Senin 10 Juni 2019, 00:05 WIB

Refleksi Ramadan dan Ujian Nasional

Syamsir Alam Divisi Pengembangan Kurikulum dan Penilaian Yayasan Sukma | Opini
Refleksi Ramadan dan Ujian Nasional

DOK PRIBADI
Syamsir Alam Divisi Pengembangan Kurikulum dan Penilaian Yayasan Sukma

 

BULAN Ramadan sering disebut sebagai bulan penggemblengan untuk menguji keimanan orang-orang beriman yang sedang menjalani ibadah puasa, agar mereka mendapatkan derajat muttaqin atau bertakwa. Saat Ramadan, abai terhadap evaluasi individual membuat kualitas ibadah puasa akan kurang optimal.

Di sisi lain, dalam urusan kemasyarakatan kita umumnya cenderung abai. Berbagai kebijakan dan peraturan yang menyangkut kehidupan masyarakat yang dikeluarkan pemerintah sering kali diterima tanpa sikap kritis. Padahal, Islam memberikan tuntunan, imam dalam salat apabila keliru patut diluruskan. Ayat-ayat Alquran, menurut hemat penulis, selaras dengan prinsip-prinsip penilaian pendidikan yang adil, valid, reliabel, dan tepat sasaran (on-target).

Ujian ialah keniscayaan bagi sebagian masyarakat. Ujian sering dipandang sebagai sesuatu yang 'mencemaskan' sehingga jika dimungkinkan dihilangkan saja, sedangkan dalam Islam, ujian menyatu dalam kehidupan keseharian. Allah SWT dalam Surah Al-Ankabut ayat 2, berfirman, "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan 'kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?" Dalam Islam, kedudukan seseorang akan sangat ditentukan oleh ikhtiar dalam mengatasi ujian (hidup) yang dihadapinya.

Mendiskusikan ujian/tes dalam dunia pendidikan tidak selalu dipandang sebagai sebuah kewajaran, apalagi jika hasil dari ujian itu akan berakibat pada kedudukan siswa dalam belajar, guru dan kepala sekolah dalam menjalani profesinya. Oleh karena itu, dalam menyusun kebijakan ujian, apakah itu ujian nasional (UN) dan ujian yang dikategorikan high-stake test lainnya diperlukan kearifan agar hasilnya tidak dipahami secara salah.

Secara umum, ujian memiliki dua tujuan utama, yaitu digunakan untuk merekam pengalaman pembelajaran siswa, yang disebut dengan tes prestasi belajar (achievement test), dan tujuan tes lainnya ialah untuk memprediksi kemampuan seseorang (kandidat) pada program tertentu di sebuah perguruan tinggi (PT) atau pekerjaan tertentu di suatu perusahan, yang disebut predictive test.

Perubahan orientasi penilaian semakin tampak nyata. Kita menyaksikan pergeseran pemanfaatan hasil ujian, yang sebelumnya diarahkan pada norm-referenced interpretation menjadi penafsiran yang berbasiskan pada criterion-referenced. Jika sebelumnya, penilaian digunakan sebagai instrumen untuk membandingkan siswa berdasarkan prestasi, sekarang kegiatan penilaian sudah diarahkan sebagai upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan substantif, seperti apakah hasil penilaian sudah memenuhi ekspektasi pembelajaran yang diharapkan?

Dua macam pergeseran penting lainnya, menurut Stiggins (2007) adalah "Adanya kebutuhan untuk menyeimbangkan praktik penilaian sumatif dengan aplikasi penilaian formatif; ujian berskala besar (large-scale assessment) dengan ujian tingkat kelas." Pergeseran ini dimungkinkan dapat diterima secara luas disebabkan keberhasilan praktik penilaian formatif dalam mendorong peningkatan mutu pendidikan secara makro sebagaimana yang ditunjukkan hasil studi tentang efektivitas penilaian formatif dan penilaian kelas lainnya (Black, P dan William, D: 1998; Hattie, J dan Timperley, H: 2007).

Ujian nasional
Dalam konteks UN, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah berupaya melakukan perbaikan meskipun belum optimal. Desain ujian sebagai penentu kelulusan ke depan seharusnya dipisahkan dari kepentingan pemetaan/perbaikan sehingga kita dapat melihat dengan jelas pencapaian mutu pendidikan secara berkala. Soal-soal UN untuk kepentingan pemetaan/feedback, semestinya didesain berbeda dengan yang akan digunakan untuk kepentingan kelulusan.

