Senin 03 Juni 2019, 23:20 WIB

Bersegeralah Menuju Allah

Quraish Shihab | TAFSIR AL-MISHBAH
Bersegeralah Menuju Allah

MI
Quraish Shihab

AYAT sebelumnya sudah diterangkan tentang wujud-wujud keesaan Allah di bumi, dalam diri manusia. Dalam konteks manusia, Allah menguraikan tentang rezeki yang diperoleh manusia bahwa itu hak, pasti bersumber dari Allah.

Kemudian menceritakan tentang Nabi Ibrahim kedatangan tamunnya dan tugas-tugasnya. Dalam Surah Az Zariyat ayat 47-51 ini kembali membuktikan tentang keesaan Allah. Di sini dikatakan, "Langit kami ciptakan, kami bangun dengan tangan."

Tangan, bagi manusia adalah tangan. Tapi Tuhan tidak punya tangan. Kalau begitu, apa yang dimaksud dengan tangan? Ada yang menafsirkan pokoknya itu tangan. Maka untuk orang yang mau lebih puas harus memahaminya secara metafor.

Saya contohkan, Si A di tangan saya, di bawah kekuasaan saya. Artinya, dalam ayat ini berarti langit di bawah tangan yaitu di bawah kendali.

"Dan kami memperluasnya." Apa maknanya? Terdapat perbedaan pendapat oleh ulama. Salah satu yang mudah dipahami yakni diperluas dengan adanya jutaan bintang yang besar dan kecil. Sedemikian banyaknya, sehingga habis umur manusia belum juga selesai dihitung.

Lalu ada pendapat kedua yang lebih modern, yakni ilmuwan yang berkata alam raya ini terus berkembang. Ini makna yang mudah dipahami ilmuwan karena memang Allah mengatakan diperluas. Ini salah satu bukti kebenaran Alquran.

Pada masa itu, orang belum tahu alam raya ini mengalami ekspansi. Tapi, dari mana Nabi Muhammad SAW tahu itu? Memang kebenaran dari Alquran yaitu isyarat-isyarat ilmiahnya. Dia mengisyaratkan hakikat ilmiah seperti ini. Alquran diturunkan untuk manusia sepanjang masa.

"Dan Bumi ini kami hamparkan maka sungguh kami yang sebaik-baik yang menghamparkannya."

Baru dikatakan lagi, "Segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu sadar bahwa memang Tuhan Mahakuasa, Maha Pengatur, dan kalau semua terjadi dengan berpasang-pasangan kamu harus sadar bahwa Dia tanpa pasangan."

Jika demikian halnya dan kalian (manusia) melakukan dosa, larilah, bergegaslah membawa beban kalian menuju Allah. Kita hidup membawa beban, bersegeralah kepada Allah, sehingga beban itu tidak dipikul terus-menerus. Manusia berjalan menuju Allah.

Wahai manusia, kamu bersusah payah hidup di dunia ini, paling tidak kesulitan yang manusia hadapi ialah melawan daya tarik bumi. Larilah, bersegeralah menuju Allah. Karena mau tidak mau kita akan kembali.

Memang ulama-ulama tasawuf menggambarkan bagaimana perjalanan menuju Allah. Perjalanan itu mendaki, jangan anggap perjalanan itu datar. Kalau Anda mau datar, Anda tidak sampai, karena Allah di ketinggian surga di langit. Tetapi, perjalanan yang mendaki ini bisa ditempuh dengan nyaman apalagi setelah berjalan sekian lama.

Apa maksudnya? Kita ambil contoh puasa Ramadan. Hari pertama sulit, hari kedua berkurang, dan akhirnya terbiasa dan ringan. Perjalanan menuju Allah seperti itu.

"Maka bersegeralah taat kepada Allah. Jangan kalian jadikan tuhan yang lain bersama Allah sebagai pemberi peringatan yang jelas tentang akibat syirik."

Bagaimana mulanya? Ada titik awal yang disebutkan dalam ayat 51 ini.

"Jangan persekutukan Allah." Itulah jalan awalnya percaya pada Allah dan tidak ada sekutu baginya.

Jangan jadikan sosok lain bersama Allah yang Anda patuhi. "Laa ilaaha illallah" itu yang wajib. Tidak ada yang wajib dipatuhi selain Allah semata.

"Inilah peringatan untuk kamu semua yang datang dari Allah. Sesungguhnya Aku untuk kalian secara khusus memberi peringatan yang jelas."

Jadi, titik tolaknya adalah syahadat dan kita harus benar-benar yakin dan wujudkan dalam sikap hidup kita. Kita sering kali mengucapkan kalimat syahadat, tapi sikap kita bertentangan dengan itu.

Laa ilaaha illallah itu menafikan segala yang dipatuhi setelah dibersihkan semuanya, dan yang kita patuhi, yang kita yakini, hanya Allah.

Jika ada yang dipatuhi selain Allah dan yang dipatuhinya direstui Allah, tapi tingkat kepatuhan itu tidak sama dengan Allah. Saya patuh terhadap orangtua, tapi kepatuhan saya tidak seperti kepatuhan saya kepada Allah. Karena apa pun yang diperintahkan Allah saya tahu ataupun tidak saya patuhi.

Jadi itu bermula dari kesadaran atas kelemahan dan mengakui keanggungan Tuhan. Itu bermula dari kesadaran kesalahan, sehingga mendorong manusia untuk kembali bertaubat kepada Tuhan.

"Begitulah peristiwa-peristiwa yang kami ceritakan kepadamu, wahai Nabi Muhammad menyangkut nabi-nabi. Kesimpulannya, bahwa orang-orang terdahulu apabila datang kepada mereka seorang Rasul, mereka berkata Rasul ini penyihir dan gila."

Yang membawa kebenaran itu selalu dilecehkan dan difitnah. Itu terjadi sejak dulu dari nabi-nabi sebelum Muhammad. Jangan hiraukan makian mereka, karena kecaman mereka tidak berpengaruh pada kamu. Yang penting, jalankan tugasmu dan berilah peringatan. (Sru/H-1)

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Senin, 19 Agu 2019 / 14 Ramadan 1440 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : 04:25 WIB
Subuh : 04:35 WIB
Terbit : 05:51 WIB
Dhuha : 06:20 WIB
Dzuhur : 11:53 WIB
Ashar : 15:14 WIB
Maghrib : 17:47 WIB
Isya : 18:59 WIB

PERNIK

Read More