Rabu 05 Juni 2019, 00:10 WIB

13 Orang Tewas Dalam Penyerangan Militer di Sudan

Marcheilla Ariesta | Internasional
13 Orang Tewas Dalam Penyerangan Militer di Sudan

AFP/Ebrahim Hamid
Militer Sudan berjaga mengusir pengunjuk rasa dari ibu kota.

 

PASUKAN keamanan Sudan menyerang kamp protes di ibu kota. Akibatnya sekitar 13 orang tewas dalam insiden tersebut.
 
Dalam video yang diunggah secara daring, penyerangan terjadi Senin, 3 Juni 2019, dini hari. Warga sipil terlihat berlarian di jalan-jalan yang dibatasi tenda, dengan kepala menunduk, menghindari tembakan.
 
"Orang-orang yang terluka tergeletak di tanah, di area depan karena tidak ada cukup tempat tidur untuk merawat mereka," kata dokter di rumah sakit Royal Care, Azza al-Kamel, dikutip dari Shanghai Daily, Selasa, 4 juni 2019.

Pasukan Deklarasi Kebebasan dan Perubahan mengatakan sekitar 13 orang tewas dan lebih dari 200 lainnya terluka.
 
Menjelang tengah hari, pasukan keamanan menguasai hampir seluruh kamp, mengusir pengunjuk rasa dan mengosongkan daerah sekitar dua kilometer persegi.
 
"Kami keluar dan tidak bisa masuk," tutur salah seorang pemimpin protes, Hisyam Shalbi.
 
Kamp telah menjadi pusat gerakan protes yang berhasil menggulingkan mantan Presiden Omar al-Bashir pada April lalu. Setelah militer merebut kekuasaan, puluhan ribu pengunjuk rasa tetap berada di kamp tersebut dan menuntut transisi cepat ke pemerintahan sipil.
 
Para pemimpin protes dan pejabat militer telah melakukan negosiasi susunan pemerintahan transisi. Namun, kedua belah pihak terpecah karena susunan dan kepemimpinan dewan, dan jenderal yang berkuasa menolak melepaskan kekuasaan.
 
Juru bicara dewan militer berkuasa, Shams al-Deen al-Kabashi, mengatakan bahwa militer menargetkan suatu daerah yang dianggap bermasalah oleh pihak berwenang karena dugaan kegiatan kriminal.(Medcom.id)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More