Mencapai Kemenangan dalam Pendidikan

Penulis: Azwar Anas Guru Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe Pada: Senin, 10 Jun 2019, 00:30 WIB Opini
Mencapai Kemenangan dalam Pendidikan

MI/Duta
Ilustrasi

AKHIR dari perjalanan ibadah puasa yang dilaksanakan selama Ramadan, dimaknai sebagai pencapaian hari kemenangan berupa perayaan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran. Momen yang biasanya penuh dengan kegembiraan serta untuk berkumpul bersama keluarga dan sanak saudara, mengenakan baju baru dan menikmati berbagai tempat rekreasi bersama. Lebih jauh dari itu semua, Allah SWT telah menjanjikan kemenangan yang sesungguhnya dari ibadah puasa Ramadan bagi hamba-Nya, yaitu mencapai derajat takwa yang lebih baik.

Thalq bin Habib Al Anazi mengungkapkan bahwa takwa ialah mengamalkan ketaatan kepada Allah, mengharapkan ampunan-Nya, dan meninggalkan maksiat serta takut terhadap azab Allah. Inilah esensi kemenangan sesungguhnya yang Allah janjikan. Ketika ibadah puasa telah usai, manusia yang mencapai kemenangan berupa derajat takwa mengalami perubahan dalam menjalani kehidupan, baik dalam segi beribadah, bermuamalah, maupun bergaul sesama manusia menjadi lebih baik karena berbagai fase latihan kebaikan yang dilakukan selama Ramadan telah mengkristal menjadi karakter baik baginya.

Kemenangan dalam pendidikan
Tak ubahnya ibadah puasa pada bulan suci Ramadan yang diakhiri dengan perayaan hari kemenangan/Lebaran, dalam perspektif pendidikan, tentunya kemenangan dapat juga diraih dan dimaknai dari berbagai hal. Sebagian orang memaknai kemenangan pendidikan dengan memperoleh nilai tinggi pada saat ujian. Sebagian yang lain memaknainya dengan dinyatakan lulus pada sebuah institusi pendidikan. Bahkan, beberapa yang lain memaknai kemenangan pendidikan ketika dinyatakan lulus dan mampu bertarung untuk masuk ke perguruan tinggi atau memperoleh pekerjaan yang layak berdasarkan pendidikannya.

Berdasarkan pemaknaan tersebut, berbagai hal pun dilakukan banyak orang untuk memperoleh kemenangan berdasarkan persepsinya. Belajar dengan tekun serta terus mengasah kemampuan kognitif, merupakan salah satu hal yang banyak dilakukan, sedangkan yang lain fokus belajar serta membangun relasi untuk mengenal banyak hal dan bisa dengan mudah mencapai tujuan akhir nantinya. Tentu saja hal itu tidak salah. Namun sangat disayangkan, orang-orang ini hanya berfokus pada pencapaian kognitif semata, tetapi abai akan afektif dan kemampuan psikomotorik yang juga merupakan unsur pencapaian kemenangan seseorang.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 menyebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Berdasarkan UU di atas jelas terlihat bahwa tujuan pendidikan nasional tidak hanya untuk mencapai ranah kognitif peserta didik, tetapi lebih dari itu aspek afektif dan psikomotorik juga merupakan hal yang perlu diperhatikan. Hal itu begitu penting mengingat saat ini banyak peserta didik yang cerdas secara kognitif, tetapi masih gagap dalam beretika dan berakibat pada rusaknya moral peserta didik. Hal itu tecermin dari terjadinya penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, dan tawuran antarpelajar. Belum lagi tidak menutup kemungkinan saat besar nanti peserta didik menjadi orang yang sukses, tetapi gagal dalam bersikap sehingga terjadinya korupsi dan berbagai hal negatif lainnya.

Mencapai kemenangan
Guru sebagai garda terdepan dalam pendidikan, mengambil peranan yang sangat besar dalam menentukan sukses atau tidaknya para peserta didik di masa depan. Dalam mencapai kemenangan pendidikan bagi peserta didik, tentunya guru dapat memulai dari meraih kemenangan untuk dirinya sendiri terlebih dahulu. Berbagai hal dapat dilakukan guru untuk menunjang hal itu, salah satunya dengan mengembangkan kompetensinya sebagai pendidik.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) menyebutkan bahwa pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional (Dadi dan Daeng: 2013).

Setidaknya, terdapat empat kompetensi dasar yang harus dimiliki pendidik untuk menunjang profesinya agar peserta didik dapat memperoleh kemenangan pendidikan sesungguhnya, yaitu kompetensi pedagogis yang meliputi kemampuannya dalam mengelola, merancang, dan melaksanakan proses pembelajaran serta melakukan evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Selain itu, kompotensi personal yang mencakup kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan dapat menjadi teladan juga harus dikuasai pendidik.

Hal ini begitu penting untuk memengaruhi perkembangan peserta didik. Kompetensi sosial yang meliputi kemampuan berinteraksi dengan orang lain dan kompetensi profesional yang mencakup kemampuannya dalam menguasai materi pembelajaran merupakan dua hal lain yang harus dikembangkan.

Pada dasarnya, menjadi pribadi pembelajar dan terus mengembangkan kapasitasnya guna mencapai tujuan pendidikan nasional merupakan hal utama yang harus dilakukan guru untuk mencapai kemenangan pendidikan bagi diri dan peserta didiknya. Ibarat dua sisi mata uang, guru dan pembelajaran merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan dalam pendidikan, keduanya saling terkait dan terikat satu sama lain sebagai bagian untuk mencapai puncak pendidikan sesungguhnya.

Sebagaimana usaha besar untuk memperoleh kemenangan Ramadan dengan terus beribadah dan mendekatkan diri pada-Nya, belajar ialah sebuah proses yang harus dilakukan secara terus-menerus. Mengasah kemampuan/kompetensi yang sudah selayaknya dimiliki seorang guru merupakan salah satu langkah penting yang harus dilakukan dalam membangun pendidikan yang lebih baik. Dari titik inilah kemenangan pendidikan yang diharapkan dapat diraih secara utuh. Semoga.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More