Kamis 06 Juni 2019, 18:40 WIB

Kapal Ramadan ACT Sambangi Pulau Terluar Kalsel

Denny S | Nusantara
Kapal Ramadan ACT Sambangi Pulau Terluar Kalsel

humas ACT
kapal ramadan

 

MISI sosial tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kalimantan Selatan, dipenghujung Ramadan kemarin berhasil menjangkau warga di Pulau Matasiri, Kabupaten Kotabaru, salah satu pulau terluar di Kalsel. Ekspedisi Kapal Ramadhan 2019 ini membawa ratusan paket lebaran dan sembako bagi warga terpencil di Kecamatan Pulau Sembilan.

Kapal Ramadan yang merupakan bagian dari aksi sosial dan kemanusiaan tim ACT ini menempuh perjalanan 15 jam mengarungi lautan menggunakan kapal kayu dengan cuaca kurang bersahabat dari Pelabuhan Pagatan, Tanah Bumbu. Tujuan tim adalah masyarakat Pulau Matasirih yang beberapa waktu lalu menjadi korban bencana longsor.

Baca juga: Lalu Lintas Arah Cileunyi Menuju Nagreg Macet

"Ekspedisi kapal ramadhan mengangkut satu ton bantuan pangan dan sandang yang dikumpulkan dari masyarakat. Meski cuaca buruk alhamdulllah kami bisa sampai ke Pulau Matasirih," ujar Ketua Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Kotabaru, Hamas Al Qosam, Kamis
(6/6).

Kedatangan Kapal Ramadhan Tim ACT ini disambut antusias warga. "Bencana longsor menyebabkan sebagian masyarakat kami kehilangan harta benda. Bantuan ini sangat berharga bagi kami," tutur Misrani, salah seorang warga korban bencana.

Koordinator Program ACT Kalsel, Muhammad Budi Rahman Wahid, mengaku senang dengan keberhasilan pengiriman paket lebaran ke Pulau Matasirih. Ia juga bangga dengan ketangguhan para relawan yang telah mengawal bantuan. Kapal Ramadan dirancang memang untuk menjangkau lokasi-lokasi terpencil khususnya di wilayah kepulauan. Salah satu pulau di Kalsel yang memerlukan perhatian saat ini adalah Pulau Matasirih di Kabupaten Kotabaru.

Sebelumnya, kegiatan Kapal Ramadan ini juga menyambangi masyarakat pinggiran sungai Kota Banjarmasin. Berangkat dari Pelabuhan Pasar Lima, Kapal Ramadan menuju ke Muara Sungai Kelayan membawa 200 paket sajian berbuka puasa. Sebagian juga dibagikan kepada warga yang sedang berada di bantaran sungai.

Kelayan adalah nama daerah di Banjarmasin yang merupakan kawasan padat penduduk. Pemukiman yang padat dan hanya terbuat dari kayu menyebabkan kawasan ini rawan kebakaran. Sebagian besar warga Kelayan berprofesi sebagai buruh. Khusus di Jl Simpang Limau, mereka menggantungkan hidup dengan menjadi buruh di Pasar Lima, yaitu dengan menjadi pengupas bawang. Untuk itulah sungai menjadi transportasi utama mereka sehari-hari sebagai sarana untuk mencapai lokasi kerja. (Ol-6)

Baca Juga

MI/Hijrah Ibrahim

35 Warga Gorontalo Tertahan di Ternate Sejak 8 Mei

👤Hijrah Ibrahim 🕔Kamis 28 Mei 2020, 06:07 WIB
35 warga Gorontalo tidak bisa masuk ke wilayahnya karena Pemprov Gorontalo masih melaksanakan PSBB sampai 29 Mei 2020. Mereka kini...
DOK MI

Tidak Pakai Masker di Banyumas akan Kena Sanksi Tegas

👤Lilik Darmawan 🕔Kamis 28 Mei 2020, 04:15 WIB
Seluruh toko juga harus mewajibkan karyawannya agar bermasker. Jika masih ditemukan karyawan tak bermasker, maka akan ada sanksi bagi toko...
ANTARA/M Agung Rajasa

Daop 6 Perpanjang Pembatalan Operasional KA Reguler

👤Agus Utantoro 🕔Kamis 28 Mei 2020, 03:55 WIB
Meski terdapat pembatalan perjalanan KA jarak jauh, namun PT KAI (Persero) tetap menjalankan KLB (Kereta Luar Biasa) tujuan Gambir,...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya