Pancasila dan Pendidikan Kepalsuan

Penulis: Khairil Azhar Divisi Pelatihan Pendidikan Yayasan Sukma Pada: Senin, 03 Jun 2019, 03:40 WIB Opini
Pancasila dan Pendidikan Kepalsuan

Dok. Pribadi
Khairil Azhar Divisi Pelatihan Pendidikan Yayasan Sukma

ARTIKEL ini ditulis di pagi hari yang sejuk, di wilayah Sukmajaya, Kota Depok. Saat ini, suara kicauan burung, kokok ayam dan siamang dari kebun bambu di samping rumah, yang semestinya menambah kesyahduan suasana, dikalahkan kepungan suara pengeras suara dari rumah-rumah ibadah.

Sejauh yang saya tahu, kesejukan pagi dan berbagai suara binatang pagi ialah rahmat alam, obat fisik dan ruhani nan ampuh. Pengeras suara, di sisi lain, ialah temuan modernitas, alat yang diciptakan untuk membantu manusia. Dalam rangkaian pertarungan yang tak imbang, secara menyedihkan, suara alam kalah dan semakin dikalahkan di berbagai penjuru negeri.

Saya yakin, ini karena kedangkalan pikiran. Di pagi yang sejuk dan semestinya syahdu, manfaat pengeras suara dibelokkan. Ia menjadi mesin perampas hak akan ketenangan bagi bayi-bayi, anak-anak, ibu-ibu, dan mereka yang lelah dan perlu istirahat. Saya juga tak yakin itu ialah perintah Tuhan. Para pemakainya karena menyangka Tuhan akan senang dan memberi pahala, tak lagi peduli bahwa keluasan udara ialah ruang publik, milik bersama yang tak bisa dipakai semena-mena.

Di masa lalu, sebagai penanda waktu ibadah, kita mengenal beduk, tabuh, atau kentungan. Di samping lebih alami dan kultural--jika dipakai secara tepat guna--alat-alat itu tak terlalu mengganggu hak akan ketenangan dan kedamaian di ruang publik. Dalam momentum kepancasilaan di bulan ini, saya yakin bahwa suara berpengeras di setiap subuh dan di waktu-waktu lain itu karena euforia dan egosentrisme. Ini bukan praktik demokrasi. Kalaupun akan disebut konsensus, itu karena keterpaksaan tersebab ketakutan.

 

Kesadaran palsu

Meskipun konsep 'kesadaran palsu' ini mengandung cacat, ada juga manfaatnya sebagai alat penjelas. Salah satunya bahwa analisis perlu dimulai dengan keraguan yang masuk akal. Sebut saja, dalam konteks yang berhubungan dengan penggunaan ruang publik ini, 'kesadaran palsu' dihadap-hadapkan dengan 'kesadaran tidak palsu'.

Dalam narasi di bagian awal tulisan ini, bagi sebagian orang, terdapat asumsi bahwa penggunaan pengeras suara di rumah-rumah ibadah bermanfaat. Terutama bahwa ini diandaikan akan bermanfaat dalam membangun religiositas. Akan tetapi, pengandaian kebermanfaatan ini bisa disebut sebagai 'palsu' atau tidak benar kalau ia tidak mengacu pada fakta-fakta.

Pertama, dalam konteks musyawarah-mufakat, tidak pernah ada pembuktian bahwa setiap orang merasakan manfaatnya dan oleh karena itu betul-betul setuju dan tidak merasa terganggu. Kedua, jika diandaikan dengan mendengarkan suara-suara berpengeras di pagi hari tersebut--yang sekali lagi diperdengarkan di ruang publik--membuat orang akan menjadi lebih saleh. Sampai saat ini tak ada bukti bahwa itu berkorelasi dengan akhlak individual dan sosial mereka yang mendengar.

Alhasil, penggunaan pengeras suara selama berjam-jam di ruang publik ialah tindakan yang berdasar atas pengetahuan dan kesadaran palsu tentang kebermanfaatan. Ia akan menjadi tidak palsu atau benar jika ada yang betul-betul bisa membuktikan bahwa tindakan tersebut bisa diterima sesuai kaidah ilmu pengetahuan.

 

Eksistensi pendidikan

Kemampuan berpikir, bersikap, dan bertindak ialah buah pendidikan. Meskipun ada persekolahan (schooling), pendidikan yang sejati terjadi setiap saat di setiap ruang. Belajar terjadi, kata pendidik Vygotskian, ketika dialog atau dialektika terjadi dalam pikiran yang bisa berujung pada penemuan, bangunan pengetahuan baru, atau keraguan.

