Hati-Hati dengan Amin

Penulis: Ronal Surapradja Pada: Rabu, 29 Mei 2019, 03:20 WIB celoteh
Hati-Hati dengan Amin

MI/PERMANA
Ronal Surapradja

BERULANG tahun itu artinya seharian telepon seluler kita akan terus berbunyi menandakan ada pesan atau telepon masuk. Tujuannya tentu saja mengucapkan selamat dan berdoa untuk kebaikan saya.

Di usia kepala empat ini saya rasakan kado dalam bentuk barang menjadi semakin tidak penting. Kado dalam bentuk ucapan doa lebih saya butuhkan. Banyaknya doa membuat saya merasa beruntung disayang banyak orang, hehe.

Perkataan adalah doa. Kita sebagai manusia sering kali didoakan dan mendoakan orang lain. Doa tersebut kita sampaikan bisa langsung ucapan dari mulut kita, atau melalui berbagai media, seperti SMS, Whatsapp, komentar di Instagram, dan mention di Twitter.

Setelah didoakan atau mendoakan, biasanya sebagai wujud respons agar doa dikabulkan Tuhan kita mengamininya dengan diucapkan atau dituliskan. Sayangnya, banyak yang tidak tahu atau mungkin tidak sadar tulisan kata untuk mengamini itu belum benar.

Ada yang menulis ‘Amin, Aamin, Amiin, dan Aamiin.’ Memang mirip sih secara tulisan, tapi jika diucapkan, terlebih jika tahu artinya, empat kata tadi sangatlah berbeda.

‘Amin’ artinya aman tenteram, ‘aamin’ artinya meminta pertolongan, ‘amiin’ artinya jujur, tepercaya, sedangkan ‘aamiin’ artinya kabulkanlah doa kami. Sebetulnya tidak ada arti yang jelek, tapi tentu saja dalam konteks menjawab doa yang paling tepat ialah ‘aamiin’.

Dalam setiap salat berjemaah di masjid ataupun di lapangan saat salat id, momen serentak mengucap ‘aamiin’ selalu membuat saya merinding. Saat semua mengucap, “Aamiin, Ya Allah kabulkanlah doa kami” menjawab imam selesai membaca doa yang terkandung dalam Al-Fatihah. Semacam ada getaran misterius yang menembus relung hati meruntuhkan pertahanan keakuan sebagai makhluk.

Tentang mengucap ‘aamiin’, saya punya pengalaman lucu. September 2016 untuk pertama kalinya saya salat id di luar negeri, sendirian pula. Pasalnya, malam sebelumnya saya menonton konser Elvis Costello di Esplanade Singapura. Beruntung saya bertemu dengan orang Indonesia lainnya dalam perjalanan menuju masjid. Seperti biasa ketika imam selesai membaca Al-Fatihah, kami pun menjawab ‘aamiin’ dengan lantang.

Ternyata di masjid besar itu hanya kami berdua yang mengucapkan ‘aamiin’ dengan keras. Jemaah lain entah menjawab dengan pelan, menjawab di dalam hati atau bisa jadi diam, yang saya ingat kami berdua merasa kikuk berada di sana, hehe.

Saya baca dari beberapa literatur selain sudah menjadi kebiasaan karena diajarkan sejak kecil, ada beberapa keutamaan membaca ‘aamiin’ ketika salat berjemaah. Pertama, menjadi sebab terampuninya dosa apabila ucapan ‘aamiin’ itu bersamaan dengan ‘aamiin’-nya para malaikat. Kedua, menjadi sebab terkabulnya doa.

Semoga kita tidak salah lagi dalam mengucap atau menulis ‘aamiin’ untuk menjawab sebuah doa, bukan ‘amin’, ‘aamin’, atau ‘amiin’.

Bagaimana dengan ‘amien’, karena ada juga yang suka menulis seperti itu kan? Penasaran saya googling. Hasilnya menyarankan sebisa mungkin untuk dihindari karena ucapan ‘amien’ ini lazim diucapkan oleh penyembah berhala. Wallahualam. (H-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More