Kamis 30 Mei 2019, 14:20 WIB

Mediasi tak ada Kesepakatan, Guaido Bersumpah Lanjutkan Protes

Tesa Oktiana Surbakti | Internasional
Mediasi tak ada Kesepakatan, Guaido Bersumpah Lanjutkan Protes

AFP
Pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido

 

PEMIMPIN oposisi Venezuela, Juan Guaido, bersumpah untuk terus melakukan aksi demonstrasi. Sebab, mediasi dengan sejumlah pejabat pemerintah di Nowergia tidak menghasilkan kesepakatan, untuk menyelesaikan krisis politik negara Amerika Selatan.

Dalam pertemuan di Oslo, Norwegia, delegasi oposisi berulang kali menyerukan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, agar segera mundur dari jabatannya. Dengan begitu, pemerintahan transisi dapat terbentuk, dan kemudian menyelenggarakan pemilihan presiden untuk mengakhiri krisis politik berkepanjangan.

Baca juga: RI-Thailand Sepakat Pembentukan Organisasi Antar-Pemerintah

Pada Januari lalu, Guaido mendeklarasikan diri sebagai presiden interim dengan meruju konstitusi Venezuela. Dia mengecam pemerintahan Maduro yang dianggap tidak sah, karena meraih kemenangan dalam pemilihan tahun lalu dengan curang. Pesta demokrasi tersebut menuai kritik luas.

Sebagian besar negara-negara Barat mengakui Guaido sebagai Presiden Venezuela yang sah. Akan tetapi, Maduro berulang kali menekankan dirinya tidak akan mundur. Dia pun mencela Guaido sebagai boneka Washington.

"Tidak ada kesepakatan yang dicapai. Jadi kesempatan yang kita punya adalah terus melakukan protes. Kami ingin mendapat solusi yang bisa mengakhiri konflik," ucap Guaido dalam wawancara dengan Fox Business Network.

Beberapa waktu lalu, pihak Guaido menyebut oposisi bersedia melanjutkan mediasi, selama terdapat syarat menuju kemajuan. Namun, kubu Guaido tidak akan menyingkirkan peta jalan untuk pemilihan umum (pemilu) baru.

Kementerian Luar Negeri Norwegia menyatakan utusan dari pemerintah dan oposisi telah menunjukkan keinginan untuk membuat beberapa kemajuan.

"Para pihak terkait memperlihatkan kesediaan mereka untuk bergerak maju, dalam mencari solusi yang dapat disepakati dan sesuai dengan konstitusi negara. Itu mencakup masalah politik, ekonomi dan pemilu," bunyi keterangan kementerian.

Dalam pernyataan resminya, Norwegian meminta kedua belah pihak untuk menunjukkan kebijaksanaan dalam komentar publik, sehingga tidak mengganggu proses negosiasi. Sementara itu, Maduro mengungkapkan pihaknya telah menyiapkan landasan untuk mediasi Norwegia, dalam pembicaraan rahasia selama berbulan-bulan. Sejumlah sumber oposisi menyebut adanya kontak dengan berbagai unsur pemerintah, terutama jelang pemberontakan militer pada 30 April lalu yang berakhir gagal.

"Satu-satunya solusi ke depan adalah dialog. Kami ingin terciptanya kesepakatan damai," tukas Maduro.

Kehancuran ekonomi domestik menyebabkan lebih dari 3 juta penduduk Venezuela pergi ke luar negeri dalam beberapa tahun terakhir. Protes politik pun kerap diwarnai kekerasan dan korban. Setelah agen intelijen menahan beberapa sekutu Guaido, Mahkamah Agung mendakwa 14 anggota parlemen opsisi telah melakukan kejahatan, termasuk pengkhianatan dan konspirasi.

Seperti diketahui, Norwegia memiliki tradisi panjang dalam mediasi konflik. Akan tetapi, upaya penyelesaikan krisis Venezuela tak ubahnya menjadi sepakbola geopolitik. Mengingat, puluhan negara Barat dan Amerika Latin mengakui Guaido, sementara Rusia dan Tiongkok mendukung Maduro.

Melalui akun Twitter, Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), Mike Pence, mengungkapkan dirinya telah berbicara dengan Guaido pada Rabu waktu setempat. Namun, dia tidak menyebutkan lebih rinci mengenai isi pembicaraan, termasuk mediasi Oslo.

Baca juga: PM Papua Nugini Resmi Mengundurkan Diri

"Kami mengatakan kepadanya (Guaido), bahwa AS akan terus berdiri bersama Venezuela sampai kebebasan dipulihkan! Rakyat Venezuela sudah lama menderita di bawah kediktaktoran dan penindasan. Nicolas Maduro harus mundur," kata Pence.

Masih kepada Fox Business Network, Guaido menjelaskan bahwa Pence telah menyatakan keprihatinan atas berhentinya layanan publik di Venezuela. Belum lagi krisis pasokan bahan bakar dan air bersih, hingga pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah. Seorang bawahan Guaido menyebut pembicaraan antara Guaido dan Pence berlangsung selama 45 menit. (Channelnewsasia/OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More