Belajar (learning) ialah kata aktif, konsep yang mengacu pada adanya tindakan dan proses. Ia tidak mengacu pada penerimaan tersebab keterpaksaan, seperti dalam pendidikan indoktrinatif atau proses yang intimidatif. Belajar terjadi ketika ada ruang untuk menerima sekaligus untuk ragu.

Ada perumpamaan yang indah dan tepat, yang dikutipkan Buya Hamka dalam pengantar beliau untuk terjemahan kitab Ihya' Ulumuddin versi bahasa Indonesia. Keraguan dalam proses berpikir dan belajar, seumpama ruang kosong di atas anak-anak tangga. Tanpa ruang kosong tersebut, kita tak akan mungkin bisa naik, bergerak menuju posisi yang lebih tinggi.

Saat ini di rumah tangga dan ruang-ruang publik seperti sekolah atau rumah ibadah--dan tentu saja di dunia maya, kalau kita cermati, anak-anak lebih terpapar pada narasi sosial yang cenderung biner atau hitam putih. Narasinya ialah 'kita-mereka', 'saya-kamu', 'kita benar-mereka salah' atau yang lebih menyedihkan bersifat kuasa instrumental 'i-it', yang mana saya ialah tuan dan yang lain ialah alat.

Dalam narasi-narasi seperti itu, tak ada ruang kosong di atas anak-anak tangga. Pilihan sudah ditetapkan sejak awal (pre-destined). Oleh karena itu, tidak ada proses yang disebut belajar. Yang terjadi ialah proses seperti yang terjadi pada mesin komputer atau ponsel: penulisan, penyimpanan, pemanggilan informasi sesuai kebutuhan, atau pengolahan data sesuai aplikasi tertentu.

Indikasinya sangat mudah ditemukan. Dalam narasi-narasi pendidikan kita, umpamanya, para tokoh dan guru tak berhenti menggunakan kata 'menanamkan' atau 'penanaman'. Bahkan, yang lebih ekstrem ada kata 'mencetak'. Keluaran (output) pendidikan harus berbanderol sesuai standar.

Relasi kuasanya sangat jelas; sang tokoh atau guru berposisi sebagai yang lebih tahu atau lebih hebat, berbanding dengan murid sebagai yang tidak atau kurang tahu dan oleh karena itu berposisi lebih rendah. Atau murid ialah 'objek' dan tokoh atau guru ialah 'subjek'.

Pendidikan dengan asumsi dasar seperti ini tentu saja tak akan benar-benar memfasilitasi deliberasi atau dialog. Tak benar-benar ada ruang bagi murid untuk belajar mengalami, menemukan, dan membangun pengetahuan. Kegiatan belajar menjadi rutinitas atau tindakan tanpa daya tarik intrinsik. Tak ada peluang untuk menaiki tangga dan sampai pada puncak keberhasilan.

 

Pendidikan kepancasilaan

Saya tak pernah yakin bahwa dengan cara berbangsa dan bernegara yang tak benar-benar memfasilitasi eksistensi keberagaman manusia dan ruang publik, serta sistem pendidikan yang terlahir dalam alur dan arah hegemonik, kehidupan yang Pancasilais akan terbangun.

Dalam pada itu, ketika Pancasila masih hendak dijadikan fondasi bagi konsensus, kompromi, atau kontrak sosial, harus dipastikan setiap warga negara bahwa ia bukan barang yang given atau seperti azimat sakti dalam cerita fiksi. Berpancasila ialah proses yang aktif. Berpancasila berarti bersedia untuk terus-menerus memperbarui pikiran, sikap, dan tindakan karena keberagaman dan perubahan lingkungan sosial.

Di sekolah-sekolah, Pancasila janganlah dibuat seperti kabar angin dari langit yang perlu disakralkan sejak taman kanak-kanak. Pendidikan kepencasilaan ialah soal praksis, fasilitasi pengalaman yang sebesar-besarnya dalam warna-warni lingkungan hidup para murid. Dosa terbesar guru terjadi dalam pendidikan kepancasilaan maupun pelajaran lainnya--setidaknya kalau kita mengamini kata Jean Piaget (1896-1980)--ialah ketika dia memberitahu murid-muridnya tentang sesuatu. Dengan tindakan itu, dia sebenarnya telah merampas kesempatan bagi murid-muridnya untuk melihat, merasakan, berpikir, mengambil sikap, dan bertindak mandiri.

Sayangnya, itulah yang terjadi dalam pendidikan kita. Mereka yang merampas ruang publik mungkin hafal Pancasila, tapi tak terbiasa dengan praktik analisis dan tindakan sosial yang utuh.

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More