Jumat 07 Juni 2019, 13:45 WIB

Pengamat Sebut Kerusuhan Saat Lebaran karena Kekecewaan Terpendam

Melalusa Susthira K | Nusantara
Pengamat Sebut Kerusuhan Saat Lebaran karena Kekecewaan Terpendam

ANTARA/Emil
Kepulan asap hitam dari puluhan rumah yang dibakar di Desa Gunung Jaya usai terjadi keributan antarpemuda.

 

KERUSUHAN yang terjadi hampir berbarengan di tiga wilayah Timur Indonesia yakni, Buton, Kupang dan Adonara pada Hari Raya Idul Fitri dinilai pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin sebagai manifestasi kekecewaaan dan pertentangan yang ada di masyarakat.

"Konflik itu karena ada gesekan, ada kekecewaan, ada yang menyulut, atau ada pertentangan di masyarakat. Sehingga muncullah bentrok, kerusuhan dan lain sebagainya. Bisa saja ada sesuatu yang lama terpendam, lalu meledak di Hari Raya Idul Fitri," terang Ujang saat dihubungi Media Indonesia, Jumat (7/6).

Ujang menilai, secara alamiah, konflik merupakan bagian dari interaksi sosial masyarakat yang niscaya terjadi. Namun, untuk dapat menggolongkan suatu konflik semata-mata merupakan konflik sosial ataukah konflik politik yang sengaja diciptakan sebagai upaya destabilisasi nasional, Ujang mengungkapkan, harus mendalami penyebabnya terlebih dahulu dengan seksama, serta menunggu hasil penyidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian.

"Apakah memang ada yang memancing di air keruh sehingga menjadi konflik secara nasional, saya tidak bisa menjawab itu karena harus mendalami. Sejatinya nanti mungkin yang bisa menjawab itu kepolisian apakah tadi konfliknya hanya konflik sosial atau konflik politik yang berujung kekecewaan yang bisa memicu skala nasional," ujar Ujang yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR).

Baca juga: Pemerintah Janji Ganti Rumah Warga Terbakar Pascabentrok Buton

Di sisi yang lain, Ujang menilai aspek geografis juga turut memicu terjadinya konflik di suatu daerah, dengan wilayah Kupang dan Adonara memiliki frekuensi konflik yang cukup tinggi.

Ujang berpendapat, dengan geografis yang gersang dan panas di wilayah tersebut, berimplikasi pada sosiologis masyarakatnya menjadi rentan terpantik hal-hal yang tidak disukai atau keributan-keributan kecil yang terjadi.

Oleh sebab itu, untuk dapat mengantisipasi konflik tersebut kembali pecah dan dapat mengganggu stabilitas nasional, Ujang mengungkapkan pemerintah, khususnya pihak kepolisian, harus mampu menggunakan pendekatan kultural-keagamaan sesuai dengan karakteristik masyarakat di masing-masing wilayah di Indonesia yang rentan terjadi konflik.

"Polisi harus mampu meredam dengan cara pendekatan-pendekatan yang berbudaya, yang terkait dengan keagamaan di masing-masing wilayah," pungkas Ujang.

Bentrok antara Desa Sampoabalo dan Desa Gunung Jaya, Buton, yang terjadi pada Rabu (5/6) mengakibatkan 87 rumah terbakar.

Sedangkan bentrokan antara dua perguruan pencak silat di Desa Manusak, Kupang, pada Kamis (6/6) mengakibatkan sedikitnya 1 orang tewas dan 4 orang luka-luka.

Begitu juga dengan keributan yang terjadi antara warga Desa Nubalema 2 dan warga Desa Wewit di Adonara, Flores, pada Kamis (6/6) yang mengakibatkan 1 orang tewas dan 3 orang lainnya luka. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More