Sabtu 01 Juni 2019, 06:00 WIB

Perang tagar

Ronal Surapradja | celoteh
Perang tagar

MI/Adam
Ronal Surapradja

RAMADAN tinggal beberapa hari lagi, artinya tugas saya menulis tiap hari untuk kolom ini akan selesai hehe. Setiap hari saya posting screen capture tulisan dari halaman e-paper Media Indonesia di akun twiter dan instagram saya beserta link jika ingin membacanya melalui website.

Untuk memudahkan mencarinya saya menambahkan tanda pagar (tagar) #celoteh dalam setiap postingan. Ternyata tagar itu terlalu umum, karena banyak yang menyertakan tagar tersebut untuk berbagai konteks, dari mulai kata kata puitis khas anak indie tentang senja sampai ocehan ABG yang menyemangati dirinya sendiri.

Karenanya saya tambah dua tagar lagi yang lebih spesifik yaitu #celoteh2019 dan #akanjadibuku. Hasilnya ketika di ‘search’ yang muncul semua postingan saya hehe.
Awal mulanya tagar dipopulerkan oleh Twitter dan diikuti platform media sosial lainnya seperti Instagram dan Facebook karena manfaatnya.

Membuat tagar dimaksudkan untuk mengumpulkan cerita dalam satu klasifikasi berita. Namun seiring perkembangan ternyata berubah menjadi multifungsi. Entah karena tren sesaat atau kepentingan publik memang punya kesadaran mendorong isu tertentu.

Tapi ada juga yang memang dimobilisasi agar menjadi topik yang paling dibicarakan pada hari itu oleh warganet istilahnya trending topics.
Fungsi tagar itu banyak, dari mulai menyebarkan informasi, hiburan, ajang sosialisasi sampai tempat untuk berekspresi dan menunjukkan reputasi.

Dari mulai yang serius sampai santai pernah dibuat tagarnya. Artis sampai mantan presiden pun pernah menjadi “korbannya”. Beberapa waktu lalu pernah ada cuitan Pak SBY di twitter yang kemudian memicu warganet membuat tagar #SBYJelaskan.

Saya kira jejak digitalnya masih ada, cek aja lucu banget hehe. Atau seorang Farhat Abbas yang dulu mencuit dengan tagar #calonpresidenmuda kemudian diplesetkan oleh netizen menjadi #calonpresidenkuda yang jauh lebih ramai dibanding yang asli hehe.

Lalu bagaimana tentang perang tagar di Twitter yang begitu ramai saat pelaksanaan pemilu kemarin? Apakah ada manfaatnya bagi pendidikan politik, dan partisipasi politik bangsa ini?

Jika tujuan menggunakan perang tagar untuk melakukan kampanye politik dan peningkatan awareness isu dukungan politik, tampaknya hal ini belum tercapai.

Lihat saja kualitas tagar-tagar yang muncul seringkali tidak bermutu. Banyak yang sifatnya personal, menghina, bahkan memainkan isu SARA. Belum lagi kemungkinan penggunaan akun-akun robot untuk memperbanyak jumlah retweet yang akhirnya membuat tagar yang dibuat menjadi trending.

Pemilu kemarin ada dua tagar yang sangat kuat dan menjadi trending yaitu #jokowi2peride dan #2019gantipresiden. Saking kuatnya, spektrumnya meluas bukan hanya di media sosial saja, tapi jadi tulisan yang disablon di kaos, stiker, bahkan jadi judul lagu.

Meski ada kata “perang” tapi perang tagar kita bawa santai saja. Tagar adalah fenomena wajar dalam perkembangan teknologi komunikasi. Tagar hanya fenomena sesaat yang akan hilang setelah tujuan politik pembuatan tagar tersebut tercapai atau tidak tercapai.

Selama tagar masih dilawan tagar saya kira ini sudah menunjukkan kedewasaan berpikir bangsa kita. Yang bahaya adalah jika tagar dilawan tindakan. Ribut di sosial media dilanjut ribut di dunia nyata. Ribet deh.

Silahkan saling gonggong, selama masih dalam tagar. Seperti anjing yang tidak akan menggigit selama masih menggonggong di dalam pagar.
 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More