Soal tes yang digunakan seharusnya on-target, artinya desainnya harus dengan tepat mengukur kemampuan setiap siswa sehingga hasilnya akan dapat memberikan informasi akurat tentang siswa yang memiliki kemampuan terhadap mata pelajaran dan siswa yang masih kurang menguasai mata pelajaran yang diuji.

Kutipan sebagian ayat 286 Surah Al-Baqarah di awal tulisan ini menjadi relevan untuk digunakan sebagai pedoman dalam mengembangkan desain pengujian pendidikan. Allah tidak memberikan ujian (spiritual) yang bebannya melebihi kapasitas seorang hamba untuk memikulnya.

Dalam konteks ilmu pengujian, hal itu disebut dengan on target. Artinya, siswa yang memperoleh pengalaman pembelajaran dari guru-guru dan dukungan dengan fasilitas belajar yang baik diuji dengan alat tes yang berbeda dengan siswa-siswa yang memperoleh pengalaman pembelajaran seadanya meskipun kurikulum dan target pencapaian sebelumnya sudah ditetapkan sama secara nasional. Itulah yang disebut asas keadilan (fairness) dalam penilaian pendidikan.

Jika kita teliti hasil UN, kita akan mendapatkan bahwa siswa yang belajar di sekolah-sekolah dengan fasilitas dan iklim belajar yang sangat baik, hampir 90% soal-soal ujian itu dapat dikerjakan dengan benar, artinya tantangan terhadap ujian bagi mereka hampir nihil. Akibatnya, ujian bukannya menumbuhkan motivasi belajar, sebaliknya akan menurunkan motivasi mereka dalam belajar.

Di lain pihak, begitu banyak siswa yang karena kondisi ekonomi keluarga sehingga hanya mampu 'membeli' pengalaman pembelajaran di sekolah-sekolah yang serbaterbatas, dipaksa harus menempuh ujian yang kualitas soalnya berada diluar jangkauan mereka untuk dapat menjawab dengan benar. Akibatnya, mereka mengalami discouraging dalam belajar dan merasa under-achievers. Padahal ketidaksanggupan itu belum tentu disebabkan mereka kurang pandai, tapi karena buruknya kualitas pembelajaran yang diperoleh selama proses pembelajaran di sekolah (bias of learning opportunity).

Prinsip keadilan
Keadilan Tuhan ditunjukkan bahwa penghargaan yang diberikan kepada hamba-Nya disesuaikan dengan amal usaha. Jadi pencapaian (attainment) setiap hamba-Nya terefleksi dengan sangat jelas dari tingkat usaha tiap-tiap individu. Instrumen ujian harus mampu mengukur kemampuan siswa secara tepat (on target) dan valid sesuai dengan kualitas pengalaman pembelajaran yang diperoleh di sekolah. Dengan dikembangkannya computer adaptive testing (CAT), secara teknis masalah disparitas kualitas pembelajaran ini sebenarnya sudah dapat dipecahkan.

Selain itu, Allah dalam menetapkan keberhasilan (kelulusan) hamba-Nya dalam ujian menggunakan suatu trait atau attribute yang sangat netral dan adil bagi seluruh umat manusia, yaitu ketaatan. Allah tidak mengangkat derajat (meluluskan) seseorang karena hamba-Nya itu memiliki IQ tinggi, atau punya kekayaan yang banyak, atau berasal dari kalangan bangsawan, tapi berdasarkan kualitas ketaatan seseorang pada Allah Azza wa Jalla (yang mahaperkasa lagi mahaagung).

Ketaatan itu merupakan atribut yang netral (absolutely unbiased), artinya setiap individu manusia apakah ia memiliki IQ tinggi atau sebaliknya, kaya atau miskin, keluarga petani, keluarga buruh, atau pedagang berpotensi meraih derajat ketaatan tersebut asalkan yang bersangkutan berusaha keras untuk mencapainya. UN dapat mengambil pelajaran dari sini.

Setiap instrumen ujian yang digunakan seharusnya hanya mengukur kemampuan yang merupakan hasil pengalaman belajar siswa (unidimensional), sesuai dengan daya dukung sekolah. Soal tes tidak boleh menguntungkan siswa yang berasal dari keluarga yang secara ekonomi lebih beruntung, tetapi 'kejam' terhadap siswa yang berasal dari keluarga miskin (Widiatmo: 2009).

Selanjutnya, instrumen ujian hanya mengukur kemampuan hasil belajar siswa yang sesuai dengan kurikulum dan pengalaman pembelajaran di sekolah, bukan mengukur kemampuan siswa yang dibawa dari luar bangku sekolah, seperti kemampuan/bakat tertentu. Bakat khusus diukur dengan alat tes berbeda, bukan tes prestasi belajar. Wallahualam bisawab.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More