh dan merasa besar, padahal Rasulullah SAW ketika orang yang paling banyak membela dakwah beliau; Khadijah dan Abu Thalib wafat. Dengan wafatnya dua orang yang setia tersebut, kaum kafir Quraisy semakin liar dan ganas permusuhannya dengan Rasulullah SAW. Yang paling ringan siksaan kafir Quraisy ialah setiap kali pulang tawaf, pandir Quraisy selalu mencegatnya dan menyiramkan tanah bercampur kotoran unta ke kepalanya.

Tahukah apa yang dilakukan Nabi kita tercinta? Beliau pulang ke rumah dengan tanah yang masih di kepalanya. Fatimah, putrinya, lalu datang membersihkan kepala ayahnya sambil menangis. Bagi Rasulullah SAW, tak ada yang lebih pilu rasanya bagi seorang ayah daripada mendengar tangisan anaknya, lebih-lebih anak perempuan. Setitik air mata kesedihan yang mengalir dari kelopak mata seorang putri ialah sepercik api yang membakar jantung dan sanubari. "Fatimah anakku, janganlah menangis, nak! Kaum Quraisy tak seberapa mengganggu ayahmu," ucap Rasulullah SAW.

Akhirnya, Rasulullah SAW seorang diri berangkat ke Thaif tanpa sepengetahuan keluarga, para sahabat, dan kaum muslimin untuk meminta dukungan dan suaka bagi kaum muslimin kepada raja Thaif. Sesampainya di Thaif, Rasulullah justru dicaci, dilempari batu, dan dikejar-kejar masyarakat Thaif. Allahu Akbar! Rasul pun berlindung di sebuah kebun kepunyaan Utbah dan Syaibah (anak-anak Rabiah). Orang mulia ini pun berdoa seraya mengangkat kepala menengadahkan ke langit, pilu dalam lantunan doa berisi pengaduan yang sangat mengharukan.

Doa Rasul, ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, ketidakmampuanku, serta kehinaanku di hadapan manusia, wahai zat yang Maha Pengasih. Engkaulah yang melindungi si lemah dan engkaulah pelindungku. Ya Rabb, kepada siapakah hendak Kau serahkan nasibku? Apakah kepada orang jauh yang berwajah muram atau kepada musuhku? Bagiku keduanya tidak jadi masalah aku tidak peduli, asalkan Engkau tidak murka kepadaku sebab sungguh luas kenikmatan yang kau limpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada Nur--wajah-Mu yang menyinari kegelapan yang membawakan kebaikan bagi dunia dan akhirat daripada kemurkaan yang Kau timpakan kepadaku. Engkaulah yang berhak menegurku hingga aku dapat mereguk rida-Mu. Tiada daya dan upaya selain kekuatan-Mu.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Idul Fitri oleh sebagian ulama didefinisikan dengan waqfatun yasiirah bada rihlatin syaqqah, yang artinya 'renungan sebentar atau introspeksi diri setelah perjalanan panjang yang amat melelahkan’. Makna itu tampaknya sejalan dengan definisi morfologis (baca: ilm sharf) yang menjelaskan bahwa kata 'id' secara etimologi berasal dari kata aada-yauudu-iidan-audan, yang artinya kembali atau menoleh. Sifat orang yang menoleh pasti melihat ke belakang. Begitulah Hari Raya Idul Fitri, seorang muslim hendaknya melakukan evaluasi, renungan, dan introspeksi ke belakang apa-apa yang telah dilakukan sebagai bekal perbaikan di masa yang akan datang.

Kisah Ali bin Abi Thalib sangat menginpsirasi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita saat ini, yaitu tidak merasa diri paling benar dan orang lain paling salah. Inilah ujian kita saat ini. Terlebih, jika merasa memvonis beda pandangan dan beda pilihan, kita vonis murtad bahkan kafir.

Sebetulnya perbedaan tajam hari ini pernah terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW. Salah seorang putri Nabi, Zainab, bersuamikan laki-laki nonmuslim, namanya Abul Ash bin Rabi. Hal itu terjadi karena pernikahan keduanya; Zainab dan Abul Ash bin Rabi terjadi sebelum Muhammad diangkat menjadi nabi, kira-kira usia nabi kala itu sekitar 30 tahun. Tentu syariat Islam belum ada. Namun ketika Muhammad diangkat menjadi nabi pada usia 40 tahun, seluruh keluarga inti Nabi masuk Islam, tanpa terkecuali Zainab putri beliau. Namun, Islam Zainab tidak diikuti suaminya.

