Kamis 30 Mei 2019, 23:55 WIB

Tanggal 29 Mei jadi Hari Pariwisata Gunung Internasional

Irana Shalindra | Weekend
Tanggal 29 Mei jadi Hari Pariwisata Gunung Internasional

AFP/GETTY IMAGES/NIMSDAI PROJECT
Antrean pendaki di puncak tertinggi dunia.

Kini, saban 29 Mei, para pegiat aktivitas pendakian gunung akan merayakannya sebagai Hari Pariwisata Gunung Internasional (International Mountain Tourism Day).

Tanggal tersebut dipilih lantaran pada tanggal serupa, 66 tahun silam, puncak tertinggi di dunia, Mount Everest, berhasil dijejaki untuk pertama kalinya oleh Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay. Pencapaian tersebut menjadi tonggak dimulai kegiatan pencapaian puncak-puncak gunung tinggi dunia dan awal pariwisata gunung, di Nepal pada khususnya.

Tahun ini, peringatan perdana Hari Pariwisata Gunung Internasional dihelat pada Rabu, 29 Mei, di Yak & Yeti Hotel Kathmandu, Nepal. Kegiatan itu diselenggarakan atas kerja sama International Mountain Tourism Alliance (IMTA), Guizhou Provincial People’s Government, Nepal Tourism Board (NTB), serta Nepal Association Of Tour & Travel Agents (NATTA) yang diikuti lebih dari 120 orang peserta dari 20 negara.

Dalam seremoni tersebut, ada sejumlah isu yang mencuat. Misalnya, bagaimana menggunakan sumber daya pariwisata gunung secara efektif dan berkelanjutan untuk mengurangi atau mengurangi kemiskinan di daerah pegunungan yang terbelakang. Kemudian, memastikan keselamatan dan penyelamatan pariwisata gunung, melindungi ekologi gunung, serta memahami dampak perubahan global pada pariwisata gunung dan menghasilkan langkah-langkah penanggulangan yang relevan sehingga hal tersebut dapat menjadi masa depan baru bagi pengembangan pariwisata gunung yang berkualitas tinggi.

Isu-isu tersebut menjadi amat relevan dengan fenomena pendakian Mount Everest tahun ini. Sedemikian masifnya jumlah pendaki di Sagarmatha pada musim 2019, menyebabkan antrean berkepanjangan pada trek pendakian. Padahal, pada area dengan kadar oksigen yang sedemikian tipis seperti di Everest, penambahan waktu pendakian 1-2 jam saja sama dengan bertaruh nyawa.

Pada musim mendakian tahun ini, tidak kurang dari 11 pendaki kehilangan nyawa. Sebagian besar saat perjalanan turun dari puncak. Musim inipun ditahbiskan sebagai salah satu musim pendakian Everest yang paling mematikan dan memantik protes dari para pelaku olahraga itu akan perlunya pengaturan kuota dan persyaratan untuk pendakian di Everest.

 

Potensi Indonesia

Pada peringatan tersebut, Indonesia berkesempatan menyampaikan informasi perihal pariwisata gunung di Nusantara. Delegasi Indonesia diwakili Kepala Bidang Wisata Petualangan Kementerian Pariwisata Kusnoto dan Wakil Ketua Tim Percepatan Wisata Petualangan Rahman Mukhlis.

Rahman yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia mengemukakan, Indonesia ialah surga wisata petualangan mendaki gunung karena memiliki potensi keindahan alam, keanekaragaman hayati dan budaya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Mulai dari kawasan hutan tropis, jajaran pegunungan berapi, sampai puncak gunung bersalju.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa para stakeholder pariwisata gunung di Indonesia siap mendukung dan bekerja sama dengan stakeholder lain dalam forum internasional untuk mewujudkan aktivitas pariwisata gunung yang lebih baik dan bermanfaat untuk dunia. (RO/M-2)

Baca Juga

Nokia

Dibanderol Rp1, 59 Juta, Nokia C3 Masuki Pasar Entry Level

👤Galih Agus Saputra 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 16:35 WIB
Di saat sama, Nokia juga merilis Nokia Power Earbuds...
FoxNews

Mau Adrenalin Jumpalitan? Jajal Wahana Rasa John Wick ini

👤Weekend 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 14:07 WIB
Roller coaster 4D tersebut akan hadir di Motiongate Dubai, awal...
MI/ARYA MANGGALA

Isyana Sarasvati dan Nadin Amizah Bersaing di AMI Awards

👤Fathurrozak 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 11:30 WIB
Isyana dan Nadin Amizah bersaing untuk kategori album terbaik...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya