Sabtu 08 Juni 2019, 11:40 WIB

Pedagang Kembang Panen Rp1 Juta per Hari dari Tradisi Nyekar

Ahmad Rofahan | Nusantara
Pedagang Kembang Panen Rp1 Juta per Hari dari Tradisi Nyekar

Medcom.id/Ahmad Rofahan
Pedagang kembang di TPU Jabang Bayi Kota Cirebon, Jawa Barat.

 

TRADISI nyekar yang dilakukan oleh warga saat Lebaran membuat pedagang kembang di sejumlah tempat pemakaman umum (TPU) kebanjiran rezeki. Salah satunya, pedagang kembang yang berada di TPU Jabang Bayi, Kota Cirebon, Jawa Barat.
 
Pendapatan pedagang meningkat cukup tajam saat Lebaran 1440 Hijriah ini. Biasanya, para pedagang kembang hanya mengantongi Rp50 ribu setiap harinya. Saat ini, mereka bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp1 juta.

Rina, salah satu pedagang, mengaku banyak peziarah yang membeli kembangnya. Ia menjual banyak macam kembang, seperti melati, mawar, kenanga, soka, selasih, kingkong, pacar air, dan lain-lain. Dia juga menjual kendi, air mawar, kemenyan, dan bahan-bahan lain untuk berziarah.

Hal serupa disampaikan Nengsih, pedagang lainnya. Menurut dia, warga sudah mulai banyak membeli kembang sejak H-2 Lebaran. Mereka mengantisipasi tidak kebagian kembang saat nyekar.
 
Nengsih mengatakan kembang yang ia siapkan selalu habis terjual. Ia mendapatkan stok kembang-kembang tersebut dari para pengepul. Ia tidak mengambil dalam jumlah cukup banyak karena kembang hanya bertahan selama tiga hari.
 
"Kalau terlalu banyak, khawatir nanti pada rusak. Kalau habis, kita minta dikirim lagi," katanya.
 
Nengsih adalah keturunan ketiga yang berjualan kembang di sekitar TPU Jabang Bayi. Ia mengakui jika Idulfitri adalah momen yang paling ditunggu para penjual kembang. "Karena Lebaran banyak yang beli," ujar dia.
 
TPU Jabang Bayi cukup banyak didatangi oleh para peziarah. Selain tempat dikebumikannya warga secara umum, di TPU ini juga terdapat sejumlah makam para tokoh ulama dan masyarakat di Cirebon. (medcom/OL-9)
 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More