Zainab selaku istri berada pada pilihan yang sangat sulit; antara memilih ayahnya yang jelas-jelas nabi atau tetap mendampingi suaminya walaupun kafir. Ini merupakan pilihan yang sangat sulit. Namun, ternyata Zainab memilih mendampingi suaminya yang nyata-nyata kafir. Zainab berkata, "Ayah, izinkan Zainab tetap mendampingi suami." Andaikan Zainab ada saat ini mungkin beliau sudah mengalami perundungan dari warganet. Bahkan ketika ada perintah hijrah ke Madinah, seluruh kaum muslimin diwajibkan hijrah. Alquran menyebutnya, 'hanya orang munafik yang tidak ikut hijrah’. Lagi-lagi Zainab dihadapkan pada pilihan sulit, antara hijrah ke Madinah dan tetap di Mekah mendampingi suaminya. Sebuah pilihan sulit. Ternyata Zainab memilih suaminya untuk tetap di Mekah.

Bahkan, puncaknya ketika terjadi perang atau keimanan dan kekufuran; Perang Badar. Suaminya Zainab, Abul Ash bin Rabi, perang melawan mertuanya sendiri, yaitu Rasulullah SAW. Singkat cerita, dalam Perang Badar tersebut kaum muslimin diberikan kemenangan dan Abul Ash bin Rabi ditawan di Madinah. Pada masa Nabi, para tawanan perang dapat dibebaskan dengan cara membayar tebusan. Zainab, luar biasa akhlaknya. Ia memanggil sepupu suaminya yang telah muslim untuk membawa kalung miliknya ke Madinah sebagai tebusan bagi suaminya.

Berangkatlah utusan Zainab tersebut ke Madinah. Setibanya di sana, utusan ini langsung menyerahkan kalung Zainab kepada Rasulullah. Rasulullah menangis ketika menerima kalung tersebut. Beliau paham betul kalung tersebut ialah milik istri tercintanya, Khadijah, yang dihadiahkan pada pernikahan Zainab. Lalu Rasul berkata, "Wahai utusan berangkatlah kembali ke Mekah, serahkan kembali kalung ini kepada putriku. Sampaikan suaminya sudah aku bebaskan."

Abul Ash bin Rabi menyaksikan kejadian tersebut sangat terharu. Ia sangat beruntung memiliki istri yang sangat salehah seperti Zainab. Dalam kekafirannya, Zainab masih setiap mendampinginya, bahkan membebaskannya. Mulai saat itulah Abul Ash bin Rabi tergerak untuk memeluk Islam. 

 

Perdamaian dan kebenaran

Islam itu ialah agama universal rahmatan lil alamin. Dakwahnya merangkul, bukan memukul. Ia hadir untuk memberikan kesejukan. Lihatlah kisah berikut ini.

Satu waktu Nabi pernah didatangi orang-orang Yahudi. Seraya mereka berkata, "Ya Muhammad, kami orang-orang Yahudi memiliki sepetak tanah dekat Masjid Nabawi. Tanah tersebut hendak kami bangun sinagoge." Bagaimana respons Nabi Muhammad SAW? Beliau malah berkata, "Bilal cari beberapa sahabat, bantu orang-orang Yahudi membangun sinagoge." Bilal sangat heran dengan perintah Nabi ini. Namun karena ini perintah Nabi, tidak boleh dibantah. Akhirnya, Bilal dibantu para sahabatnya bahu-membahu mendirikan sinagoge.

Menjelang zuhur, Bilal mohon izin untuk mengumandangkan azan. Khawatir instruksi Nabi ini salah, Bilal akhirnya membaca istigfar dan sayyidul istigfar. Lalu azanlah Bilal. Mendengar azannya Bilal, orang-orang Yahudi ini terkesima, isinya perdamaian, ketenangan, dan kebenaran. Terjadilah diskusi singkat di antara orang-orang Yahudi, bukanlah apa yang kita cari itu sebetulnya sudah ada pada azannya Bilal. Akhirnya, mereka memutuskan untuk bertemu Nabi.

"Ya Muhammad, awalnya tanah kami hendak dibangun sinagoge. Namun, pesan-pesan itu sudah kami dapatkan pada azannya Bilal. Tanah yang awalnya hendak kami bangun sinagoge, kami hadiahkan untuk pengembangan Masjid Nabawi." Itulah dakwah Islam. Santun, sejuk, cerdas, dan tidak provokatif.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More