Jumat 31 Mei 2019, 19:30 WIB

Daya Saing Naik, Ini Tantangan yang Masih Dihadapi Indonesia

Atikah Ishmah Winahyu | Ekonomi
Daya Saing Naik, Ini Tantangan yang Masih Dihadapi Indonesia

Thinkstock
Ilustrasi

 

INDONESIA menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang menunjukkan peningkatan terbesar berdasarkan IMD World Competitiveness ranking 2019. Dalam riset yang dilakukan oleh International Institute for Management Development (IMD) tersebut, daya saing Indonesia naik 11 peringkat dari posisi ke-43 pada 2018 menjadi 32 di tahun ini.

Pencapaian tersebut didukung oleh peningkatan efisiensi di sektor pemerintah serta kondisi infrastruktur dan bisnis yang semakin baik. Namun biaya tenaga kerja di Indonesia masih menduduki urutan terendah dari 63 negara lainnya yang diteliti oleh IMD.

Baca juga: Tiket Pesawat Mahal, Jalur Darat Jadi Pilihan

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi mengungkapkan pencapaian tersebut merupakan bukti bahwa Indonesia memiliki persepsi yang baik di mata dunia, terutama terkait infrastruktur, efisiensi pemerintahan, dan bisnis.

"Pemerintah sudah membangun persepsi yang baik terkait dengan pembangunan infrastruktur dan juga dari efisiensi pemerintahan yang juga berimbas pada efisiensi dari bisnis," kata Fithra Faisal Hastiadi kepada Media Indonesia, Jumat (31/5).

Namun, Fithra mengungkapkan, masih ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi Indonesia, yaitu kinerja perekonomian dan industri. Dia menilai, seharusnya Indonesia memanfaatkan momentum persepsi positif dari dunia ini dengan meningkatkan kinerja perekonomian serta industri melalui pembangunan infrastruktur yang telah dilakukan oleh pemerintah.

"Untuk memanfaatkan momentum dari kepercayaan internasional dengan ranking yang baik ini, kita juga harus kemudian mengarahkan infrastruktur nantinya ke arah industri, karena selama ini meski sudah dibangun infrastruktur dan beberapa hal terbukti meningkatkan transaksi perekonomian tetapi belum benar-benar mengangkat kinerja industri itu sendiri," terangnya.

Dia juga berharap pemerintah dan masyarakat dapat memanfaatkan besarnya jumlah penduduk produktif atau bonus demografi yang dimiliki Indonesia dengan baik sebelum berakhir pada 2030 mendatang.

"Kita sangat mengharapkan momentum bonus demografi yang mana itu akan hilang dalam waktu yang tidak terlalu lama ya, sekitar tahun 2030. Maka kita harus benar-benar memanfaatkan momentum tersebur," tuturnya.

Terkait jumlah upah tenaga kerja Indonesia yang dinilai paling murah dari negara lainnya, Fithra mengungkapkan, bahwa jika dibandingkan dari segi produktivitas, upah tenaga kerja Indonesia relatif mahal.

Baca juga: Aliran Modal Asing Tahun ini, Rp112,98 Triliun

Pertumbuhan produktivitas tenaga kerja di sektor manufaktur Indonesia masih sebesar 2-3%. Sementara pertumbuhan upah bisa mencapai 8-10% yang mana seharusnya prosentase upah hanya sebesar dua kali lipat dari tingkat produktivitasnya.

"Kalau dilihat dari nilai absolute mungkin kita murah, tapi kalau dibandingkan dari segi produktivitas kita relatif mahal. Sehingga kalau di sesama ASEAN saja, mereka produktivitasnya lebih tinggi," terangnya. (OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More